ANGGARAN PERTANIAN DLM RAPBN 87/88 NAIK 7%

ANGGARAN PERTANIAN DLM RAPBN 87/88 NAIK 7%

 

 

Anggaran pembangunan sektor pertanian dan irigasi dalam tahun anggaran 1987/88 naik tujuh persen dibanding tahun anggaran sebelumnya menjadi Rp.1,18 triliun.

Hal itu dikemukakan Presiden Soeharto dalam pidato pengantar nota keuangan dan RAPBN tahun 1987/88 di depan sidang paripurna DPR-RI, Selasa pagi.

Presiden Soeharto menegaskan bahwa sektor pertanian dan irigasi tetap mendapat prioritas tinggi. Pembangunan sektor pertanian di samping untuk memantapkan keadaan swasembada beras, juga untuk memperkokoh sektor pertanian dalam arti luas.

Dalam Lampiran Nota Keuangan dan RAPBN 1987/88, Presiden Soeharto mengemukakan tujuan pembangunan pertanian selain untuk meningkatkan produksi dan ekspor, juga untuk meningkatkan kehidupan sosial, pendidikan dan tingkat kehidupan petani pedesaan.

Presiden mencatat adanya beberapa komoditi pertanian yang mengalami peningkatan mengesankan. lni berpengaruh terhadap tingkat pendapatan dan kesejahteraan petani, tambahnya.

Produksi beras selama tahun 1986 sampai Agustus meningkat 0,2 persen menjadi 26.585 ribu ton dari 26.537 ribu ton tahun 1985.

Persentase kenaikan produksi beras yang rendah itu disebabkan penurunan luas panen padi sebesar 0,5 persen pada tahun 1986 ketimbang tahun sebelumnya. Luas panen tahun 1986 tercatat 9.781.000 ha.

Areal Insus tahun 1985/86 tercatat 4.787,6 ribu Ha atau 48,7 persen dari areal panen musim tanam 1985/86. Dari areal Insus ini berhasil dicapai produksi beras 24.077 ribu ton.

Produksi jagung, ubi jalar, dan kacang tanah masing-masing naik 40,7 persen, 21 ,9 persen dan 19,6 persen,sedangkan untuk kedelai dan kacang hijau naik 50,9 persen dan 12,7 persen.

Di sub sektor perkebunan terjadi peningkatan produksi sebagai akibat meningkatnya areal produksi, serta meningkatnya produktivitas sebagai hasil usaha rehabilitasi dan intensifikasi.

Tanaman perkebunan yang mengalami peningkatan meliputi kelapa sawit, teh, cengkeh, kapas, coklat,dan gula tebu.

Areal perkebunan sampai tahun 1985 tercatat 10,2 juta hektar, 1,3 juta hektar di antaranya adalam areal perekebunan besar swasta, 0,8 juta hektar perkebunan negara dan 8,1 juta hektar perkebunan rakyat.

Menyinggung devisa yang diperoleh tahun 1985 dari sub sektor ini, Presiden mengemukakan terjadi penurunan sembilan persen dibanding tahun 1984, yaitu dari 1.969,3 juta dolar AS tahun 1984 menjadi 1.791,9 juta dolar AS di tahun 1985.

Di sub sektor peternakan dikemukakan produksi daging, telur dan susu selama tahun 1986 terjadi peningkatan masing-masing 10,9 persen, 6,1 persen,dan 14,6 persen dibanding tahun 1985.

Di sub sektor perikanan selama tahun 1986 terjadi peningkatan produksi 5,8 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi 2.500 ribu ton masing-masing dari perikanan laut 1.910,6 ribu ton dan 589,4 ribu ton dari perikanan darat.

Program Intensifikasi tambak (Intam) dalam rangka meningkatkan produksi udang sekarang ini sudah dilakukan pada 10 propinsi.

Volume dan nilai ekspsor komoditi perikanan selama tahun 1985 tercatat 84.490 ton dengan nilai 259,4 juta dolar AS atau masing-masing naik 11,6 persen dan 4,6 persen. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (06/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 351-352.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.