BANGSA YG MEMBANGUN TIDAK KENAL PUTUS ASA DAN PATAH SEMANGAT

Dari Pidato Kenegaraan Presiden Soeharto:

BANGSA YG MEMBANGUN TIDAK KENAL PUTUS ASA DAN PATAH SEMANGAT [1]

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Presiden Soeharto mengatakan bahwa bangsa yang membangun tidak mengenal putus asa atau patah semangat.

Dalam memberikan gambaran menyeluruh mengenai apa yang dikerjakan dan telah dicapai sampai saat ini dalam Pidato Kenegaraan di depan sidang pleno DPR Selasa malam, Presiden menyatakan, bahwa hasil-hasil yang telah kita capai itu jelas belum memuaskan kita semua karena harapan-harapan yang ingin kita capai jauh lebih banyak.

Menurut Presiden, mungkin juga kita telah membuat kesalahan kegagalan­-kegagalan. Tetapi ditegaskan, agar dalam menilai kesalahan2 atau kegagalan itu kita berlaku wajar, agar tidak membuat putus asa dan patah semangat.

Presiden juga mengatakan

“Kita memang tidak perlu putus asa atau patah semangat, sebab, dengan tidak mengabaikan masih adanya kesalahan dan kegagalan kita jelas telah mencapai kemajuan- kemajuan yang lebih besar”.

“Dahulu kita berjoang bahu membahu dalam menegakkan kemerdekaan nasional. Dan karena itu kita menang. Sekarang dan setemsnya kita harus bahu – membahu makin erat agar kita juga menang dalam mengusir keterbelakangan, kemiskinan dan kepincangan-kepincangan,” demikian Presiden.

Dalam awal pidatonya, Kepala Negara mengucapkan rasa syukur, karena kemerdekaan itu bukan hanya dapat ditegakkan, melainkan juga telah dapat memperkokoh kita hingga saat ini. Malahan dikatakan bahwakita telah mulai mengisi­nyata kepada kemerdekaan itu dengan melaksanakan pembangunan.

Presiden menegaskan kembali tanpa kemerdekaan politik maka kita tidak mungkin melaksanakan pembangunan sesuai dengan keinginan atau cita-cita kita sendiri.

Dan kemerdekaan politik tanpa pembangunan menurutnya, juga tidak banyak artinya.

Berkata Presiden Soeharto,

“Kita dahulu berjoang untuk merdeka bukan hanya agar kita bebas dari penjajahan asing. Kita berjoang untuk merdeka karena kita ingin hidup terhormat sebagai manusia merdeka, sebagai bangsa merdeka. Serta karena kemerdekaan inilah syarat mutlak yang memungkinkan bangsa Indonesia membangunnya dirinya”.

Kepala Negara kernbali menegaskan, bahwa kita dulu berjoang untuk merdeka, karena kita ingin bebas dari keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan. Dan kita hanya akan bebas dari semua itu, bila kita dapat membangun!

Menjelaskan masalah pembangunan, Kepala Negara mengatakan bahwa pembangunan itu harus mengarah kepada tercapainya tujuan jangka panjang kemerdekaan kita, yaitu kemajuan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi kita semua.

Memperbaharui semangat dalam memperingati tanggal 17 Agustus 1977 sebaiknya menurut Presiden, 135 juta rakyat Indonesia dalam HUT Kemerdekaan RI ke-32 disamping mensyukuri kemerdekaan itu adalah dapat memperbaharui kembali semangat untuk melanjutkan perjoangan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan.

Dimana2 di seluruh pelosok tanah air, di kota2 besar, di RK – RK, di desa2 terpencil rakyat Indonesia bergembira dan berpesta dengan cara sendiri menyambut peringatan HUT ke-32 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Kepala Negara mengajak kita menengok kebelakang, melihat yang baik dan yang kurang baik, mengambil pelajaran terus menerus secara pandai dari pengalaman serta sejarah kita.

“Kita juga harus meneliti keadaan dan tempat kita dimasa kini”, kata Presiden – “dibandingkan dengan keadaan ditahun2 sebelum  kita  menangani  masalah pembangunan ini secara sungguh-sungguh”.

Presiden mengajukan pertanyaan pula, bahwa

“Apakah kita telah  menyiapkan  diri untuk menyongsong  tugas2  dan tanggungjawab  yang  makin  besar  dimasa  depan?”.

Ditandaskan kita harus melayangkan pikiran kita mengenai wajah masa depan yang kita cita-citakan bersama.

“Dengan demikian maka kita melihat seluruh masalah dan tempat kita sekarang ini dalam perspektifuya sejarah!”, ujar Presiden pula.

Membawa Berkah

Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan kali ini dalam bulan suci Ramadhan dinilai Presiden sungguh membawa berkah yang harus dapat kita gali hikmahnya.

Dalam bulan puasa ini kaum muslimin berusaha mensucikan diri lahir-bathin, berusaha berbicara jujur dengan hati nurani kita. Dan kita berpuasa bukan hanya untuk menahan haus lapar saja, juga bukan hanya untuk melawan godaan dan menahan nafsu, yang dalam keadaan biasa halal dan hak hukumnya dikerjakan.

