Bertemu Otong Dari Binong

Bertemu Otong Dari Binong[1]

 

Desa Binong terletak di Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Jaraknya dari Jakarta sekitar 138 km ke arah timur. Ke sanalah Pak Harto memulai perjalanan Incognito

Seperti juga desa-desa lainnya di kawasan ini, Binong merupakan daerah pertanian yang subur dengan tanaman padi di sawah menghampar hingga beratus hektar. Itu sebabnya, pada masa itu kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat termasuk Desa Binong diakui sebagai lumbung padi nasional.

Sebagai seorang Presiden yang percaya bahwa mencukupi kebutuhan hidup rakyatnya adalah amanah paling utama, Pak Harto tentu berkepentingan dengan aktivitas pertanian di wilayah pemerintahannya. Itu pula yang melatarbelakangi Pak Harto untuk datang ke Binong pada kesempatan pertama perjalanan incognito pada 6 April 1970.

Pak Harto menemui Otong Suraliak di rumahnya yang terletak di tepi jalan Desa Binong (kini sudah dimekarkan dan menjadi Desa Tambak Dahan). Otong adalah sosok petani yang sukses. Setidaknya itu terlihat dari rumahnya yang sudah berdinding batu, di samping rumah terdapat lumbung padi yang besar serta lapang penjemuran padi yang luas. Benar saja, dengan disaksikan sejumlah anggota rombongan, Pak Harto akrab berbincang dengan Otong tentang banyak hal yang berhubungan dengan pertanian.

Rupanya Otong memang seorang petani berpengetahuan luas. Tak heran bila dalam perjalanan hidupnya di kemudian hari, Otong sering dilibatkan oleh Pemerintah dalam berbagai kegiatan penyuluhan dan pengembangan pertanian di tingkat lokal maupun Nasional. Bahkan pada tahun 1980-an Otong diutus oleh Pak Harto untuk membagi ilmu dan pengetahuannya kepada para petani di sebuah negara Afrika.

Sayang, waktu telah mengambil banyak dari dirinya. Otong yang kini telah berusia 90 tahun terduduk dengan mata berkaca-kaca dan tak lagi mampu berbicara karena stroke yang menyergapnya. Namun masih terasa getar emosinya ketika foto-foto pertemuan dengan Pak Harto diperlihatkan kembali. Ny. Endeh Siti Kulsum, istri Otong yang mendampingi pun berkisah bahwa beberapa hari sebelumnya mereka sudah diberi tahu oleh Solihin GP, Gubernur Jawa Barat kala itu, akan ada tamu dari Jakarta. Namun begitu mereka diminta tidak melakukan persiapan khusus guna menyambutnya. Dan ketika tahu bahwa tamu dari Jakarta itu adalah Presiden Soeharto, sungguh mereka tak sempat menyiapkan hidangan istimewa. Pecak ikan lele dan sayur jantung pisang yang diambil dari kolam dan kebun belakang menjadi teman nasi putih hangat sajian makan siang tamu istimewa. Pak Harto dan rombongan menyantapnya dengan penuh rasa syukur dan sukacita.**

_______________________________________________

[1]Mahpudi, “Incognito PAK HARTO, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya”, Jakarta : Yayasan Harapan Kita, hlm 5-6.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.