BANYAK PENGUSAHA BESAR BELUM SADAR KEMITRAAN

BANYAK PENGUSAHA BESAR BELUM SADAR KEMITRAAN[1]

 

Jakarta, Antara

Banyak pengusaha besar yang belum sadar benar melakukan kemitraan usaha dengan pengusaha kecil dan koperasi, meski demikian pemerintah tetap menilai belum perlu membuat peraturan yang mewajibkan kemitraan itu.

“Dari pihak pengusaha besar perlu diakui ada beberapa yang sampai sekarang itu belum sadar, dan karena itu terus disadarkan agar bisa mengikuti yang sudah melakukan kemitraan. Dan ada juga yang belum bermitra karena kondisi perusahaan yang memprihatinkan.” kata Ketua Badan Pengurus Kemitraan Deklarasi Jimbaran, Sudwikatmono di Jakarta, Rabu.

Sudwikatmono mengemukakan hal itu dalam konferensi pers menyambut satu tahun Gerakan Kemitraan Usaha Nasional (GKUN) yang acaranya akan dipusatkan di Istana Bogor pada Kamis (15/5) dalam suatu Temu dan Konvensi Nasional Kemitraan Usaha 1997.

Konperensi pers yang dipimpin Menkop/PPK, Subiakto Tjakrawerdaya itu dihadiri juga oleh juru bicara konglomerat Sofyan Wanandi serta Diljen Pembinaan Pengusaha Kecil, Anwar Supriadi.

Mengenai pelaksanaan kemitraan usaha yang sudah dilaksanakan 46 grup perusahaan besar yang tergabung dalam kelompok Jimbaran itu, Sudwikatmono mengakui masih ada beberapa grup yang belum merealisasikan komitmennya karena berbagai sebab.

“Ada yang beralasan perusahaannya kurang sehat, tapi ada juga yang ‘cuek’, tidak peduli.” katanya.

Terhadap anggota yang masih belum peduli itu, katanya, akan terus dilakukan pendekatan-pendekatan, baik itu secara langsung dengan mengajak mereka berpartisipasi menghadiri acara satu tahun GKUN yang juga akan dihadiri Presiden Soeharto, atau dengan cara pendekatan persuasif.

“Biasanya kalau dibilang Presiden Soeharto akan hadir, mereka baru niat, seperti ‘kumat’ mau bermitra tapi setelah ditagih-tagih alasan yang dikemukakan macam­-macam.” katanya.

Hingga saat ini, Kelompok Jimbaran mempunyai komitmen untuk melakukan kemitraan dengan pengusaha kecil dan koperasi senilai Rp 2,951 triliun, namun baru direalisasi Rp 1,18 triliun.

Ketika ditanya nama-nama perusahaan yang “cuek” itu, Sofyan Wanandi tidak bersedia menyebutkan, karena kurang etis namun jika mereka tetap membandel maka terpaksa Kelompok Jimbaran akan menyebut nama-nama yang belum merealisasikan komitmennya.

Belum Perlu Peraturan

Sementara itu, Menkop/PPK Subiakto Tjakrawerdaya mengatakan, pemerintah tetap menilai belum perlu suatu peraturan yang mewajibkan perusahaan besar melakukan kemitraan dengan pengusaha kecil dan koperasi.

Pemerintah, lanjutnya, tetap akan melakukan pendekatan-pendekatan yang khas Indonesia, yaitu selalu menghimbau dan membuat deklarasi, karena sudah terbukti hasilnya dalam meningkatkan kesadaran.

“Jadi anda jangan pakai pendekatan di Amerika, itu keliru, apalagi jika belum sama persepsinya.” katanya.

Ia mengakui memang pernah terbersit untuk membuat suatu peraturan, namun belajar dari pengalaman, dimana sudah ada peraturan namun “law enforcement” (pelaksanaannya) tidak, akhirnya basil maksimal juga tidak tercapai.

“Ngomong peraturan itu gampang, tapi tidak akan efektif kalau tidak ada ‘enforcement’, jadi yang penting itu adalah kesadaran. Kalau semua pengusaha besar sadar betul, sebetulnya tidak: perlu peraturan, dan akan berjalan sendirinya, serta akan lebih efesien dari pada peraturan tapi pengusahanya tidak punya kesadaran.” katanya.

Dalam kesempatan itu, Sofyan juga mengemukakan hambatan yang ditemui dalam merealisasikan kemitraan oleh Kelompok Jimbaran.

Menurut dia, dalam pelaksanaan di lapangan masih banyak benturan yang terjadi karena kurangnya pemahaman oleh tingkat pelak:sana di bawah.

“Banyak komitmen yang sudah bagus di atas yang tidak dimengerti oleh tingkat pelaksana di bawah dan itu perlu diperbaiki. Pelaksana di bawah juga perlu komitmen yang sama.”

Sumber : ANTARA (14/05/1997)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 359-361.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.