ANALISA BERITA : GAMBLANG, TERBUKA DAN JUJUR

ANALISA BERITA : GAMBLANG, TERBUKA DAN JUJUR[1]

 

 

Oleh : Dr. La Ode Kamaluddin MSc. Jakarta, Republika

Pidato pertanggungjawaban Presiden Soeharto di hadapan Rapat paripurna MPR RI yang bersidang 1 Maret 1998 kita dapat membaginya dalam dua kategori besar, yaitu sosial politik dan ekonomi yang didominasi oleh gambaran naik dan turunnya prestasi ekonomi bangsa yang dilewati selama lima tahun periode kepemimpinnya.

Sebagai contoh, Presiden memaparkan dengan gamblang dan detail keberhasilan pembagian sejak tahun 1993, sampai dengan bulan juli 1997. Prestasi yang dicapai bangsa Indonesia dapat dilihat pada indikator ekonomi selama periode 93-97 yaitu tumbuh penduduk dapat ditekan sampai 1,54 persen pada tahun 1997. GNP per kapita mencapai Rp.3,1 juta pada tahun 1997. Hal ini melampaui sasaran repelita VI sebesar Rp.3 juta perkapita. Sementara itu laju inflasi dapat dikendalikan sekitar 5,2 persen.

Namun demikian seperti dikatakan presiden tahun 1997 adalah tahun keprihatinan bagi kita. Faktanya adalah banyak kecelakaan didarat dilaut, dan di udara, kebakaran lahan dan hutan yang telah mencemari udara dan mengganggu urat nadi perekonomian nasional. Dalam waktu yang sama kawasan Asia Timur dilanda krisis keuangan yang parah dan belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam kaitan ini diantara negara krisis, di Indonesia termasuk yang berat dan parah. Gambaran-gambaran diatas dengan gamblang oleh presiden dengan kejujuran yang tinggi. Sebagai contoh presiden mengemukakan bahwa walaupun berbagai upaya dan langkah strategis terus diupayakan namun belum ada tanda-tanda keadaan ekonomi bertambah baik. Malah kehidupan rakyat tambah berat. Secara menyeluruh nilai tukar rupiah kita tetap saja melemah, akibatnya perusahaan-perusahaan mengalami kesulitan besar dan menurunkan kegiatannya. Bahaya pengangguran mulai tampak. Harga barang kebutuhan hidup sehari-hari baik Ibu-ibu rumah tangga dan keluarga keluarga yang berpenghasilan rendah mengalami kegelisahan. Situasi seperti ini potensial menimbulkan kerusuhan.

Melihat kenyataan tersebut tampaknya presiden berusaha mengajak bangsa Indonesia untuk menyadari betapa berat masalah dan dampak yang dihadapi perekonomian nasional, sehingga Presiden menulis surat kepada Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menanggulangi krisis moneter itu.

Salah satu hal yang penting untuk dicatat, disamping keprihatinan yang ditimbulkan oleh krisis moneter adalah kesediaan mandataris MPR itu untuk melakukan program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan untuk memulihkan kepercayaan pada mata uang rupiah, lembaga-lembaga keuangan dan terhadap masa depan perekonomian nasional.

Jika semangat reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan tersebut dijalankan dengan sungguh-sungguh, konsisiten dan penuh kreativitas, maka krisis sekarang ini dapat diatasi.

Pidato Presiden Soeharto itu juga sekaligus memberi gambaran tentang sesuatu yang saat ini di tunggu-tunggu kepastian langkah apa yang akan ditempuh pemerintah dalam mengatasi krisis moneter saat ini. Dalam hal ini kita melihat bahwa komitmen dengan IMF harus dijalankan sepenuhnya. Oleh karena itu usaha-usaha untuk menstabilkan rupiah seharusnya juga menjadi perhatian IMF, bahkan IMF harus membantu menemukan cara-cara terbaik untuk memecahkan masalah itu.

Sumber : REPUBLIKA (02/03/1998)

___________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 121-122.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.