ANAK2 SEKOLAH DIKERAHKAN UNTUK MENYAPU JALAN

ANAK2 SEKOLAH DIKERAHKAN UNTUK MENYAPU JALAN

 

Kesan2 mengikuti Kunjungan Presiden Soeharto Ke PNG

Oleh Wartawan “SH” Annie Bertha Simamora

 

Sungguh bijaksana bahwa Presiden Soeharto memutuskan untuk terlebih dahulu mengunjungi tetangga terdekat Indonesia di bagian Timur Papua Niugini atau bisa ditulis dengan akronim PNG, sebelum Kepala Negara RI itu berkunjung lebih ke Timur lagi.

Bagi para pemimpin negara yang berbatasan darat dengan Indonesia itu, kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto yang didampingi Nyonya Tien tgl. 4-6 Juni yl. dianggap suatu kehormatan. Bagi rakyat setempat merupakan perkenalan dengan tetangga yang sudah banyak didengar tapi belum sempat diketahui dari dekat.

Seorang diplomat kawan PNG, “bahwa bagi rakyat negaranya kunjungan2 dari Australia dan Selandia Barn sudah biasa. Malahan kunjungan Ratu Inggris mereka anggap semacam hiburan tapi kunjungan Presiden dari Indonesia merupakan kunjungan kenegaraan yang benar-benar dengan segala sambutan kenegaraan dan arti politisnya.”

Sederhana

Sambutan keseluruhan dari pihak tuan rumah atas kunjungan selama kira-kira 40 jam memang sederhana sekali. Terdapat dua keumungkinan. Ini baru pertama sekali negara tetangga benar-benar mengadakan kunjungan kenegaraan. Negara yang baru merdeka 16 September 1975 itu memang membuatnya sesantai mungkin agar terasa lebih hangat.

Dilapangan terbang Internasional Jackson’s Presiden berdiri berdampingan dengan Gubernur Jenderal Lokoloko diatas panggung sederhana sekali untuk mendengarkan Indonesia Raya dan menyambut barisan kehormatan.

Namun sambutan dilapangan terbang itu lengkap permadani merah direntangkan. Presiden maupun Ny. Tien mendapat kalungan bunga anggrek dari sepasang muda­mudi PNG berpakaian tradisional rok berambu-rambu.

Serombongan penari dari Akademi Kesenian memperlihatkan tarian-tarian tradisional PNG, tidak jauh dari perut pesawat DC-8 milik Garuda. Namun yang paling hangat terpancar dari ribuan rakyat

Sepanjang jalan 6 mil dari Jackson’s Intemasional Airport yang dilalui rombongan Presiden terdiri dari anak sekolah, anak-anak berkaki telanjang yang berhenti bermain, ibu rumah tangga yang meninggalkan dulu pekrjaannya. Bapak yang membopong anaknya yang masih kecil yang ditinggikannyake udara untuk dapat melihat siapa yang sedang berlalu. Tidak ketinggalan mahasiswa dari Universitas PNG perguruan tinggi satu-satunya di Port Moresby.

Ada yang bermaksud menyambut dengan baik-baik. Ada pula dari mereka yang hanya ingin membuat onar untuk memalukan pemerintahnya. Ada yang membawa poster anti Indonesia, tapi inipun selalu muncul dikeramaian-keramaian lain dikota itu, sekedar untuk menarik perhatian. Tapi demikianlah. Penduduk Port Moresby yang hanya melebihi 100 ribu itu numplek ditepi jalan sepanjang 6 mil, melambai kepada semua rombongan tamu dari Indonesia.

“Presiden Soeharto sama sekali tidak memperlihatkan reaksi melihat para demontrasi itu dari dalam kendaraan limousine yang ditumpanginya”, begitu satu-satunya harian PNG “Post Courier” menulis esok harinya.

Pada jamuan makan malam kenegaraan di Hotel Travelodge yang diselenggarakan PM Somare untuk tamunya teijadi sedikit kemacetan karena banyak yang belum paham mencari tempat duduknya sampai ada pejabat tinggi Indonesia yang “shrimp coctails”nya pembuka makan tercicip tamu lain.

Tapi sambutan begitu spontan dari para pejabat dan pemuka masyarakat. Setiap kali penterjemah Presiden Soeharto Drs. Widodo Sutyo terpaksa berhenti karena tepukan tangan dan pukulan meja dari hadirin apabila ada yang berkenan dihati mereka pada bagian pidato Presiden. Ada pula yang memberi komentar dengan: “Very Good, very good” atau dengan “That’s right, that’s right”.

Barangkali dalam karir Widodo sebagai penterjemah Presiden, belum pernah ia mendapat sambutan seperti pada jamuan makan malam kenegaraan di Port Moresby itu.

