Apakah Masih Sulit Bertemu Bapak?

Pontianak, 20 Juni 1998

Kepada

Yth. Bapak H. M. Soeharto

Wonten Ndalem

APAKAH MASIH SULIT BERTEMU BAPAK? [1]

 

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pertama-tama saya ingin memperkenalkan diri kehadapan Bapak beserta keluarga, saya hanya seorang Ibu rumah tangga biasa Pak. Ibu dari 4 anak yang sedang menginjak dewasa si sulung perempuan hampir menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti di Ja­karta, no. 2 laki-Iaki sedang kuliah di STT Nas di Yogya, dan no. 3 laki-Iaki kuliah di Fak. Ekonomi di Univ. Tanjung Pura Pontianak, si bungsu laki-Iaki SMA kelas III, sedangkan suami saya Dosen Fak. Hukum Univ. Tanjung Pura dengan golongan IV/D (Guru Besar Univ. Tanjung Pura). Umur 50 tahun. Saya sendiri 45 tahun, saya asli Yogyakarta, suami saya Slamet Rahardjo berasal dari Kerjo Karanganyar – Jateng. Di mana Almarhumah Ibu Tien dulu pemah tinggal, saya sendiri masih kerabat dengan Bapak Zahid Husein yang di Taman Kartini dan berkantor di Granadi itu Pak.

Tujuan saya berkirim surat ini semata-mata hanyalah ingin memberikan dukungan moril kagem Bapak sekeluarga. Perlu Bapak ketahui setiap Bapak sekeluarga mendapatkan hujatan dari masyarakat. Saya betul-betul menangis Pak. Saya sungguh tidak rela lahir batin Bapak dicaci maki begitu. Saya sampai sakit dan susah tidur Pak.

Perlu Bapak ketahui saya adalah pengagum berat Bapak. Dulu pernah berkirim surat waktu Ibu Tien masih sugeng tapi ndak pernah dibalasnya.

Bapak Soeharto yang saya hormati,

Saya sekeluarga berdoa untuk keselamatan Bapak sekeluarga, percayalah Pak. Tuhan tidak sare. Mudah-mudahan Allah akan menunjukkan pada dunia bahwa Bapak adalah bersih. Terutama kepada mereka-mereka yang telah menghujat Bapak.

Saya percaya Bapak pasti kuat menghadapi cobaan ini. Karena Bapak adalah seorang muslim yang taat. Percayalah Pak, Tuhan akan selalu menyertai dan melindungi Bapak sekeluarga. Karena Tuhan selalu berpihak pada yang benar.

Sampai saat ini saya masih sering susah tidur Pak, kalau memikirkan para pengunjuk rasa yang menghujat Bapak. Saya tidak rela Bapak dihujat begitu. Bapak dan Ibu Tien panutan saya. Saya sedih sekarang ndak pernah lagi melihat wajah Bapak dan Mbak Tutut di TV.

Bapak yang selalu senyum dan bijaksana. Kemarin Bapak ada di Majalah Forum, saya senang sekali, membaca: Kegiatan Bapak sekarang di situ diceritakan Bapak sehat, senyumnya masih khas. Hati saya sangat sejuk kalau mendengar Bapak saat ini baik-baik sehat dan tetap fit. Apalagi waktu mendengar Pak Wiranto – Mbak Mega dan Pak Probo memberi keterangan pers agar berhenti menghujat Pak Harto. Hati saya senang, tenteram, anyes.

Pak Harto yang saya kagumi dan hormati,

Saya percaya saat ini Bapak pasti lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, tetaplah berolahraga agar Bapak selalu fit dan sehat dan panjang umur kagem Bapak. Amin.

Sekarang saya nggak bisa lihat lagi acara temu wicara Bapak di TV, saya paling suka acara itu Pak.

Pak Harto yang terhormat,

Saya ingin sekali telepon Bapak ke sini – apakah kira-kira Bapak bersedia maringi nomor telepon. Pada kami Pak? Saya ingin sekali berkomunikasi dengan Bapak atau Mbak Tutut secara langsung lewat telepon. Mudah-mudahan Bapak berkenan agar saya puas dan tidak menjadi penyesalan di belakang hari.

Mungkin surat saya ini aneh Pak, tapi dorongan hati saya sangat kuat, agar saya menulis surat ini setelah Bapak tidak lagi menjabat Presiden. Apakah masih sulit ya Pak kalau ingin bertemu dengan Bapak? Karena saya punya obsesi ingin sekali bertemu dengan Bapak. Mudah-mudahan Bapak berkenan membaca surat saya ini Pak. Meskipun saya tahu surat yang sudah Bapak terima pasti sudah beribu-ribu surat.

Saya sangat bersyukur dan mengucapkan Alhamdulillah bila Bapak atau Mbak Tutut berkenan/sudi membalas surat saya ini. Salam kami sekeluarga katur Bapak sekeluarga. Meskipun kami rakyat kecil tapi kami tulus mendoakan Bapak sekeluarga. Siapa tahu do’a kami dikabulkan Allah meskipun kami rakyat kecil. Insya Allah.

Akhirul kata, kami ucapkan terima kasih atas waktu luang Bapak untuk menyempatkan membaca surat kami ini. (DTS)

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Hormat saya,

Ny. Hj. Kusumastuti, SR.

Pontianak

[1]     Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 450-452. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.