BENAHI SISTEM DISTRIBUSI AGAR INFLASI RENDAH

BENAHI SISTEM DISTRIBUSI AGAR INFLASI RENDAH[1]

 

Jakarta, Antara

Pakarekon,omi Prof. Dr. Arsjad Anwar menilai, upaya pemerintah untuk menekan angka inflasi hingga mencapai enam persen pada tahun 1997 harus disertai dengan pembenahan sektor riil terutama di tingkat distribusi.

Dari sisi penawaran, kataArsjad mengingatkan, di Jakarta, Senin, pengaruh inflasi tidak hanya dipengaruhi oleh produksi serta impor barang dan jasa, tetapi juga sejauh mana kelancaran sistem distribusinya.

Prof. Arsjad mengemukakan itu menanggapi target inflasi yang dipatok pemerintah pada 1997 sebesar enam persen, sebagaimana dikemukakan Presiden Soeharto saat menjelaskan RAPBN 1997/1998 di DPR 6 Januari lalu.

Berdasarkan pengalaman dalam tahun-tahun terakhir ini, menurut dia, angka inflasi sering kali didongkrak oleh ketidakefisienan di sektor distribusi.

Lihat saja kasus harga cabe yang melonjak tajam pada awal tahun ini. Belum lagi kelangkaan semen yang seringkali membuat harganya naik tajam.

Selama tahun lalu memang sektor makanan mendapat porsi terbesar sebagai faktor yang mempengaruhi laju inflasi peri ode tersebut.

“Untuk itu saya mengharapkan agar sektor makanan mendapat perhatian serius. Terutama mengenai kelancaran distribusinya.” Kata Arsjad Anwar.

Meskipun begitu ia mengakui bahwa sektor moneter dapat mempengaruhi laju inflasi. Namun selama ini pengelolaan moneter sudah sangat berhati-hati, sehingga kontribusinya terhadap inflasi tidaklah terlalu signifikan.

Jika melihat beberapa kebijakan di bidang perbankan, misalnya, kenaikan cadangan wajib minimum perbankan beberapa waktu lalu, memang terkesan bertolak belakang dengan keinginan menurunkan suku bunga bank.

Namun secara makro dampaknya cukup besar untuk menahan angka inflasi agar tidak naik.

“Karena dengan kebijakan itu otomatis ikut mengurangi peredaran uang.” katanya.

Realistis

Mengenai target inflasi enam persen, ia berpendapat, masih cukup realistis.

“Wajar saja jika pemerintah menekan inflasi serendah mungkin karena ingin mendorong laju pertumbuhan ekonomi.” ujarnya.

Target inflasi ini berarti sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi angka inflasi tahun 1996 sebesar 6,47 persen.

Prof. Arsjad tetap optimis target inflasi enam persen selama 1997 dapat tercapai asalkan berbagai indikator dan faktor ekonomi yang disebutkan tadi dapat berjalan sesuai dengan keinginan.

Ia tidak begitu khawatir terhadap kemungkinan pengaruh faktor politik menjelang Pemilu 1997 terhadap inflasi. Ia mengakui, dalam pelaksanaan Pemilu nanti pasokan uang akan lebih besar ketimbang biasanya.

Namun dari pengalaman pelaksanaan Pemilu yang lalu, hal itu tidak terlalu besar pengaruhnya.

Kalaupun ada sedikit lonjakan angka inflasi, kemungkinan terjadi pada saat bulan puasa dan Hari Raya Lebaran pacta Januari hingga Februari ini.

Jika dua bulan itu angka inflasi bisa dilampaui dengan angka inflasi rendah, maka pencapai target enam persen untuk tahun 1997 tidaklah terlalu sulit, katanya.

Sumber : ANTARA (13/01/1997)

___________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 215-216.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.