Atasi Krisis Ekonomi ‘PAK HARTO SUDAH PIKIRKAN SKENARIO PENYELESAIAN’

Atasi Krisis Ekonomi ‘PAK HARTO SUDAH PIKIRKAN SKENARIO PENYELESAIAN'[1]

 

Jakarta, Kompas

Untuk menghindari gejolak sosial di masyarakat, pemecahan krisis ekonomi yang terjadi saat ini harus juga melalui langkah-langkah politik. Sebagai seorang Jenderal, Presiden Soeharto tentu sudah memiliki skenario untuk menyelesaikan persoalan bangsa saat ini, termasuk memperhitungkan kondisi terjelek sekalipun.

Demikian diungkapkan Ketua Lembaga Pengkajian Strategis Indonesia (LPSI) Rudini kepada wartawan di kantornya, Senin (5/1). Mantan Mendagri tersebut dimintai pandangannya soal kondisi masyarakat yang resah atas krisis ekonomi yang saat ini terjadi serta alternatif pemecahan yang ditawarkan, termasuk perlunya dialog pemerintah dengan tokoh-tokoh kritis.

Ditanya kebenaran anggapan bahwa penyelesaian krisis saat ini sangat tergantung dari langkah-langkah yang dilakukan Presiden Soeharto, Rudini sependapat. Setiap gerak-gerik aktivitas Pak Harto saat ini terus diperhatikan masyarakat. Sebagai purnawirawan ABRI berpangkat Jenderal, lanjut Ketua LPSI, Pak Harto tentu sudah memiliki prakiraan-prakiraan dan perhitungan-perhitungan dari yang baik sampai yang paling buruk.

“Presiden tentu sudah memikirkan itu. Sudah diperhitungkan jika tidak sukses bagaimana langkah yang akan diambil,” katanya.

Namun, ditambahkan Rudini, “langkah tersebut hanya Pak Harto sendiri yang mengetahuinya.”

“Saya yakin Pak Harto sudah memikirkan segalanya, termasuk kondisi kesehatannya. Beliau bahkan sudah menyinggung hal tersebut secara halus, namun pimpinan Golkar menangkapnya sudah final dan tetap mencalonkan Pak Harto.” katanya.

Menurut Rudini, walaupun krisis ekonomi menyebabkan masyarakat menjadi resah, namun semua pihak hendaknya tidak saling tuding dan saling menyalahkan atas terjadinya kondisi saat ini. Keresahan masyarakat sebenarnya sudah terjadi sebelum krisis ekonomi terjadi, yang ditandai dengan banyaknya kerusuhan diberbagai daerah. Saat itu keresahan masyarakat lebih disebabkan oleh arogansi dan tidak simpatiknya aparat pemerintah terhadap masyarakat.

“Jangan salahkan rakyat. Mereka kesal sudah lama dipungli,” katanya.

Keresahan masyarakat itu diperparah lagi dengar memburuknya situasi ekonomi saat ini.

“Masyarakat saat ini resah karena tidak ada kepastian penyelesaian persoalan tersebut,” kata Rudini.

Sesegera Mungkin

Rudini menyambut baik adanya gagasan perlunya sebuah dialog antara pemerintah dengan tokoh-tokoh yang bersuara kritis untuk mencari penyelesaian persoalan.

“Tidak usah lagi saling tuding dan saling menyalahkan. Stop sikap cari-cari kambing hitam.” katanya.

Dengan begitu, upaya mencari persoalan tidak hanya dipikirkan oleh pemerintah saja.

Mereka yang bertemu dan berdialog harus mengedepankan kepentingan bangsa dan negara. Ditanya mana yang lebih utama diambil, apakah langkah ekonomi atau politik untuk menyelesaikan persoalan, Rudini mengatakan, untuk mencegah gejolak di masyarakat akibat persoalan ekonomi bisa saja langkah-langkah politik diambil. Pihak-pihak terkait harus mewaspadai akibat naiknya harga-harga mengakibatkan rakyat mengamuk.

“Harus dipikirkan bagaimana langkah politik untuk itu. Harus dihindari munculnya gejolak, karena jika itu terjadi berarti kemunduran bagi pembangunan kita.” katanya.

Langkah-langkah pemecahan persoalan krisis, termasuk dialog tersebut, harus dilakukan sesegera mungkin.

“Agar Sidang Umum MPR berjalan damai, harus diciptakan situasi yang kondusif.” katanya. (ush)

Sumber : KOMPAS (06/01/1998)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 680-682.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.