BEBERAPA PENEGASAN PRESIDEN

BEBERAPA PENEGASAN PRESIDEN

Pada beberapa peristiwa terpisah, Presiden Suharto telah menandaskan kembali beberapa prinsip politik kita yang mempunyai ciri khas dan penting adanya. Di situ orang dapat menelaah kembali jalan fikiran bangsa kita dan persepsinya yang sejati mengenai masalah-masalah politik kebangsaan dan hubungan luar negeri.

Di depan sidang pembukaan Muktamar Mass Media Islam Internasional di Jakarta, Senin pagi, Presiden mengemukakan bahwa

"negara kami bukan negara agama. Artinya: negara kami tidak didasarkan atas sesuatu agama. Namun negara kami juga bukan negara sekuler. Yang dibangun di atas dasar falsafah negara dan ideologi nasional yang kami namakan Pancasila."

Pengemukaan inibukan sesuatu ulangan verbal, terutama jika dilihat dari sudut kita sendiri. Tapi suatu penegasan bagi dunia internasional bahwa Indonesia mempunyai prinsip tentang masalah agama dan kepercayaan dan hendaknya hubungan-hubungan internasional terutama dari dunia Islam dengan Indonesia harus diperhitungkan kepada penghormatan terhadap prinsip-prinsip tersebut.

Penegasan ini sudah tentu berguna sekali sehubungan dunia Islam dengan Indonesia masih berlangsung dalam visi yang belum meresapi kenyataan ini sehingga telah melahirkan hambatan kejiwaan padajalan hubungan luar negeri selama lebih satu dasawarsa belakangan ini. Penyelenggaraan Muktamar Mass-Media Islam Internasional yang pertama di Jakarta adalah langkah pertama untuk melenyapkan hambatan kejiwaan itu. Ini suatu kenyataan yang penting artinya bagi kita semua.

Dalam pidato di depan muktamar Presiden juga menegaskan kembali ketegasan sikap Indonesia untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina. Indonesia juga berdiri di pihak Arab dalam perjuangan pembebasan Palestina, menentang pencaplokan Yerusalem oleh Israel untuk dijadikan ibukotanya.

Penegasan ini sudah tentu harus dipisahkan dari pertimbangan-pertimbangan teknis yang menyangkut pembukaan perwakilan PLO di Jakarta. Karena sementara masalah pembukaan perwakilan PLO itu masih harus disesuaikan dengan syarat-syarat tertentu yang perlu di jajagi lebih mendalam, penegasan Presiden itu harus ditangkap lebih inheren dengan tekad politik bebas aktif kita yang anti imperialisme.

Kita menentang perampokan Israel atas wilayah-wilayah Arab dan menuntut pengembaliannya tanpa syarat. Kitajuga sangat tertusuk perasaan dengan tindakan Israel yang menggagahi status Yerusalem sebagai ibukota spirituil dari agama-agama besar di dunia.

Presiden melihat bahwa Islam harus diperjuangkan sebagai tujuan yang membawa rahmat bagi dunia dan umat manusia. Ini mempunyai isi dan makna yang harus dibentuk pada pengalaman nasional kita juga, di mana Islam mempunyai posisi yang vital dalam membentuk kekuatan rohani dan kekuatan hidup bangsa kita.

Yang dipikirkan Presiden ialah agar bagaimana fungsi rohani agama membimbing kehidupan manusia untuk bertindak dan berpikir arif dan kreatif dalam memecahkan berbagai masalah. Ini suatu pesan yang perlu diperbaharui dalam tekad mengembangkan tujuan agama dalam kehidupan masyarakat kita.

Dalam kaitan itu Presiden mengingatkan kembali fakta fakta yang terbentang dalam kehidupan dunia. Yakni adanya ketidakadilan dan perjuangan untuk melenyapkannya. Gagasan-gagasan iman, nilai nilai keyakinan serta prakarsa-prakarsa kongkritnya, harus dikerahkan untuk membentuk gerak perjuangan itu.

Islam dan kegiatannya dalam media massa perlu dikonsolidasikan untuk menentang ketidakadilan, yang berlaku dalam berbagai jalur kepentingan kehidupan manusia. Jika itu tidak diperhatikan dan digerakkan, kesengsaraan dan bencana akan menimpa kita semua.

Pada kesempatan lain, tatkala membuka sidang Organisasi Antar-Parlemen Asia, AIPO, Presiden juga mengetengahkan kembali dengan tegas salah satu aspek politik luar negeri yang penting. Khususnya mengenai ASEAN. Menilai kembali berbagai langkah yang sudah ditempuh dalam mewujudkan kerangkakerangka politik ASEAN, Presiden menegaskan kembali bahwa walau himpunan regional ini telah menjadi kenyataan dan kekuatan yang harus diperhitungkan, namun ASEAN tidak boleh disiapkan untuk tujuan-tujuan menghadapi negara lain atau kelompok negara manapun.

Dengan kata lain Presiden ingin menekankan kembali kerarifan yang dianut Indonesia mengenai ASEAN himpunan ini tidak boleh dikembangkan menjadi alat konfrontasi. Peringatan ini penting. Karena pada akhir akhir ini semangat ASEAN seakan akan dikipas dengan suatu suhu tertentu untuk memberi arti yang lain kepada wawasan pokoknya yang memihak perdamaian, kenetralan dan kemerdekaan.

Barangkali karena memang demikian bukanlah yang dicita-citakan bersama mengenai ASEAN, Presiden perlu mengeluarkan sikap itu. Pada dasarnya ia merupakan

pengumandangan kembali aspirasi yang sehat dari pengembangan ASEAN, sesuai dengan kiprahnya yang sejati. Yang perlu terus menerus diperingatkan dan diperhatikan, agar kekuatan regional ini dapat ditumbuhkan menjadi suatu faktor yang konstruktif dalam kehidupan Asia Tenggara.

Dari penegasan-penegasan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Presiden menaruh perhatian besar terhadap pembangunan politik luar negeri. Agar supaya ia sehat. Agar supaya ia konsisten dengan landasan, garis dan arah yang sudah ditentukan. Agar supaya ia tidak menjadi suatu anakronisme dan kontroversi.

Pada hakekatnya penegasan-penegasan itu mempersegar kembali ingatan kita bahwa banyak lagi yang perlu kita lakukan untuk menyatukan prinsip dan langkah dalam realisasi berbagai garis politik kita, dalam dan luar-negeri. (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (03/09/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 626-628.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.