APA KATA DUNIA INTERNASIONAL TENTANG SITUASI DI INDONESIA

APA KATA DUNIA INTERNASIONAL TENTANG SITUASI DI INDONESIA[1]

 

 

Jakarta, Kompas

REAKSI internasional terhadap situasi politik di Indonesia tercermin juga dari ungkapan prihatin para pemimpin delapan negara industri, G-8 (AS, Jepang, Rusia, Jerman, Italia, Inggris, Perancis dan Kanada) yang sedang ber-KTT di Birmingham (Inggris). Keprihatinan mereka khususnya tertuju pada kekerasan yang menyebabkan lebih dari 100 korban tewas.

“Kami mengutuk penembakan mahasiswa dan mendesak aparat menahan diri, jangan menggunakan senjata yang mematikan serta menghormati hak-hak setiap individu. Kami meminta rakyat Indonesia untuk mengemukakan aspirasi-aspirasinya secara damai. Hal ini diperlukan untuk mencegah peningkatan kekerasan.” ujar pernyataan resmi G-8.

Dikatakan, keresahan sosial yang terjadi menunjukkan, krisis hanya bisa diselesaikan melalui reformasi politik dan ekonomi.

“Pentingnya reformasi politik sudah diakui secara luas di Indonesia. Kami menyarankan pemerintah segera menanggapinya secara cepat, dengan membuka dialog untuk mendengar aspirasi rakyat Indonesia, serta dengan mengintrodusir reformasi-reformasi yang diperlukan.” lanjut pernyataan itu.

Sudah lama negara-negara sahabat di luar negeri menyatakan kekhawatiran atas situasi Indonesia. Pemerintah Australia khawatir krisis moneter akan memicu keresahan sosial serta berpengaruh negative terhadap ekonomi Negara Kanguru itu.

“Kami mengajak semua pihak di Indonesia untuk menahan diri.” kata Menlu Alexander Downer.

Strategis

Kekhawatiran Pemerintah AS dan Jepang sifatnya sangat strategis. Sekali Indonesia guncang, akan sulit bagi mereka mengandalkan pengamanan selat-selat strategis di Indonesia yang menjadi urat nadi sekitar 30 persen lalu lintas perdagangan dunia melalui jalur laut. Pemerintah Jepang memperingatkan kepada Menko Ekuin/Ketua Bappenas Ginandjar Kartasasmita di Tokyo, perjanjian keamanannya dengan AS akan diperluas jika keresahan sosial mengganggu lalu lintas navigasi di Selat Malaka. Rasa was-was luar negeri akhirnya menjadi kenyataan setelah penembakan lima mahasiswa Universitas Trisakti. Luar negeri meminta agar diadakan penyelidikan atas penembakkan, dan itu sudah dilakukan Pangab Jenderal TNI Wiranto yang telah membeberkan detail awal penembakan itu. Dunia internasional akhirnya akan menarik napas lega jika penembakan itu kelak terungkap dan kepercayaan akan segera pulih.

Mungkin reaksi yang paling menarik diperhatikan adalah pernyataan PM Malaysia Mahathir Mohamad yang menyalahkan adanya “pihak-pihak asing” yang mencoba menggulingkan Presiden Soeharto dan juga dirinya.

“Dapat dipastikan ada usaha­usaha untuk mendongkel Presiden Soeharto oleh pihak-pihak asing. Sama dengan di Malaysia, pihak-pihak asing juga beberapa kali berusaha menjatuhkan saya.” katanya Jumat lalu.

Tapi Mahathir, yang menyalahkan para spekulan pasar uang sebagai biang keladi krisis moneter, tidak mengungkapkan siapa yang dimaksudnya dengan orang­orang luar negeri itu.

Menurut PM Mahathir, Presiden Soeharto sudah lama menyatakan siap melepaskan jabatannya jika rakyat tidak lagi menghendakinya.

“Ia sudah mengatakan itu sejak lama. Tapi yang, membuatnya kecewa, ada pihak-pihak luar negeri yang ikut ambil bagian.” sambung Mahatir.

Dikatakan pula, penyebab krisis bukanlah Presiden Soeharto karena justru berkat kepemimpinan Presiden Soeharto itulah Indonesia mengalami kemajuan besar.

Hari Kamis malam yang lalu, jaringan televisi CNN menyiarkan wawancara dengan ahli Indonesia dari Northwestem University, Chicago, Jeffrey Winters. Ekonom Amerika ini rupanya tidak cuma ahli di bidangnya, tapi juga memahami budaya politik Jawa. Dengan bahasa yang sistematis dan mudah dicerna, Winters antara lain mengulas soal tipologi pemimpin Jawa dan peranan dukun di kalangan elite politik.

Tapi yang paling menarik, ketika ditanya apa kiranya yang akan terjadi setelah kerusuhan melanda Indonesia malam itu, ia menjawab,

“Kemungkinan besar akan ada pengumuman pemberlakuan keadaan darurat (martial law).”

