BANGSA PASTI BESAR JIKA DIBANGUN LEWAT 3 JALUR PENDIDIKAN

BANGSA PASTI BESAR JIKA DIBANGUN LEWAT 3 JALUR PENDIDIKAN

PRESIDEN :

Suatu bangsa pasti akan menjadi bangsa yang besar jika bangsa itu dibangun oleh warga negaranya dengan memanfaatkan tiga jalur pendidikan, Presiden Soeharto mengatakan dalam pidatonya peda upacara pengukuhan anggota Majelis Pembimbing dan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka masa bhakti 1983-1988 hari ini di Istana Negara.

Ketiga jalur tersebut, pertama adalah pendidikan di sekolah oleh karena itu Indonesia berusaha terus menerus untuk memajukan pendidikan, berusaha memperluas sekaligus meningkatkan usaha-usaha pendidikan agar benar-benar merata dan selaras dengan tuntutan kemajuan.

Kedua, adalah lingkungan. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, setiap anak dan remaja tidak dapat terlepas dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Setiap orang tua memikul tanggung jawab yang sebesar-besarnya untuk mendidik anak-anaknya.

Di sekolahpun diusahakan pendidikan yang scbaik-baiknya bagi anak-anak dan remaja. Tetapi itu semua tidaklah cukup. Dalam masyarakatpun perlu terwujud lingkungan dan pendidikan yang baik bagi anak-anak dan remaja. Gerakan Pramuka mempunyai tugas untuk mengembangkan dan mendidik anak-anak dan remaja ini dari lingkungan kehidupan masyarakat.

Ketiga, sesuai lingkungan pembinaan itu, Gerakan Pramuka adalah mengisi dan mengarahkan penggunaan waktu senggang anak-anak dan para remaja dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat pendidikan dan memberikan manfaat.

Sesungguhnyalah masalah pengisian dan penggunaan waktu senggang anak-anak dan para remaja dengan kegiatan-kegiatan yang terarah dan bermanfaat, kita ingin membiasakan mereka untuk tidak membiarkan waktu hilang dan terbuang percuma melainkan memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan yang berguna, kata Presiden.

Berprestasi

“Dengan memanfaatkan ketiga jalur pendidikan itu sebaik-baiknya maka kita harap, kelak, anak-anak kita akan menjadi warga negara yang baik, yang bertanggung jawab, yang mampu berprestasi,” kata Presiden.

Tugas penting Gerakan Pramuka adalah menumbuhkan semangat kepatriotan dan idealisme perjuangan di kalangan anak-anak dan remaja. Sebab, tanpa semangat kepatriotan dan idealisme perjuangan, pembangunan bangsa dalam jangka panjang dapat kehilangan kekuatan pendorong dan kehilangan arah kelanjutannya.

“Jika dalam jiwa kaum muda sekarang tidak ditanamkan semangat kepatriotan, sulit lahir pemimpin-pemimpin masa depan,” kata Presiden.

Jika kaum muda sekarang kehilangan idealisme2 pembangunan masa depan akan mengalami kemacetan. Untuk itu latihan guna membina kepribadian dan menggelorakan semangat kebangsaan adalah sangat penting, kata Presiden.

Dalam hubungan ini tentunya cara-cara pembinaan harus sesuai dan dapat diterima oleh generasi muda sendiri. Dengan demikian sifat pembinaan akan terasa sebagai milik dan kebutuhan kaum muda sendiri dan bukan dirasakan sebagai sesuatu yang asing dan dipaksakan kepada mereka.

Dengan jalan ini dapat ditumbuhkan kreativitas dan dapat ditanamkan semangat kepatriotan dan idealisme perjuangan, kata Presiden.

Sultan

Penghargaan tertinggi, Lancana Tunas Kencana, yang dianugerahkan oleh Gerakan Pramuka Indonesia kepada Sultan Hamengkubuwono IX tidaklah hanya sekedar formalitas, tetapi karena Sultan benar-benar telah menunjukkan jasa-jasanya kepada Gerakan Pramuka sehingga bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan Gerakan Pramuka di Indonesia serta perkembangan gerakan kepanduan di dunia, kata Presiden.

Mereka yang dikukuhkan Presiden Soeharto adalah Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam sebagai Ketua Harian Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka, Menpora Abdul Ghafur sebagai Wakil Ketua dan 13 anggota lainnya.

Susunan anggota majelis pembimbing Gerakan Pramuka dan Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka, Presiden Soeharto sebagai Ketua, Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah sebagai Wakil Ketua, Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Harian serta 49 orang anggota.

Susunan Kwartir Nasional Gerakan Pramukamasa bhakti 1983-1988 terdiri dari Mashudi sebagai Ketua. WP Napitupulu sebagai Wakil Ketua I, Widodo Budidarmo sebagai Wakil Ketua II, Ny. Tien Soeharto Wakil Ketua III. Soetikno Lukitodisastro Wakil Ketua IV, Dra. MienS. Wamaen sebagai Sekjen dan 39 anggota.

Susunan pengurus kwartir nasional gerakan pramuka masa bhakti 1983-1988 dilaporkan oleh Ketua Formatur Ny. Tien Soeharto.

Pergeseran Nilai

Sore harinya di Cibubur Ny. Tien Soeharto pada rapat kerja nasional Gerakan Pramuka mengatakan, tantangan yang dihadapi sekarang adalah terdapatnya gejala pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat, terutama di kalangan generasi muda.

Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan sosial yang makin pesat. Gejala ini adalah tantangan yang sangat berat bagi para orang tua, lebih-lebih bagi mereka yang bergerak dalam bidang pendidikan.

Menghadapi gejala itu, Gerakan Pramuka perlu berketetapan hati untuk mengembangkan wahana pendidikan agar benar-benar mampu menjadi salah satu penyangga budaya bangsa kita, kata Ny. Tien Soeharto. (RA)

Jakarta, Merdeka

Sumber : MERDEKA (09/03/1984)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 936-938.


Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.