BANGSA BERADA PADA TITIK SEJARAH YANG MENENTUKAN

BANGSA BERADA PADA TITIK SEJARAH YANG MENENTUKAN[1]

 

 

Jakarta, Kompas

Bangsa Indonesia saat ini berada pada satu titik sejarah yang sangat menentukan. Kita dihadapkan pada sebuah permasalahan kebangsaan yang besar, yang jika tidak mendapat solusi yang tepat maka nasib dan masa depan bangsa ini tidak dapat terjamin. ABRI mendukung pembaruan konstitusional dan damai, yang telah menjadi kesepakatan bersama dan memang harus dilakukan demi kebaikan bangsa.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Sosial Politik (Kasospol) ABRI Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono saat menghadiri pertemuan Badan Kerjasama Ikatan Keluarga Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (BKS IKAPTISI) di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Sabtu(16/5).

Selain dihadiri para dosen dan guru besar,juga hadir Letjen TNI (Purn) Kemal Idris dan Letjen TNI (Purn) Ali Sadikin, Letjen TNI (Purn) Kharis Suhud, Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Achmad Bagdja, Romo YB Mangun Wijaya, Prof Mahar Mardjono, Prof Soebroto, Deliar Noer, Prof Dr Koesnadi Hardjasumantri, Ketua Ikatan Alumni UI Mayjen TNI (Purn) dr Hariadi Dannawan, Prof. Dimyati Hartopo, Dramawan WS Rendra, komedian Wahyu “Dono” Sardono, praktisi hukum Hendardi dan Todung Mulya Lubis serta tokoh-tokoh lainnya.

Dalam pertemuan itu disepakati untuk mendirikan Komite Nasional Indonesia untuk Reformasi (KNI-Reformasi) dan mengeluarkan “Deklarasi Salemba”.

Menurut rencana, Senin (18/9) ini, KNI-Reformasi akan menemui pimpinan DPR/ MPR.

“KNI-Reformasi berketetapan bahwa suksesi kepemimpinan nasional dalam tempo sesingkat-singkatnya merupakan syarat untuk terselenggaranya pembaharuan atau reformasi nasional,” demikian satu butir Deklarasi Salemba.

Kita menuntut agar DPR segera lakukan Sidang Istimewa, kata Dimyati yang merumuskan kesimpulan pertemuan itu.

 

Konstitusional

Dalam kesempatan itu, Kassospol ABRI mengatakan, kalau tidak konstitusional, kita akan mewariskan sesuatu yang tidak baik bagi generasi yang akan datang.

“Kalau tidak damai, kita akan meninggalkan korban dari rakyat yang tidak berdosa,” kata Yudhoyono. Ia diutus oleh Menhankam/Pangab untuk hadir dan berbicara dalam forum tersebut.

Pada kesempatan itu, Yudhoyono juga menerima pernyataan dari para perwira Angkatan 45 yang disampaikan oleh Letjen TNI (Purn) Kemal ldris. Yudhoyono menyatakan akan menyampaikannya kepada Panglima ABRI

“Saya pahami ini sebagai kepedulian bapak-bapak kepada kami yang lebih muda. InsyaAllah ini akan dapat menjadi masukan besar, bukan hanya bagi ABRI tetapi juga bagi masyarakat, bangsa dan negara,” katanya.

Para perwira senior ABRI itu menyatakan, perlunya Presiden Soeharto mundur dari jabatan presiden/kepala negara. Untuk merealisasikan peletakan jabatan presiden tersebut perlu diselenggarakan Sidang Istimewa MPR secepat mungkin. Kassospol ABRI juga menerima pernyataan Ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Univer­sitas Indonesia (SMPT UI) Rama Pratama yang meminta Presiden Soeharto meletakkan jabatannya.

