Asrama Buat Para Santri

Asrama Buat Para Santri[1]

 

Hari itu (07 April 1 970) Kyai Umar mendapat tamu istimewa di Pondok Pesantrennya, Miftahul Mubtadin, Tegal Kubur, Lebaksiu, Tegal.

Tamu itu adalah Pak Harto, tokoh yang tengah menjadi Presiden Republik Indonesia. Kyai Amirudin, salah satu putera dari Kyai Umar mengingat bahwa ayahandanya menyambut Pak Harto di halaman masjid dan kemudian mengantarnya berkeliling melihat-lihat keadaan pesantren. Tak banyak yang diketahui apa isi pembicaraan antara ayahandanya dengan Pak Harto, namun ia menyaksikan keakraban terpancar di antara keduanya.

Hal yang sama diakui pula oleh Kyai Lukman Hakim, salah satu putera Kyai Isa Mufti dari Pondok Pesantren Ma’hadut Tolabah, Babakan, Lebaksiu, Tegal. Pak Harto singgah ke pondok Pesantren yang dipimpin ayahnya. Yang menarik, selain menyaksikan dari dekat proses pendidikan di ruang-ruang belajar, Pak Harto juga menyempatkan untuk berbicara di depan para santri dan ulama.

Mengajak mereka untuk bersama-sama bangsa ini bersatu dan membangun bangsa dan negara. Kepada kami Kyai Lukman berpendapat bahwa kehadiran Pak Harto saat itu juga terkait dengan usahanya meraih dukungan rakyat menjelang Pemilihan Umum yang akan digelar tahun 1971.

Pak Harto menyaksikan betapa kehidupan santri begitu sederhana. Mereka tinggal dalam sebuah pondok yang sederhana, fasilitas seadanya, bahkan satu kamar dihuni oleh berpuluh orang. Ini pula yang menggerakkan Pak Harto untuk segera membangunkan asrama bagi para santri pada kedua pondok pesantren yang dikunjunginya.

“Bangunan itu masih kami gunakan untuk asrama para santri. Sangat kokoh, sampai-sampai kami harus menggunakan alat khusus untuk memasang paku di temboknya,” ungkap Kyai Lukman.**

_______________________________________________

[1]Mahpudi, “Incognito PAK HARTO, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya”, Jakarta : Yayasan Harapan Kita, hlm 44-45.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.