BAD OEYNHAUSEN, KOTA “SERIBU” KLINIK

BAD OEYNHAUSEN, KOTA “SERIBU” KLINIK[1]

 

Jakarta, Republika

DERU SUARA helicopter terdengar semakin keras. Tak lama kemudian tampak pesawat itu pelan-pelan turun, dan kemudian mendarat di atap Rumah Sakit (Klinik) Jantung dan Diabetes (Herz und Diabetes zentrum), Kota Bad Oeyenhausen, Jerman, Kamis pagi.

Setelah petugas medis menurunkan pasien penumpangnya, helikopter itu segera meninggalkan helipad di atap gedung berlantai lima tersebut. Di situlah tempat beberapa orang penting (Very Important Person-VIP) dunia menjalani pemeriksaan jantung.

Tak mudah memperoleh informasi tentang siapa saja VIP dunia yang pernah dirawat di situ. Nona R. Lakerrieye, kepala hubungan masyarakat rumah sakit tersebut, pun tak mau mengungkapkan siapa para VIP itu. Sembari tersenyum, ia mengatakan,

“Agak nya tidak etis bagi saya mengemukakannya.”

Lakerrieye menuturkan, pemandangan helikopter membawa pasien seperti pada siang itu di rumah sakit tempat Presiden Soeharto sedang menjalani pemeriksaan kesehatan merupakan hal biasa.

“Bagaimana pun, para pasien darurat jantung sangat menuntut waktu.” katanya.

Sekitar 4.000 pasien jantung dari seluruh dunia menjalani operasi setiap tahun di rumah sakit yang mempekerjakan 170 dokter ini. Tidak kurang dari 80 di antara ahli­-ahli tersebut berada di bawah koordinasi Prof. Dr. Reiner Koerfer, orang nomor satu ahli penyakit jantung di Herz und Diabeteszentrum. Sedemikian tenar nama Koerfer, sehingga menurut berbagai kalangan ia bahkan pantas disebut orang nomor satu spesialis jantung di dunia.

Beberapa dokter ahli staf Koerfer, yang menjadi Ketua Tim Pemeriksa Kesehatan Presiden Soeharto, juga berasal dari Indonesia, antara lain Dr. R. Budiman dan Dr. Gunawan Notohamiprodjo.

Sebelum Presiden Soeharto, beberapa tokoh kondang Indonesia juga pernah menjadi pasien di rumah sakit tersebut. Di antaranya adalah Menristek BJ Habibie, Dubes RI di London Jusuf Effendy “Fanny” Habibie, dan Konjen RI di Hamburg R. Simanjuntak. Almarhum Dr. Alfian (pernah menjabat Ketua LIPI) dan almarhum Prof. Dody Tisnaamidjaja (mantan Dubes RI di Prancis dan mantan rektor ITB) juga pernah tercatat sebagai pasien di RS itu.

Rumah sakit, yang dikenal kemampuan dokternya maupun peralatan medisnya, tersebut terdiri atas sembilan gedung. Gedung-gedung itu berdiri di atas laban yang begitu luas, 30.000 meter persegi, dengan halaman dan taman seluas 10.000 meter persegi.

Rumah sakit ini tak berdiri sendiri, melainkan berada di bawah naungan Universitas Ruhr Bochum, Nordtein Westfalen. Sebagai sebuah rumah sakit khasus Herz uhd Diabetes Zentrum di bagi menjadi empat divisi, masing-masing kardiologi anak, kardiologi dewasa, transplantasi (operasi), dan diabetes.

Mereka yang memeriksakan diri ke rumah sakit yang berkapasitas 450 tempat tidur dengan 1.400 karyawan ini memang layak puas atas perawatannya. Mereka diperlakukan, menurut Lakerrieye, sesuai motto pelayanannya yang menekankan bahwa “penghuni rumah sakit bukan pasien, tetapi tamu”. Herz und Diabeteszentrum bukan satu-satunya lembaga kesehatan yang berada di Bad Oeynhausen. Kota kecil yang terletak 75 km di sebelah barat Hanover itu, walau cuma berpenduduk sekitar 50.000 jiwa, memiliki 23 klinik (rumah sakit) sejenis.

Klinik dengan berbagai bidang spesialisasi penyakit itu tersebar di sebuah bagian kota yang berbukit-bukit dan di sekitar pusat kota. Di pusat kota inilah terdapat taman bernama “Kurpark” yang secara harfiah berarti taman petirahan. Di Kurpark ini pula Pak Harto, beberapa hari lalu, mengajak wartawan asing untuk ngobrol.

Kota mungkin lebih tepat disebut desa Bad Oeynhausen yang dapat ditempuh satu jam dengan kendaraan darat dari Hanover itu selain menjadi “kota klinik” juga menjadi “kota dokter”. Bayangkan, ratusan ruang praktek dokter berjajar menghiasi berbagai penjuru pusat kota.

Pada pagi hari, kota itu relative “miskin” anak-anak dan pemuda maupun pemudi. Pemandangan yang mencolok adalah para orang tua yang berjalan-jalan di tengah kota, di taman, dan di sepanjang pertokoan.

Para pemuda dan anak-anak penghuni kota umumnya bekerja dan pergi ke sekolah. Sedangkan para orang tua, kebanyakan nenek dan kakek, pada pagi hari biasanya berjalan-jalan dan duduk di taman sesuai tuntutan kesehatan atau karena menuruti perintah para dokter.

Hotel-hotel di kota tersebut juga dipenuhi mereka yang telah memasuki usia pensiun. Mereka umumnya berdatangan dari berbagai negara di Eropa, juga dari benua lain. Kedatangan mereka lazimnya bertujuan tunggal, yakni memeriksakan kesehatannya secara rutin di berbagai klinik spesialisasi di kota “seribu klinik” itu.

Suasana kota ini memang pas untuk tetirah. Seorang nenek asal Perancis A. Manquese, 65 th, mengatakan bahwa ia senang tinggal di Bad Oeynhausen. Kenapa?

“Kotanya nyaman dan tenang, cocok buat saya.” kata Manquese, seorang penderita penyakit darah tinggi atau hipertensi.

Seorang kakek asal Italia, R. Manchini, 70 th, yang datang bersama istrinya menyatakan, mereka datang untuk memeriksa secara rutin perkembangan penyakit gula (diabetes) yang dialaminya.

“Sementara saya datang karena diabetes saya, istri saya datang untuk mengobati stroke ringan yang menyerangnya.” katanya. Johnny T/Antara

Sumber : REPUBLIKA (12/07/1996)

_________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 701-703.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.