BAPAK PEMBANGUNAN

BAPAK PEMBANGUNAN

Statement politik Golkar DKI Jakarta yang disampaikan oleh Ketua DPD Golkar Jakarta H. Achmadi pada upacara peringatan HUT Golkar ke-17 bertempat di Balai Sidang Senayan Jakarta, kemarin, tanggal 20 Oktober 1981 siang, menyatakan kebulatan tekad Golongan Karya DKI untuk mengusulkan kepada sidang MPR mendatang melalui Pimpinan Pusatnya, supaya Presiden Soeharto diberi gelar "BAPAK PEMBANGUNAN".

Usul gelar "BAPAK PEMBANGUNAN" bagi Presiden Soeharto pada hakikatnya sudah terlebih dulu disampaikan oleh pihak2 lain dari berbagai daerah, termasuk resolusi Musyawarah Pemuda Ansor, Pepabri, AMPI dsb.

Namun agak berbeda dengan resolusi yang lain2 itu, statement politik Golkar DKI Jakarta kemarin itu dituangkan dalam naskah setebal 8 halaman folio yang menguraikan argumentasi2 lengkap mengapa Golkar sampai pada kesimpulan untuk mengusulkan gelar tersebut.

Antara lain diungkapkan bahwa mission Orde Baru adalah melakukan perombakan besar, koreksi besar terhadap sikap mental bangsa kita mengenai kesetiaan pada ideologi-nasional Pancasila, sikap mental terhadap sistem politik yang setia melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen serta sistem kepemimpinan nasional kita.

Dimulai dari perlunya disederhanakan jumlah partai politik, serta diharuskannya setiap kekuatan politik atau organisasi politik mencantumkan pada AD-nya, Pancasila sebagai dasar dan asas organisasi masing2, sistem kepemimpinan yang mendudukkan Presiden pada fungsinya sesuai dengan ketentuan UUD 1945 ialah sebagai Kepala Negara dan sebagai Kepala Pemerintah (Kabinet) yang dipilih 5 tahun sekali serta bertanggungjawab kepada MPR, dan bekerja melaksanakan GBHN selaku mandataris MPR.

Presiden Soeharto dinilai telah berhasil dalam memimpin pelaksanaan perombakan besar tersebut, sehingga dengan perombakan itu Indonesia mencapai suatu kemampuan yang lebih daripada zaman2 silam, sehingga politik luar negeri kita yang Bebas dan Aktif dapat ditegakkan kembali.

Di zaman Orde Lama kita makin menjauhi pergaulan dunia sampai kita keluar dari PBB, dan terseret masuk ke Kubu Blok Komunis bahkan dianggap seolah-olah mendirikan Poros Jakarta-Peking.

Orde Baru telah memulihkan peranan Bebas Aktif tersebut, Indonesia masuk kembali ke dalam PBB, bersahabat kembali dengan negara2 Blok Non-Komunis. Langkah ini sudah tentu menyakitkan hati negara2 blok Komunis yang ingin supaya Indonesia terperangkap ke dalam Blok Komunis, sehingga RRC melakukan propaganda hasutan di kawasan Afrika diajak memusuhi Indonesia.

Akibatnya tatkala Timor-Timur menggabungkan diri ke Indonesia, banyak negara2 Non Blok khususnya di Afrika menilai pengintegrasian Tim-tim itu sebagai politik expansi. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Pengintegrasian Tim-tim adalah kehendak penduduk Tim-tim sendiri, yang ingin melepaskan diri dari jajahan Portugis. Kasus ini sama dengan langkah republik India zaman PM Jawaharlal Nehru dulu pada tahun 1962 yang merebut daerah Goa di pantai India bekas jajahan Portugis juga. Tim-tim dalam pengertian geografi maupun kultural dalam pengertian sejarah adalah keluarga Indonesia sejak zaman kerajaan maritim Sriwijaya dan Majapahit abad ke-7 sampai 16.

Untuk perjuangan menggabungkan Tim-tim kedalam wilayah kekuasaan RI, maka Pemerintah Orde baru hanya bekerja 9 bulan dan perjuangan itu sukses. Sedangkan di zaman Orde Lama dulu kita berjuang merebut Irian Jaya melalui jangka waktu tahunan.

Pada zaman silam kita mati2an gandrung pada kerukunan Bangsa2 di Asia Tenggara, sehingga kita berjuang mendirikan Maphilindo tetapi tak berhasil. Sementara itu Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto malah dalam tempo relatife lebih singkat telah berhasil mewujudkan kerukunan Bangsa2 Asia Tenggara itu dalam bentuk ASEAN yang timbul dan berkembang pesat sehingga menimbulkan simpati dan penghargaan dunia luar termasuk MEE, Masyarakat ekonomi Eropa yang dalam lubuk hatinya kurang senang melihat kelahiran ASEAN.

Tentu masih banyak yang dapat direkam apa saja kemajuan yang kita capai sejak lahirnya Orde Baru 1966 khususnya dimulainya Pelita I tahun 1969 di semua bidang dan semua sektor kehidupan bangsa. Yang terutama ialah keberhasilan Orde baru mengubah sikap mental zaman silam yang mengakibatkan perpecahan bangsa bertahun2 hingga tak sempat membangun ialah semangat kerja keras dan berpedoman pada program. Sehingga jiwa membangun tersebut lambat atau eepat akan menjadi kultur bangsa kita menjadi membudaya.

Atas dasar analisa2 tersebutlah maka Presiden Soeharto diusulkan untuk diberi gelar BAPAK PEMBANGUNAN.

Sebagai orang awam kita melihat sejarah bangsa Indonesia ini dengan harapan besar. Apabila Bung Karno dan Bung Hatta kita kenaI dan kita hormati sebagai Proklamator Kemerdekaan maka memang suatu hal yang wajar apabila sekarang orang mengusulkan Presiden Soeharto sebagai BAPAK PEMBANGUNAN.

Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto dalam usianya yang relatif masih singkat ini, telah berhasil melaksanakan pembangunan Pelita demi Pelita sehingga angka pertumbuhan ekonomi kita tahun ini menjadi 9,6 pct dari penduduk Indonesia dalam tahun 1969 (awal Pelita) pada saat sekarang tahun 1981 jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan itu tinggal 30 pct.

Bahkan ahli2 Barat telah menilai Indonesia sebagai salah satu negara yang berhasil membangun, dan bahkan pada tahun 1981 ini Indonesia disebut2 sebagai negara paling kaya. diantara yang miskin. (DTS)

Jakarta, Berita Buana

Sumber: BERITA BUANA (21/10/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 190-192.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.