Arti Pameran Dirgantara Indonesia

Arti Pameran Dirgantara Indonesia[1]

Waktu itu, di bulan Juni, Ibukota Jakarta digetarkan suara gemuruh pesawat tempur. Bukan hanya formasi pesawat­pesawat milik TNI-AU kita yang membelah udara Jakarta, tetapi sejumlah pesawat berbendera asing, team akrobat udara Inggris Red Arrows yang sangat terkenal, Mirage 2000 milik Perancis, F-16 buatan Amerika Semua memamerkan diri di atas Ibukota kita. Begitu waktu kita langsungkan Pameran Dirgantara Indonesia (Indonesia Air Show­lAS) 86 di bekas Bandar Udara Kemayoran. Ini pameran udara yang pertama kali kita adakan. Cukup besar dalam skala internasional bagi Indonesia yang sedang merintis industri pesawat terbang. Dan amat pentiilg artinya bagi kita.

Saya buka pameran itu dengan menembakkan pistol, isyarat yang penuh arti bagi kita. Ini sebuah langkah baru, sebuah tantangan baru. Ini merupakan tekad dan persiapan kita yang sungguh-sungguh untuk mencapai kemajuan bangsa kita di masa depan, khususnya dalam mencapai kemajuan-kemajuan di bidang industri dan penguasaan teknologi tinggi dalam arti yang luas.

Tentu saja keputusan yang saya ambil untuk menyelenggarakan Indonesia Air Show (IAS). 86 ini tidak asal tabrak. Pihak yang mengadakan studi kelayakan lebih dahulu mengenai ini tidak merekomendasikan Bandung sebagai tempat pameran seperti yang direncanakan semula. Saya pun menyetujui diadakan di Jakarta saja lAS 86 yang terhitung lebih besar daripada pameran dirgantara yang diselenggarakan di pelabuhan udara Changi, Singapura, di awal tahun 1986 itu juga. lAS 86 diikuti 237 peserta dari 20 negara.

Usaha ini jelas menyangkut, malahan berlandaskan industri pesawat terbang kita. Selama sepuluh tahun sejak kelahirannya Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) telah memberi pengaruh luas pada penguasaan teknologi di bidang-bidang lain, dengan mendorong, memperkuat, dan memperluas penguasaan teknologi lainnya. Keberhasilan kita dalam bidang pembangunan berteknologi tinggi seperti industri pesawat terbang, telah mempertebal rasa percaya pada diri sendiri bahwa dengan menggunakan setiap peluang yang terbuka, bangsa kita sanggup menguasai dan mengembangkan teknologi yang paling maju sekalipun.

IPTN kita dirikan untuk meningkatkan ekspor non-migas. Dan itu bisa dilakukan melalui penjualan jasa-jasa yang dapat dihasilkan, serta dengan mengekspor pesawat atau komponennya yang dihasilkan IPTN. Saya yakin, IPTN dapat bersaing di pasaran internasional. Kita memandang jauh ke depan, dan pandangan itulah yang telah membulatkan tekad kita untuk mengembangkan industri penerbangan, industri kelautan dan industri-industri lainnya.

Kita harus melakukan persiapan jangka panjang agar mampu menghadapi masa depan yang akan makin ditentukan oleh kemampuan sendiri dalam menguasai ilmu pengetahuan modern dan teknologi canggih.

Jelas, industri pesawat terbang kita bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan perhubungan udara kita, melainkan ditetapkan sebagai strategi nasional. Tujuan kita ialah sandang cukup, papan cukup, lapangan kerja memadai. Ini berarti, kita harus mengadakan lapangan kerja. Ternyata industri pesawat terbang kita, sekalipun menggunakan teknologi canggih, tetap membutuhkan tenaga kerja yang besar jumlahnya. Lihat saja, mana ada industri tekstil, misalnya, yang mempergunakan sekian banyak jumlah tenaga kerja. Paling-paling industri tekstil mempergunakan dua atau tiga ribu karyawan. Krakatau Steel, yang menghabiskan ratusan juta dollar AS, hanya menyerap 3000 orang buruh, sedangkan IPTN, yang mempergunakan tidak lebih dari satu milyar dollar AS, sekarang sudah menyerap 13.000 orang karyawan trampil, yang semula cuma mempunyai 500 orang.

Saya optimistis melihatnya. Apalagi nanti, kalau sudah diakui oleh Boeing untuk menjadi rekanannya dan membuat komponen pesawat terbangnya. Saya perintahkan supaya diusahakan, agar di tahun 1996 bisa menyerap 40.000 orang buruh. Mana ada industri lain milik negera yang mampu seperti itu. Tidak ada!

Pengembangan industri penerbangan, industri kelautan dan industri modern berteknologi canggih lainnya bukan kita lakukan untuk pamer dan bukan pula kita lakukan tanpa memahami pengorbanan yang kita pikul. Pengembangan itu kita lakukan justru karena kita sadar akan kesulitan besar dan kerawanan yang harus kita hadapi kelak, jika bangsa Indonesia terus-menerus bergantung pada bangsa lain dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pemilikan sumber kekayaan alam yang melimpah saja tidak cukup untuk mengantarkan bangsa kita ke taraf hidup dan kesejahteraan yang tinggi. Kerja keras, keuletan, dan ketabahan yang disertai penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ketrampilan rakyat menentukan taraf kemajuan dan kesejahteraan yang tinggi. Kita harus melakukan persiapan jangka panjang agar mampu menghadapi masa depan yang akan makin ditentukan oleh kemampuan sendiri dalam menguasai ilmu pengetahuan modern dan teknologi canggih.

Jadi, jauh sebelumnya kita harus mulai. Misalnya mengenai kapal. Kapal mutlak kita butuhkan. Negara kepulauan seperti Indonesia mutlak membutuhkan pesawat terbang dan kapal, serta juga telekomunikasi. Sekarang, besok atau lusa kita memerlukannya. Untuk mempersatukan Indonesia sebagai kesatuan wilayah, kesatuan ekonomi, kesatuan budaya kita memerlukan ketiga macam teknologi itu.

Mengenai ini janganlah sampai kita nanti bergantung pada orang lain. Dan untuk itu kita harus memulainya sekarang, bukan nanti kalau sudah mampu. Kita harus mulai sedini mungkin dan jangan punya pikiran nanti saja.

Mengenai produksi IPTN, tentu saja kita yang lebih dahulu harus berniat untuk membelinya. Misalnya, mengenai CN-235 yang diproduksi oleh IPTN. Selain bahwa memang kita memerlukannya, kita juga harus menjualnya.

Dalam hal ini, kalau IPTN harus menjualnya kepada negara lain, sedang negara kita sendiri belum membelinya, mana pula negara lain mau memakainya. Mereka tentu akan berkata “Tunggu dulu, lihat dulu.” Jadinya, lucu kalau kita menyodorkan kepada orang lain untuk membelinya, sedangkan kita sendiri tidak memakainya. Dan kalau pun kita bisa menjualnya ke luar, belum tentu hal itu bisa rampung dilaksanakan dalam jangka waktu tiga tahun.

Maka itulah, saya, tetapkan, “Beli, CN-235,” Itu policy saya mengenai pengamanan industri kita itu. Kewajiban kita untuk memakai produksi kita sendiri! Sekalipun belum sempurna, kewajiban kita untuk membelinya. Apa lagi kalau sudah sempurna. Mengapa kita harus membeli yang lain?

***



[1] Penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta tahun 1982, hlm 451-454.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.