Menurut Kepala Negara kita diwajibkan berpuasa supaya diri kita benar2 menjadi orang yang bertaqwa, bukan takut karena cemas dan waswas melainkan karena kita cinta kepada Tuhan. Dan karena itu kita selalu yakin pada amal perbuatan kita yang baik “juga amal dalam membangun masyarakat,” kata Kepala Negara yang menambahkan pula:

“Sikap demikian membuat hidup ini terasa membahagiakan dan indah. Sikap demikian akan menyelamatkan pembangunan kita”

Kepala Negara menegaskan lebih lanjut, bahwa kita cinta kepada Tuhan karena Ia memberi kesempatan kepada kita semua untuk mengolah dan menikmati segala kekayaan alam ini untuk kebahagiaan dan kesejahteraan bersama.

Sangat ditekankan oleh Kepala Negara:

“Saya katakan kita diberi kesempatan karena berhasil atau tidak berhasilnya kita menikmati kekayaan alam itu, adalah tergantung pada perbuatan kita sendiri.”

Yaitu tergantung kepada kemampuan dan kesungguhan kita dalam mengolah, memanfaatkan segala kekayaan alam tergantung pada kesanggupan dan kesungguhan kita dalam melaksanakan pembangunan.

“Karena itulah, peringatan HUT Kemerdekaan kita kali ini yang bertepatan dengan bulan Suci Ramadhan sungguh merupakan rakhmat bagi kita semua”, ucap Presiden.

Tekad Orde Baru

Kepala Negara mengulangi kembali tekad Orde Baru, yang tiada lain adalah memperjoangkan terwujudnya masyarakat yang makmur dan berkeadilan berdasarkan Pancasila, dalam dunia yang tenteram damai dan adil.

“Itulah tujuan akhir perjoangan kita”. “Itulah tekad bulat Orde Baru”. “Dan tidak seujung rambutpun kita akan bergeser dari tujuan itu”, seru Kepala Negara tandas.

Menurut Presiden untuk mewujudkan masyarakat yang demikian, dinilai sebagai pekerjaan besar-besaran yang memerlukan keuletan dan ketabahan. Malahan untuk mewujudkan masyarakat yang demikian merupakan perjoangan yang besar.

Dan menurut Kepala Negara, selama 11 tahun Orde Baru kita telah secara terus menerus bersatu, berjoang, untuk selangkah demi selangkah mendekati tujuan perjoangan itu.

Sasaran Orde Baru menurut Presiden, ialah tegaknya konstitusi dan tumbuhnya demokrasi dimana di dalamnya terkandung usaha untuk melaksanakan dan memantapkan mekanisme kepemimpinan nasional. Yakni mekanisme atau tata cara dasar mengenai bagaimana kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita bina, serta kita atur pada puncak pengendalian kehidupan bangsa dan negara berdasarkan UUD-45.

Selama 11 tahun kita menegakkan Orde Baru, kata Presiden, maka kehidupan konstitusionil dan demokrasi telah kita usahakan bersama dengan sepenuh-penuh dan kemauan.

Pertama Kali Dalam Sejarah

Presiden Soeharto mengemukakan, bahwa rangkaian tonggak2 pelaksanaan demokrasi dan konstitusi mulai dari Pemilu, pembentukan MPR hasil Pemilu, sidang umum MPR yang akan mengadakan penilaian pertanggungan jawab Presiden atas pelaksanaan GBHN, penetapan Garis2 Besar Haluan Negara, memilih Presiden dan wakil Presiden untuk lima tahun berikutnya.

Semua itu dikatakan merupakan siklus mekanisme kepemimpinan nasional yang harus kita tegakkan bersama-sama. Apabila dalam bulan Maret 1978 nanti MPR hasil Pemilu 1977 telah berhasil melaksanakan tugas2 tersebut seperti yang ditetapkan oleh UUD-45, maka untuk pertama kalinya bulatlah sudah putaran atau siklus mekanisme kepemimpinan  nasional.

Maka mulailah siklus mekanisme kepemimpinan nasional periode lima tahun berikutnya dan seterusnya.

“Kita merasa bangga sungguh bahwa putaran yang lengkap dari kepemimpinan nasional yang kita laksanakan secara demokratis serta konstitusionil itu justru untuk pertama kalinya dalam sejarah R.I. ini dapat terlaksana justru dalam masa Orde Baru ini,” demikian Presiden.

Mantapkan Lima Tahun Sekali

Putaran yang demikian, menurut Presiden, akan terus dilakukan dan dimantapkan sekali dalam lima tahun dimasa mendatang. Bila dalam bulan Maret 1978 kita akan menyelesaikan secara bulat putaran kepemimpinan nasional, maka menurut Presiden hal itu merupakan salah satu hasil terbesar dari Orde Baru dalam menegakkan kehidupan konstitusionil dan demokrasi.

Dan menegakkan kehidupan konstitusionil serta menumbuhkan demokrasi dinilai oleh Presiden merupakan hasil besar dalam pembangunan di lapangan politik. Perlu dicatat, kata Presiden, disamping semua itu maka peserta pemilihan umum 1977- yaitu dua Parpol dan satu Golkar-adalah merupakan wadah2 kekuatan sosial-politik rakyat yang diatur dan dilindungi Undang-undang.

Hal ini dinilai Kepala Negara sebagai suatu hasil besar dalam pembinaan dan pertumbuhan demokrasi di negara kita, sebab dalam sejarah dibawah naungan UUD ’45-baru pertama kali itulah kehidupan kekuatan2 sosial-politik didasarkan dan dilindungi oleh Undang-undang.

Presiden menilai pula, bahwa Pemilu 1977 merupakan prestasi besar dalam kita menegakkan kehidupan konstitusionil untuk menumbuhkan demokrasi. (DTS)

Sumber: ANGKATAN BERSENJATA (18/08/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 372-376.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.