ASEAN SEPAKAT TOLAK PEMBAHASAN ISU KORUPSI DI WTO

ASEAN SEPAKAT TOLAK PEMBAHASAN ISU KORUPSI DI WTO[1]

 

Jakarta, Antara

ASEAN sepakat agar masalah di luar bidang ekonomi seperti isu korupsi, kebijakan implementasi dan isu-isu sosial lainnya tidak dibicarakan dalam pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Singapura, September mendatang.

Demikian kesepakatan dari Sidang Menteri-menteri Ekonomi ASEAN (AEMM) ke-28, yang berakhir di Jakarta, Kamis malam, sebagaimana disampaikan Menteri Industri dan Perdagangan Malaysia Dato Seri Rafidah Aziz.

Rafidah menjawab pers dalam acara pembacaan pernyataan bersama hasil sdang AEMM ke-28 mengatakan, berbagai isu sosial tersebut memang tidak berkaitan dengan permasalahan yang seharusnya dibicarakan dalam pertemuan WTO.

Pernyataan Rafidah didukung Menteri Industri dan Perdagangan Singapura Yeo Cheow Tong bahwa, masalah korupsi tidak berkaitan dengan pembahasan WTO.

“Memang benar apa yang dikatakan Menteri Rafidah bahwa hal itu seharusnya tidak dibicarakan dalam WTO.” ujar Cheow Tong.

Selanjutnya para menteri ekonomi ASEAN dalam pernyataan bersamanya menegaskan, untuk melakukan pembicaraan lanjutan serta segala hal yang berkaitan dengan persiapan pertemuan WTO.

Para Menteri ASEAN juga menyerukan agar pertemuan di Jenewa dapat mengintensifkan agenda pembicaraan WTO sebelum pelaksanaan sidang WTO di Singapura.

“Kami menganggap penting dan bekerja sama untuk menyukseskan pertemuan Tersebut.” bunyi pernyataan AEMM. Sementara mengenai implementasi perjanjian Putaran Uruguay, ASEAN menekankan perlunya semua negara anggota WTO untuk setia atas komitmen Putaran Uruguay.

ASEAN juga menegaskan kembali bahwa Agenda Jadi (built-in-agenda) mempakan bagian integral dari komitmen Putaran Umguay dan merekomendasikan langkah selanjutnya dari agenda itu agar diluncurkan sesudah pertemuan di Singapura.

Para menteri ASEAN juga menyetujui, laporan terakhir dan program kerja pasca pertemuan Singapura harus mempakan hasil akhir sesuai dengan perkembangan Komisi Perdagangan dan Lingkungan.

Kontroversial

Sementara itu, Menko Prodis Hartarto saat menyampaikan pernyataan bersama AEMM menggari sbawahi pernyataan Presiden Soeharto saat pembukaan sidang, Kamis pagi (12/9), bahwa pertemuan WTO mendatang harus menghindari pembicaraan yang menyangkut masalah kontroversial.

“Dalam pembahasan bersama nanti hendaknya dapat mempertimbangkan situasi dalam negeri masing-masing negara anggota dengan penuh pengertian dan kepekaan.” ujar Hartarto mengutip pernyataan tersebut.

Selain itu, ASEAN juga perlu terus memainkan peran aktif dalam proses Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) untuk membantu memperkuat liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas tidak saja di kawasan ini, tetapi juga di dunia.

“Kita juga harus terus menjembatani hubungan Asia dengan Eropa melalui partisipasi aktif ASEAN dalam berbagai kegiatannya serta menindak lanjuti Pertemuan Asia-Eropa yang berlangsung Maret lalu di Bangkok.” ujar Hartarto.

Atas dasar semangat regionalisme terbuka ASEAN juga perlu terus mengembangkan dan memperbaiki wahana-wahana yang cocok bagi interaksi ASEAN dengan kelompok ekonomi di kawasan lainnya.

Proses dialog seperti ASEAN-CER (Closer Economic Relation), ASEAN-USTR dan ASEAN-MITI harus terus dikembangkan untuk memperluas dan mengintensifkan hubungan ke luar, demikian Hartarto.

AEMM ke-28 ini sebelumnya didahului dengan pertemuan persiapan Tingkat Pejabat Tinggi (SEOM) pada 9-10 September dan Pertemuan Dewan Menteri AFTA 11 September lalu.

Sumber : ANTARA (13/09/1996)

_________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 421-423.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.