BATAS, PERSENTASE DAN JUMLAH PENDUDUK MISKIN 1976-1996

BATAS, PERSENTASE DAN JUMLAH PENDUDUK MISKIN 1976-1996[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Pada pendataan awal diketahui lebih dari 50 persen keluarga di Indonesia perlu mendapat dukungan untuk memberdayakan dirinya sendiri menjadi keluarga makin sejahtera secara mandiri .

Karenanya, pembangunan dengan wawasan keluarga dan penduduk makin dimantapkan dan diusahakan dengan lebih sungguh-sungguh. Keluarga yang telah berhasil diajak membantu keluarga lain yang masih tertinggal.Misalnya, melalui kegiatan pengentasan kemiskinan yang sederhana seperti lantainisasi, dan usaha ekonomi produktif keluar ga,Antara lain lewat kelompok UPPKS.

 

Indikator

Berkaitan dengan laporan UNDP, Haryono Suyono menjelaskan , dengan dimasukannya indikator Indeks Kemiskinan Manusia (HPI) pada laporan UNDP tersebut, maka mulai tahun ini negara kita harus memperhatikan unsur pokok yang menjadi dasar penilaian atau pengukuran yang berkaitan dengan kemiskinan penduduk.

Dalam penilaian HPI, ada tiga indikator kemiskinan karena alasan ekonomi penduduk. yakni akses terhadap air bersih, kualitas pelayanan kesehatan, dan anak Balita dengan berat badan rendah atau berat di bawah normal.

“Ketiga indikator tersebut menjadi dasar penilaian pokok UNDP. Indonesia juga mempunyai indikator sendiri dalam penilaian tingkat kemiskinan penduduk. Masing­-masing dapat digunakan sebagai patokan,” ujarnya.

Mengenai perbedaan indikator yang dipakai UNDP dan pihak Indonesia, Haryono Suyono mengatakan tidak perlu dipermasalahkan, malah justru dapat menjadi masukan berharga. Dengan adanya laporan UNDP itu, menurutnya, dapat diketahui posisi negara kita eli antara bangsa-bangsa lain.

“Dengan laporan tersebut kita dapat meningkatkan  diri dalam pelayanan kepada masyarakat. Atau sebaliknya dapat memberi masukan kepada badan dunia tersebut bahwa kita mempunyai beberapa program berkaitan dengan kesehatan yang luput dari perhatian, seperti pelayanan KB, posyandu dan bidan desa, yang di negara lain belum temu ada,” jelasnya.

Berdasarkan data yang disebarkan pihak UNDP ke seluruh dunia, di banding negara-negara tetangga, Indonesia mengalami banyak kemajuan. Dalam segi pelayanan kesehatan misalnya, negara kita jauh lebih baik dari Thailand, Filipina, Vietnam. Laos, dan  Kamboja.

Demikian pula dalam akses memperoleh air bersih, Indonesia lebih baik dibandingkan Vietnam, Laos, Kamboja. dan Papua New Guinea. Namun lebih buruk bila dibandingkan dengan Singapura, Thailand , Filipina dan Malaysia. Dalam kaitan ini UNDP tidak memasukkan air sumur dan sungai sebagai air bersih. Ukuran air bersih di sini hanya air olahan yang disalurkan melalui pipa dan terkontrol.

Dalam daftar urutan Indeks Kemiskinan Manusia (HPI), Indonesia berada di bawah lima negara ASEAN yakni Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Ukuran HPI lainnya adalah usia harapan hidup sampai 40 tahun dan tingkat melek huruf orang dewasa.

UNDP memakai data antara tahun 1990 sampai 1996, bahkan untuk indikator usia harapan hid up hanya berdasarkan data tahun 1990. Menurut Haryono Suyono, pada tahun 1996/1997 Indonesia mengalami peningkatan dalam berbagai bidang, namun belum sempat terdata oleh UNDP.

“Kita harapkan data-data terbaru yang kita miliki menjadi masukan bagi UNDP, sehingga posisi kita meningkat. Paling tidak, kita dapat melakukan perencanaan dan perbaikan-perbaikan agar dapat menyesuaikan diri dengan standar dunia,” ujarnya.

Dijelaskan , dalam Indeks Pembangunan Manusia (HDI) pengukurannya mencakup penduduk kaya maupun miskin. jadi hanya diukur rata-ratanya. Sedangkan dalam lndeks Kemiskinan Manusia (HPI) yang baru ini dapat diketahui langsung konelisi penduduk miskin.

Dalam HPI, 25 negara tertinggi rankingnya adalah Trinidad dan Tobago, Kuba, Chile, Singapura, Costa Rica, Colombia, Mexico, Jordania, Panama, Uruguay, Thailand,Jamaica,Mauritius, UAE, Ekuador, Mongolia, Zimbabwe, China, Filipina, Republik Dominika, Libya, Sri Lanka, Indonesia, Syria, dan Honduras. (W-8/S-26)

Sumber: SUARA PEMBARUAN (03/07/1997)

__________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 803-805.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.