BANGUNAN POLITIK KEKELUARGAAN

Tajuk Rencana

BANGUNAN POLITIK KEKELUARGAAN

PRESIDEN SOEHARTO mengatakan dengan menarik, mengenai BANGUNAN POLITIK yang berdasar asas Kekeluargaan, ketika Selasa pagi kemarin menutup Penataran P4 Tingkat Nasional di Jakarta. Menurut Presiden, bangunan-politik, ekonomi dan sosial harus benar2 dijiwai oleh cita-citake keluargaan yang merupakan ciri dan corak budaya bangsa Indonesia. Karena itu, kerangka Pancasila tidak memberi tempat bagi paham individualisme dan liberalisme maupun diktatorisme.

Cita kekeluargaan akan membimbing untuk lebih mementingkan kesejahteraan bersama daripada kesenangan pribadi, lebih memperhatikan kewajiban daripada menuntut hak, lebih mengutamakan melalui pendapat melalui musyawarah dari pada mengadu suara untuk mencari menang.

Berkata Presiden Soeharto lebih jauh: “Cita-kekeluargaan menuntut kita menumbuhkan semangat persatuan dan kebersamaan, sikap tenggang-rasa dan setiakawan, sikap tolong-menolong dan gotong-royong.”

Amanat Presiden tersebut sungguh memberi kesegaran pada kita masing2 mengenai cita-kekeluargaan sebagai salah satu ciri budaya bangsa kita. Membiarkan partai-politik tumbuh ratusan jumlahnya seperti tahun2 Pemilu 1955 dulu tentu tidak cocok, sebab sikap demikian dilatarbelakangi oleh semangat individualisme dan liberalisme, tetapi sebaliknya cita untuk membangun hanya satu partai-politik, seperti yang kinidilakukan oleh negara2 komunis Uni Soviet dan RRC, adalah terjemahan dari diktatorisme.

Karena itu adanya dua partai politik dan satu Golkar seperti yang ditetapkan oleh UU No.3 tahun 1975 adalah altematifyang paling mendekati cita­ kekeluargaan.

Dengan seratus partai-politik, persatuan-nasional terancam oleh perpecahan masyarakat. Dengan hanya satu partai-politik, demokrasi akan lenyap dan digantikan oleh suatu diktator.

Dengan sistim dwi-partai-politik, maka dengan hanya ada DUA kekuatan-politik seperti di Inggris atau AS, maka masyarakat hanya punya dua pilihan, dua alternatif, yang disana sini akan menimbulkan tekanan2 yang mengurangi kebebasan.

Tetapi dengan 3 kekuatan politik seperti sekarang; ada dua partai-politik dan satu Golkar, maka demokrasi lebih terjamin, masyarakat punya 3 alternatif, punya 3 kemungkinan-pilihan; sehingga kebebasan lebih terjamin.

Barangkali buat masa sekarang, sistim 3 kekuatan-politik seperti sekarang, sudah merupakan bangunan-fisik yg paling tepat untuk menerjemahkan CITA KEKELUARGAAN dalam alam Demokrasi Pancasila kita.

Ditambah dengan bangunan-politik yang non-fisik, yakni sikap kekeluargaan yang oleh Presiden Soeharto diungkapkan dengan tekanan2 pada pengutamaan kesejahteraan bersama dan bukan kesenangan-pribadi, mengutamakan kewajiban dan menomorduakan tuntutan-hak, lebih mengutamakan usaha memadu-pendapat melalui musyawarah daripada usaha-usaha menang2an sendiri, maka untuk waktu sekarang kita sudah memiliki konsepsi-konkrit mengenai bangunart-politik Demokiasi Pancasila. Kita patut bersyukur! (DTS)

Jakarta, Berita Buana

Sumber: BERITA BUANA (23/02/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 538-542.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.