BEKAL NASIHAT DARI PRESIDEN

BEKAL NASIHAT DARI PRESIDEN

 

 

Jakarta, Suara Karya

AMAT bijaksana nasihat-nasihat yang diberikan Presiden Soeharto kepada Gubernur Bengkulu, Razie Yachya, sebagai bekal memulai jabatannya. Apa yang disampaikan Presiden merupakan pedoman tingkah laku, sikap, dan tindakan yang seyogyanya dipegang seorang pejabat dalam melaksanakan tugasnya.

Meskipun nasihat tersebut berupa kata-kata mutiara dalam bahasa Jawa, tetapi. Kebijaksanaannya kiranya berlaku secara universal.

SEORANG pejabat dinasihatkan agar jangan kebat keliwat, artinya kurang lebih, “jangan bersikap dan bertindak berlebihan “. Kecenderungan untuk bersikap kebat keliwat ini memang mudah muncul pada diri seorang pejabat, khususnya yang baru menduduki suatu jabatan tinggi. Adalah manusiawi kalau seseorang merasa bangga atas penunjukan dirinya sebagai pejabat, sebab penunjukan itu berarti suatu penghargaan atau pengakuan terhadap kemampuan dan prestasinya. Keyakinan dirinya akan bertambah besar. Ini wajar.

Tetapi, sering kali di samping memberikan kebanggaan dan keyakinan diri, penghargaan juga mudah membuat seseorang membusungkan dadanya. Aku-nya membengkak, dan aku orang lain mengecil. Batas-batas aku-nya meraksasa, menyempitkan batas-batas aku orang sekitarnya. Aku orang lain dipandang terlalu kecil untuk diperhatikan. Aku-nya sendiri yang harus menjadi pusat perhatian, bahkan dijadikan dasar pedoman bagi orang lain.

Dari sini muncullah sikap machiavellis dan bahkan bisa mengarah menjadi diktatorial, mau menangnya sendiri, mengabaikan hak dan kepentingan orang lain. Pejabat yang demikian akan membawa kesengsaraan bagi masyarakatnya, karena ia tidak mengabdi kepada kepentingan masyarakat, tetapi memaksa masyarakat mengabdi kepada kepentingan dirinya.

Pejabat demikian juga akan mudah terjebak pada godaan-godaan drajat, semat, wanita. Dengan segala cara ia akan mengejar suatu kedudukan, menumpuk harta seolah-olah tidak pernah merasa puas, dan bermain wanita. Ia akan bersikap mumpung, memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengumpulkan kekayaan, termasuk menyelewengkan uang negara dan uang rakyat. Ketiga godaan yang dapat menjatuhkan seorang pejabat ini, ditekankan oleh Presiden agar dihindari.

DALAM melaksanakan tugasnya Presiden juga berpesan agar seorang pejabat bersikap alon-alon waton kelakon. Secara harafiah alon-alon waton kelakon berarti pelan-pelan asal terlaksana atau tercapai. Di sini tentu saja yang dimaksud Presiden bukanlah agar para pejabat bertindak lamban dan malas, melainkan agar mereka bertindak sabar, sebab pembangunan berarti pembaharuan. Untuk dapat melaksanakan pembaharuan sering kali memang diperlukan kesabaran. Karena untuk bisa menerima pembaharuan tersebut masyarakat harus diajak belajar memahami nilai­nilai baru, melihat manfaat yang dapat dipetik dari hal-hal baru tersebut, kemudian menyesuaikan sikapnya.

Baru sesudah itu masyarakat akan dapat diajak berpartisipasi, ikut melaksanakan program pembangunan, program pembaharuan. Ketidaksabaran dalam hal ini justru akan bisa berdampak negatif.

Misalnya, masyarakat yang mengharamkan riba akan langsung bersikap menentang kalau dipaksa membentuk koperasi simpan pinjam. Mereka perlu diberi penjelasan tentang bedanya riba dan sistem koperasi simpan pinjam, yang hasilnya dinikmati bersama.

Ketidaksabaran untuk memberikan penjelasan dan menanamkan pengertian ini yang sering menimbulkan hambatan terhadap keberhasilan pelaksanaan pembangunan.

Kiranya, kalau nasihat-nasihat Presiden untuk tidak bertindak kebat keliwat, menghindari godaan drajat, semat, dan wanita serta bersikap sabar, alon-alon waton kelakon, dipatuhi para pejabat kita dalam melaksanakan tugasnya, kita akan mempunyai pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

 

 

Sumber : SUARA KARYA (09/08/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 285-286.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.