BERBAGAI CARA MASYARAKAT SAMBUT MUNDURNYA PRESIDEN SOEHARTO

BERBAGAI CARA MASYARAKAT SAMBUT MUNDURNYA PRESIDEN SOEHARTO[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Keputusan pengunduran Soeharto sebagai Presiden RI, Kamis (21/5) pagi disambut mahasiswa dan masyarakat dengan berbagai cara. Ada yang mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ada pula dengan teriakan yel-yel ‘Hidup Reformasi’.

Di Yogyakarta, ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kamis (21/5) sore berkumpul di Boulevard UGM melakukan sujud syukur bersama atas mundurnya Soeharto sebagai Presiden RI. Acara yang diikuti para mahasiswa yang selama ini aktif mengikuti aksi unjuk rasa, juga sejumlah warga dan dosen serta civitas akademika.

Tampak pula serombongan aktivis yang menggundulkan rambutnya sebagai tanda membayar nazar, jika Soeharto turun dari jabatan.

Setelah sujud syukur, sejumlah aktivis melakukan mimbar bebas di Boulevard. Dipilihnya tempat tersebut karena selama ini kegiatan akbar aksi mahasiswa di Yogya selalu berpusat di sana.

Jumat (22/5) pagi mahasiswa Universitas Islam Indonesia beserta civitas akademikanya juga melakukan sujud syukur di halaman Kampus Cik Di Tiro. Acara ini dipimpin langsung Rektornya H Zaini Dahlan.

Sedangkan di Ujungpandang, berbagai lapisan masyarakat berjingkrak-jingkrak begitu melihat dan mendengar pernyataan Soeharto berhenti sebagai Presiden melalui tayangan televisi. Sementara beberapa orang mahasiswa Unhas yang mengenakan jaket almamater warna merah, dengan cepat menaikkan bendera yang dikibarkan setengah tiang sebelumnya di depan Monumen Mandala Ujungpandang.

Sebagian masyarakat lainnya mengungkapkan kegembiraan di jalan dengan cara membunyikan klakson dan menyalakan lampu. Di samping itu, toko-toko maupun supermarket yang sehari sebelumnya tutup total, sudah mulai buka kembali meskipun belum semuanya.

Bandung Sepi

Di Bandung, situasi tampak lebih sepi pada hari Kamis (21/5) sesaat setelah Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan Presiden. Masyarakat juga berharap Presiden BJ Habibie penggantinya, akan bisa membawa negara dan masyarakat dalam situasi dan kondisi jauh lebih baik lagi.

Obrolan di warung kopi dan pasar tradisional serta di lorong-lorong maupun pinggir jalan yang direkam Pembaruan mengisyaratkan kegembiraan hati mereka menanggapi keputusan penting itu. Bahkan ada yang menyatakan telah melaksanakan sujud syukur. Ada juga yang menyatakan akan selamatan untuk kebaikan situasi dan pemerintahan pasca Soeharto.

Berbeda dengan kota-kota lain, di Semarang reaksi masyarakat terhadap berita pengunduran diri Presiden Soeharto terlihat biasa-biasa saja. Suasana di jalan-jalan dan kampung-kampung nampak normal seperti hari-hari biasanya. Ribuan mahasiswa dan masyarakat yang selama sepekan turun ke jalan, Kamis (21/5) yang bertepatan dengan hari libur nasional meliburkan aksi mereka.

Di kawasan Simpang Lima, hanya terlihat sekelompok pemuda membawa spanduk bertuliskan ‘Alhamdulillah, Presiden Mundur’. Tanpa aksi dan orasi, kelompok pemuda itu akhirnya membubarkan diri.

Di Purwokerto, ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta melakukan arak-arakan sepeda motor berkeliling kota Kamis (21/5) siang. Mereka menganggap, pengunduran diri Soeharto ini merupakan awal kemenangan perjuangan reformasi para mahasiswa yang dilakukan serentak di seluruh kota di Indonesia.

Banyak Diam

Sementara di Palu, suasana kota dan sekitarnya terutama jalan-jalan raya, Kamis (21/5), tampak sangat sepi dan lengang. Hal itu karena sebagian besar masyarakatnya lebih banyak diam di rumah dan larut di hadapan pesawat televisi guna menyaksikan berita-berita seputar pergantian Presiden RI.

