ANGGARAN PEMBAYARAN BUNGA DAN CICILAN HUTANG LN MENINGKAT 11,4 PERSEN

ANGGARAN PEMBAYARAN BUNGA DAN CICILAN HUTANG LN MENINGKAT 11,4 PERSEN[1]

 

Jakarta, Antara

Anggaran bagi pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri APBN 1996/1997 diperkirakan mencapai Rp.19,93 triliun atau meningkat sebesar Rp2,04 triliun (11,4 persen) dari APBN 1995/1996, demikian Lampiran Pidato Presiden Soeharto ketika menyampaikan Nota Keuangan dan RAPBN tahun anggaran 1996/1997 pada Sidang Paripurna DPR-RI yang dipimpin Ketua DPR/MPR-RI Wahono di Jakarta, Kamis.

Peningkatan ini terutama selain disebabkan meningkatnya jumlah pinjaman yang

telahjatuh tempo pembayaran dengan berakhirnya masa tenggangnya (grace periode), juga akibat adanya depresiasi rupiah terhadap berbagai valuta asing.

Anggaran rutin dalam tahun 1996/1997 juga menampung pembayaran hutang dalam negeri sebesar Rp.290,6 miliar, yang dipergunakan untuk mendukung berbagai jenis pembiayaan seperti pembayaran ganti rugi kepada masyarakat dan berbagai transaksi lainnya.

Sejak beberapa tahun terakhir pos pembayaran bunga dan cicilan hutang, terutama hutang luar negeri, merupakan pos pengeluaran cukup besar dalam anggaran rutin, sehingga menjadi beban yang cukup berat bagi pemerintah.

Hal ini terjadi karena dengan bertambahnya kewajiban pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri secara langsung akan mengurangi kemampuan dalam menghimpun tabungan pemerintah.

Realisasi Pembayaran

Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri dalam tahun pertama Repelita VI (1994/1995) mengalami peningkatan 6,9 persen jika dibandingkan dengan tahun terakhir Repelita V ( 1993/1995) akibat adanya percepatan pembayaran terhadap sebagian pinjam an luar negeri yang memiliki tingkat bunga tinggi.

Lebih tingginya realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri dalam tahun anggaran 1994/1995 (Rp.18,22 triliun), bila dibandingkan dengan tahun 1993/1994 (Rp.17,04 triliun), terutama disebabkan oleh adanya percepatan pembayaran (prepayment) terhadap pinjaman luar negeri berbunga tinggi dalam tahun tersebut yang dibiayai oleh dana hasil penjualan saham bagian pemerintah pada PT. Indosat di bursa saham New York.

Selanjutnya dalam APBN 1995/1996 pembayaran bunga cicilan hutang luar negeri dianggarkan sebesar Rp.17,90 tri liun, atau 1,8 persen lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Dibandingkan dengan tahun terakhir Repelita V, peranan pembayaran bunga cicilan hutang luar negeri terhadap pengeluaran rutin secara keseluruhan selama Repelita VI mengalami penurunan yaitu menjadi sebesar 42,2 persen (1994/1995) dan 37,9 persen (1995/1996).

Realisasi pembayaran hutang da1am negeri sejak awal Repelita I hingga tahun pertama Repe1ita VI realisasi juga tampak mengalami peningkatan, yaitu rata-rata sekitar 22,3 persen per tahun.

Peningkatan rata-rata realisasi pembayaran hutang itu dapat dilihat dari besarnya realisasi masing-masing Repelita, yaitu pada Repelita I realisasinya sebesar Rp.24,5 miliar, Repelita II Rp.40,9 miliar, Repelita III Rp.199,5 miliar, dan Repelita IV Rp.128,3 miliar.

Sementara itu dalam tahun pertama Repelita VI realisasi pembayaran hutang dalam negeri diperkirakan mencapai sebesar Rp.204,0 miliar, dan dalam tahun kedua Repelita VI (APBN 1995/1996) pembayaran hutang dalam negeri  dianggarkan  sebesar Rp.318,8 miliar.

Sumber : ANTARA (4/1/1996)

________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 257-258.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.