Sewaktu bersalaman di bawah tangga pesawat yang membawa rombongan Presiden ke Tokio, PM Samore berbicara lama sekali dengan Presiden Soeharto. Kelihatan ia enggan melepas tamunya itu. Di air mukanya jelas tergambar rasa gembira dan puas. Entah apa yang ia katakan kepada Presiden Soeharto. Yang pasti ia gembira ”tetangga dari seberang jalan” sudah mengunjunginya.

Hubungan RI-PNG

Sejak semula diketahui bahwa tidak terdapat masalah menunggu penanganan antara kedua negara. Satu-satunya barangkali yang mengganjal hanyalah masalah yang menyangkut perbatasan. Banyak penduduk Irian Jaya yang menyeberang.

Hampir seluruhnya dengan motivasi ekonomi, sekaligus mengunjungi keluarga. Dapat dimengerti mengapa mereka seenaknya menyeberang tanpa permisi kepada penguasa didaerahnya dan kepada penguasa tempat yang ditujukan.

Sejak dulu mereka ini bebas saling berkunjung, tanpa ada batas-batasan. Tiba-tiba sesudah yang di Irja dimerdekakan dan masuk kedalam pangkuan lbu Pertiwi, kemudian yang di PNG pun mendapat kemerdekaan dari Australia, kok justru mereka tidak bebas saling berkunjung. Cara berpikir sederhana saudara-saudara kita yang disana tidak bisa mencerna hal ini.

Tapi terdapat juga segelintir penduduk lrja yang menyeberang oleh motivasi politik. Dihasut, termakan desas desus atau memperoleh keuntungan pribadi. Perbuatan mereka itu kemudian dikipas pula oleh pers asing, terutama pers Australia.

Yang pertama maupun yang kedua sama-sama diperlakukan wajar oleh penguasa PNG Dimasukkan kedalam karantina tiga bulan. Sesudah itu boleh mencari pekerjaan, dengan kesempatan dan penghasilan yang sama dengan penduduk setempat, apabila ketrampilannya sama pula.

Yang bermotivasi politik tidak boleh mempunyai kegiatan politik, kalau tidak akan diusir. Juga selama tiga bulan itu ia boleh mencari perlindungan politik kepada negara ketiga. Hal ini terakhir dilakukan oleh Jacop Pral dengan kawan-kawan yang sudah berangkat ke Swedia.

Menteri Luar Negeri yang juga menjabat sebagai Wkl PM PNG, Olewale, dilapangan terbang Jackson’s sesaat sebelum rombongan Presiden meninggalkan PNG masih sempat memberikan angka 130, jumlah penduduk hja yang sekarang berada dalam karantina di negaranya. Bagi negara berpenduduk kira-kira 3 juta dengan lapangan pekerjaan yang sempit oleh karena belum meluasnya pembangunan, jumlah tsb pada suatu saat tentu mengkhawatirkan.

Kekhawatiran mereka ini tergambar dalam pembicaraan Presiden Soeharto dan PM Somare, maupun pada perundingan tingkat Menteri dan pejabat tinggi antara kedua belah pihak. Pihak PNG ingin mefokuskan pembicaraan pada keinginan agar pembangunan di perbatasan bagian Indonesia ditingkatkan agar setaraf dengan yang di PNG Dengan demikian pendudukdari lrja tidakharus tergoda untuk menyeberang mencari penghidupan yang lebih baik.

Terdapat kekhawatiran lain, terpengaruh oleh suara dari luar. Penggabungan, secara wajar, Timor Timur ke dalam wilayah RI yang dimulai dengan pergolakan tahun 1975, membuat PNG tidak 100% tidak resah. Namun untunglah Kepala Negara berkunjung dan semua keterangan danjaminan diperoleh dan diberikan oleh tangan pertama.

Pasti inilah yang sudah terjadi, mengapa pembicaraan empat mata antara Presiden Soeharto dan PM Somare tidak berlangsung lama.

Pada jamuan makan kenegaraan, PM Somare sudah menggunakan kata kerja lampau (past tense) ketika ia berkata, “masalah-masalah sekuriti perbatasan cenderung menelingkupi unsur-unsur lain dalam hubungan bilateral kita yang luas itu. Sekarang kita semakin mampu meninjau sebegitu banyak aspek dari hubungan itu dalam perspektifnya yang wajar”.

Kerjasama Industri

Sewaktu kunjungan ke PNG itu Menko Polkam Panggabean dan Wkl. PM/ Menlu Olewale menandatangani perjanjian kerjasama industri antara kedua negara. Yang akan dipertukarkan sederhana sekali, siaran radio, siswa, pertanian, peternakan, peningkatan gizi, keluarga berencana, pembuatan batu bata atau genteng.