Berdasarkan pemantauan Pembaruan, mas-mas jalan protokol seperti Jl. Sam Ratulangi, Sultan Hasanuddin, Jenderal Sudirman, Gajah Mada, Juanda dan Moh Hatta yang biasanya padat dengan kendaraan, sepanjang hari Kamis sangat sepi. Demikian juga pejalan kaki, nyaris tidak terlihat. Suasana terkesan seperti kota tak berpenghuni.

Dari Manado dilaporkan, sampai Jumat (22/5) pagi sejak dilantiknya Prof. Dr. BJ Habibie, sebagai Presiden RI ke-3 suasana kota dan sekitarnya tetap tenang. Banyak warga terlihat menyaksikan acara televisi dan tetap melakukan aktivitas termasuk ke tempat wisata. Namun beberapa kendaraan aparat keamanan terlihat terus mengelilingi beberapa mas jalan di Kota Manado untuk melakukan pengamanan.

Walikota Manado, Ir. Lucky Korah MSi, langsung mengeluarkan seman yang intinya meminta warga tetap tenang. Di samping itu harus terus memelihara kerukunan dan melakukan kewaspadaan dan menghindari bujukan-bujukan untuk melakukan pelanggaran. Warga, diingatkan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.

Di Palembang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Palembang melakukan sujud syukur dan membaca Al-Quran di dalam masjid Baitullrahman jl. Radial. Sedangkan mahasiswa Universitas IBA melakukan long march menelusuri sepanjang jalan di Kota Palembang.

Para mahasiswa yang berjalan terus meneriakkan yel-yel

“Hidup reformasi”, “Reformasi jalan terus ..”

Mereka juga mendatangi kantor redaksi surat kabar daerah untuk memberikan pernyataan sikap para aktivis mahasiswa Universitas IBA tersebut.

Sebagian warga kota, yang selama ini merasa takut akibat kerusuhan, langsung berubah menjadi tenang. Mereka dengan rasa aman kembali ke jalan-jalan dan suasana di Palembang kembali seperti sebelum terjadi kerusuhan.

“Saya sudah tenang. Saya akan membuka toko seperti. biasa lagi.” ujar Samiun (54) pedagang di pasar Lemabang.

Begitu juga para pedagang di pasar 16 Ilir akan berusaha pada Jumat pagi membuka tokonya kendati masih dengan keterbatasan.

Denpasar Konvoi

Di Denpasar, ratusan mahasiswa Universitas Udayana (Unud) melakukan konvoi keliling kota, setelah menyaksikan Soeharto berhenti dari jabatannya sebagai Presiden RI, Kamis (21/5). Konvoi dilakukan sebagai luapan kegembiraan mereka, karena perjuangannya selama ini tercapai.

“Hidup reformasi, hidup reformasi. Bapak-bapak tidak usah takut dan jangan tutup toko, kami hanya melakukan aksi damai.” teriak mahasiswa yang konvoi sehingga pemilik toko dan warung mengurungkan niatnya tutup toko dan berbalik berjejer di pinggir jalan sambil meneriakkan hidup reformasi.

Menarik dalam konvoi yang dilakukan mahasiswa itu adalah dalam perjalanan bertemu polisi beberapa dari mereka turun dan menyalaminya. Sikap mereka juga disambut baik polisi yang bertugas sehingga tidak lagi ada rasa ketegangan seperti ketika mereka melakukan aksi-aksi keprihatinan selama ini.

Di Bengkulu, seluruh mahasiswa dari PTN dan PTS di Bengkulu, Kamis (21/5) sedianya akan melanjutkan aksi mimbar bebas dan juga berpawai sebagai lanjutan aksi yang digelar Rabu (20/5) lalu. Namun acara itu batal, diganti menyambut mundurnya Presiden Soeharto.

Pada hal sepanjang jalan protokol seperti pusat-pusat pertokoan dan pasar tradisional, telah dijaga ketat oleh petugas agar para mahasiswa tidak sampai memasuki kawasan tersebut.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (22/05/1998 )

___________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 927-930.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.