Ia lalu menyebut kemungkinan keadaan darurat itu juga diyakini kalangan militer Amerika. Tentu Winters belum tentu benar. Tapi sebagai seorang pakar, Winters yang sering ke Indonesia itu bukan hanya memiliki pengetahuan akademis, tapi juga mempunyai jaringan informasi di kalangan militer.

Buat luar negeri, kerusuhan 14 Mei buat Jakarta seperti “wilayah perang” (war zone). Malahan ada yang menyebut Indonesia on the Brink atau di pinggir jurang kehancuran. Kemarin, evakuasi besar-besaran sudah mulai dilakukan sejumlah kedubes asing baik dari Asia maupun Eropa dan Amerika/Kanada.

Reaksi Pers

Selain pemerintah negara-negara sahabat, pers internasional pada umumnya juga melaporkan keprihatinannya, juga kekhawatiran kekerasan itu akan meluas ke mana­mana. Satu hal yang menonjol, pada umumnya pers internasional mengatakan bahwa peranan ABRI sangat diperlukan untuk mengatasi situasi saat ini.

Media massa di Korsel dan Filipina, menyorot dilema yang dihadapi AS dan IMF dalam membantu Indonesia. Menurut harian Segye Ilbo (Korsel), berdasar perhitungan strategis, AS tidak memiliki pilihan kecuali mendukung Pemerintah Indonesia. Koran untuk pengusaha Joong-Ang Ilbo mengatakan,

“Satu-satunya solusi adalah mengadakan reformasi politik sebagai syarat reformasi ekonomi. Apa yang terjadi di Indonesia bukan lagi sebuah insiden yang terisolir. Sudah banyak sinyal yang menunjukkan itu. Gejolaknya akan mengakibatkan ambruknya nilai pasar-pasar uang dan saham di Asia.”

Harian Business World (Filipina) mengecam IMF karena terlambat membantu.

Harian The Straits Times (Singapura) meminta IMF untuk mencari cara agar syarat­syarat bantuan dibuat serileks mungkin.

Harian China Daily (Cina) mengatakan, Pemerintah Cina tidak akan mencampuri urusan “dalam negeri” Indonesia dan tidak akan berkomentar mengenai situasi warga keturunannya.

Pemenang Hadiah Magsaysay, kolumnis Amitabha Chaudhury, di harian Ananda Bazae Patrika (India) menulis, meluasnya krisis ekonomi di Indonesia menimbulkan tanda tanya, apakah ini merupakan bukti dari kegagalan neokapitalisme, atau ekonomi pasar, atau globalisasi? Apa pun, 200 juta penduduk telah membayar harga yang tinggi dengan penderitaannya.

Wemer Adam menulis editorial berjudul Takdir Indonesia dalam harian Frankfurter Allgemeine.

“Badai topan sedang bertiup kencang di pulau-pulau Indonesia. Kenaikan harga-harga seperti sudah mengguratkan sebuah takdir yang mencuatkan dukungan rakyat kepada gerakan mahasiswa. Kalau saja para pemimpin memberikan contoh baik, bangsa ini tentu akan memberikan pengorbanan seperti dikehendaki.”

Ruben Guillem menulis di harian terbesar di Argentina, Clarin, bahwa Indonesia saat ini mau meletus seperti Gunung Krakatau yang legendaris itu. Orang­orang kaya tak mau lagi mengendarai mobil, memilih ojek.

“Kekayaan di Indonesia tidak terbagi rata, cuma dimiliki kelompok-kelompok tertentu pada elite bisnis dan politik. Kalau saja mau mendengar tuntutan anti korupsi dari jalan-jalan, Pemerintah Indonesia mungkin akan selamat dari krisis.”

Harian Bangkok Post (Thailand) menyayangkan, pembangunan ekonomi selama ini, hancur akibat kerusuhan justru akibat tidak berkembangnya demokrasi. Menurut harian independen dan berpengaruh di Thailand itu, kini terdapat dua kelompok yang mempelopori perubahan. Pertama, mahasiswa yang mengajukan protes secara damai dan matang yang dikawal dan dilindungi ABRI, yang bergandengan tangan untuk menciptakan sebuah sistem demokrasi. Kedua adalah rakyat miskin yang tidak pernah diuntungkan oleh keajaiban ekonomi dan selalu paling menderita akibat huru-hara.

Harian ini menyarankan, langkah selanjutnya adalah agar semua unsur dalam masyarakat bahu membahu mengantar bangsa Indonesia memasuki tahap kritis sejarah politiknya.

“Adalah jelas bahwa mahasiswa, massa, dan setiap insan di Indonesia belum merasa nyaman dengan situasi saat ini, yang membuka peluang bagi bangsa Indonesia untuk memulai tugas besar membangun kembali ekonomi dan semangat nasionalnya yang kini sedang mengalami keretakan.” kata Bangkok Post. (Budiarto Shambazy)

Sumber : KOMPAS (17/05/199)

________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 313-316.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.