 

Sasaran Tepat

Menurut Kassospol ABRI, dalam mendukung pembaruan, ABRI kini telah mengembangkan sebuah konsep pemikiran, baik yang akan disampaikan kepada pemerintah, DPR maupun masyarakat luas, tentang bagaimana cara mengatasi krisis. Demikian juga tentang langkah-langkah reformasi apa yang mendesak dan harus segera dilakukan. Bagi ABRI, katanya, reformasi bukan hanya menyangkut agenda politik, ekonomi, hukum, budaya dan moral, tetapi juga menyangkut tahapan prioritas, pelaksanaan dan bagaimana kita sebagai bangsa ini mengamankan agar reformasi yang telah digulirkan dapat secara lurus sampai ke sasaran dan tepat pada tujuan yang dikehendaki.

“Banyak bangsa di dunia ini yang bersistem menggulirkan reformasi, tetapi gagal mengakhiri reformasi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.Tentu bukan model reformasi, seperti itu yang kita inginkan,” tutur Yudhoyono.

“Pesan ABRI -yang disampaikan pimpinan ABRI beberapa saat lalu ABRI mendengar dengan saksama segala aspirasi yang berkembang di kalangan masyarakat luas dewasa ini. Fraksi ABRI di DPR sedang bekerja. Lembaga pengkajian ABRI sekarang juga tengah bekerja untuk menyusun konsep yang dapat kita sumbangkan kepada pemerintah, legislatif, maupun masyarakat luas,” katanya.

Yudhoyono juga menjelaskan kalau ABRI sering bicara bahwa reformasi itu harus gradual bukan berarti lambat. Gradual dengan lambat berbeda.

“Gradual bukanlah membabi buta sebagaimana yang pernah ditempuh negara lain yang akhirnya runtuh, tetapi gradual adalah stable and well oriented reform,”   demikian Yudhoyono.

 

Serahkan Pada Tuhan

Sekjen PBNU Achmad Bagja dalam pertemuan tersebut mengatakan, NU secara tegas dan pasti mendukung reformasi.

“NU akan mengadukan persoalan bangsa ini kepada Tuhan,” katanya.

Mantan Rektor UI Mahar Mardjono mengatakan, tuntutan rakyat sudah jelas dan harus segera dijawab agar tidak menimbulkan kerusakan dan anarkis yang lebih parah.

Selain tuntutan suksesi kepemimpinan nasional secepatnya, “Deklarasi Salemba” juga mengatakan, KNI-Reformasi menegaskan akan bekerja sama dengan forum­-forum lain yang mendukung gerakan reformasi untuk memantapkan program-program reformasi nasional.

“Tujuan pembaharuan atau reformasi adalah melaksanakan konstitusi secara murni dan konsekuen, menyelenggarakan pemerintahan negara berdasarkan kedaulatan rakyat dan mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa demi keselamatan negara, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat,” demikian “Deklarasi Salemba”.

 

ITB Juga

Staf pengajar Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu, menyampaikan tiga butir pernyataan sikapnya di antaranya tidak mempercayai lagi kepemimpinan nasional dan mengimbau seluruh staf pengajar dan alumni Institut Teknologi Bandung yang menjadi anggota Kabinet Pembangunan VII untuk segera mengundurkan diri dari jabatannya.

Para dosen Universitas Tanjungpura dalam pernyataannya yang disampaikan kepada Ketua DPRD Kalbar, Muchalli Taufiek, mengatakan, pimpinan MPR diminta segera menggelar Sidang Istimewa MPR. Langkah itu dinilai sebagai pilihan terbaik demi meminimalisasi krisis yang semakin parah dalam beberapa waktu terakhir serta menghindari bakal bertambahnya jumlah korban nyawa di kalangan pejuang reformasi.

“Roh dan semangat gerakan reformasi selama ini sudah cukup menjadi modal utama bagi Dewan untuk tak ragu-ragu menggelar Sidang Istimewa MPR,” katanya.

Pernyataan senada juga datang dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) cabang Samarinda (Kaltim), yang mendesak MPR mengadakan Sidang Istimewa. (ush/vik/hers/jj/ful)

Sumber: KOMPAS (18/05/1998)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 323-326.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.