ASEAN HARUS MAKSIMALKAN POTENSI EKONOMI

ASEAN HARUS MAKSIMALKAN POTENSI EKONOMI[1]

 

Jakarta, Antara

ASEAN harus memperluas dan memaksimalkan potensi yang dimiliki sebagai tugas utama negara-negara anggota asosiasi di kawasan yang dinamis di sektor ekonomi dan politik.

“Tugas utama yang masih harus dilaksanakan oleh kita yaitu memperluas dan memaksimalkan potensi yang ada.” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Malaysia Abdullah Ahmad Badawi dalam pidatonya pada pertemuan para Menlu ASEAN di Jakarta, Sabtu, yang dibuka Presiden Soeharto.

Ia mengatakan, pengalaman dalam membangun negara dan ekonomi sosial yang dimiliki anggota lama ASEAN dapat dibagi-bagi kepada anggota baru dalam rangka mempercepat integrasi mereka dalam ASEAN.

Semua itu, katanya, dimungkinkan karena ekonomi negara anggota ASEAN terus tumbuh rata-rata 7,63 persen per tahun dengan total perdagangan pada 1995 hampir 600 miliar dolar AS, yang menjadikannya kawasan perdagangan terbesar keempat dunia sesudah AS, Jepang dan Uni Eropa.

Kerjasama Pembangunan Lembah Mekong-ASEAN, menurut dia, merupakan contoh jelas potensi ASEAN dan negara-negara yang termasuk dalam program pembangunan Lembah Mekong itu, dalam bekerja sama untuk melaksanakan proyek besar.

Sementara itu, Menlu Thailand Amnuay Viravan mengatakan, cara lain untuk mendorong interaksi ekonomi dalam ASEAN adalah dengan mengimplementasikan secara progresif fasilitasi perdagangan dengan mengharmonisasikan prosedur dan praktek perdagangan seperti masalah bea cukai dan transportasi.

Masalah yang perlu diperhatikan segera, katanya, adalah fasilitasi pengiriman barang dan masalah perburuhan lintas batas.

“Kita harus mengambil inisiatif dalam fasilitasi proses itu yang memainkan peranan penting dalam pembangunan ekonomi kawasan  itu.” katanya.

Kelola Baik

Menlu Singapura S. Jayakumar dalam kesempatan yang sama mengatakan, proses penyatuan ekonomi di antara negara anggota ASEAN harus dikelola dengan baik jika ingin menghindari ketidakharmonisan percepatan dalam mencapai kesejahteraan.

Ia menyadari bahwa memperdalam kerjasama ASEAN, seperti AFTA, bukan merupakan hal yang mudah karena walaupun teori dan praktek liberalisasi perdagangan menguntungkan ekonomi negara anggota, namun kebijaksanaan itu tentu mengganggu beberapa sektor domestik suatu negara.

Dikatakannya, dengan adanya kondisi itu merupakan suatu keuntungan bahwa para pemimpin ASEAN tetap berkomitmen dalam kerjasama ekonomi antar negara ASEAN antara lain dengan membentuk kawasan investasi ASEAN dan mempelajari ide pembentukan ASEAN Common Time (ACT) untuk memfasilitasi kegiatan bisnis.

Menlu Filipina Domingo L. Siazon mengatakan, penyatuan ekonomi ASEAN yang tumbuh serta rencana masuknya Kamboja, Laos dan Rnyanmar dalam ASEAN dan AFTA, akan menghasilkan suatu pasar yang dinamis yang melibatkan hampir setengah miliar penduduk.

“Kita dapat berharap bahwa keuntungan kerjasama ekonomi yang kita miliki dapat dinikmati rakyat kita saat ini.” katanya.

Untuk itu, katanya, perlu adanya penyesuaian tidak hanya dalam liberalisasi dan terbukanya ekonomi ASEAN, tapi juga penguatan ketentuan hukum, meningkatkan stabilitas politik, mewujudkan transfaransi dan kebebasan informasi bisnis dan ekonomi serta perlakuan tertentu untuk negara yang ekonomi nya lemah.

Sumber : ANTARA (20/07/1996)

_________________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 362-364.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.