PM Somare mengatakan kerjasama ini sebagai pertanda hubungan kedua negara semakin dewasa. Juga pelaksanaan dari keputusan-keputusan negara berkembang yang diambil di Buenos Aries. ECDC atau kerjasama ekonomi antara negara berkembang dan TCDC atau kerjasa tehnik antara negara berkembang.

Somare juga katakan, kerjsama itu bukan saja merupakan alat untuk mendorong hubungan bersahabat antara dua negara, namun saling tukar pendapat untuk pembangunan yang sehat dimasing-masing negara.

Tapi barangkali arti yang tidak kurang pentingnya ialah bahwa RI dan PNQ dua negara yang sedang berjuang untuk membangun negaranya masing-masing, memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka juga bisa saling menolong masing­ masing. Sehingga terlaksana pula apa yang dikatakan Presiden pada Dubes Busiri di Cendana 14 Juli tahun 1978, agar kerjasama RI-PNG harus ditingkatkan. “Jangan omong kosong saja”.

Seribu tahun yl sudah terdapat hubungan dagang antara kepulauan Indonesia dan PNG. Metal, bahan pakaian dan porselein dari Indonesia dipertukarkan dengan rempah dan bulu2 burung yang indah dari PNG. Namun sekarang hubungan yang demikian belum ditingkatkan.

Barangkali karena hampir semua hasil bumi dantambang yang dihasilkan tidak berbeda. Luas wilayah PNG yg 462.810 km2, 90% terdiri dari hutan yang menghasilkan kira-kira AS$ 23 juta devisa pada tahun 1975176.

Di Bougainville terdapat proyek tembaga yang segera merupakan penghasil devisa utama bagi PNG. Sebuah pertanian kelapa sawit terbesar di dunia belum lama berselang dibuka di PNG. Negara itu juga menghasilkan kopi, coklat, teh, karet.

Forum Pasifik Selatan

Terdapat faktor lain mengapa RI dan PNG tidak perlu semesra RI dengan negara­ negara anggota ASEAN. Secara politis PNG lebih berorientasi pada tentangganya di bagian timur.

Lebih menguntungkan baginya untuk menjadi anggota Forum Pasifik Selatan (FPS) daripada masuk ASEAN. Namun RI dan PNG merasa dekat dalam hal lain. PNG merasa bertanggungjawab untuk bertindak sebagai juru bicara Forum Pasifik Selatan kepada ASEAN.

Menlu Olewale sudah dua kali menjadi peninjau pada sidang tahunan Menlu-menlu ASEAN, dan di Bali akhir Juni iajuga akan hadir kembali dalam kapasitas demikian.

Juga merupakan keinginan PNG agar Indonesia juga bertindak sebagai juru bicara ASEAN untuk Forum Pasifik Selatan melalui PNG. Hanyalah sikap sederhana Indonesia yang tidak mau menonjol dalam ASEAN yang membuat ia tidak konteks menjuru bicarai masing-masing kerja sama regional itulah barangkali kedudukan Indonesia dan tetangganya PNG tidak bisa lain harus dekat.

Ada baiknya dicatat disini bahwa Menlu RI Mochtar-lah yang mengemukakan rasa tidak enak ketika bunyi komunike bersama yang dikeluarkan sehabis sidang tahunan Menlu-Menlu ASEAN di Pattaya, Muangthai, tahun yl, hanya menyebutkan mengenai kehadiran Olewale, tanpa ada isi apa-apa.

“Ia sudah tekun dua kali hadir sebagai peninjau. Kalau hanya demikian hasilnya ia kan bisa ditertawai rekan-rekannya di FPS ?” berkata Mochtar ketika itu.

Barangkali karena ingin kehadirannya tidak sia-sia itulah maka PM Somare minta jasa-jasa baik Presiden Soeharto agar nanti selesai sidang, Menlunya Olewale dapat diberikan briefing mengenai hasil pertemuan dan dengan demikian ia dapat mendebriefing rekan-rekannya nanti di FPS.

Somare menunjuk bagaimana letak geografis negaranya dapat dipergunakan untuk menyumbang bagi terselenggaranya dialog antara sebuah negara maupun antara keijasama regional di Asteng maupun di Pasifik.

Ia tidak lupa menyebutkan bahwa apabila kehadiran Olewale sebagai peninjau digunakan sebaik-baiknya, dapat menciptakan pengertian antara rakyat Asia dan Pasifik.

Walaupun kunjungan Presiden Soeharto dan rombongan hanya kira-kira 40 jam, tidaklah pula tanpa dibunga-bungai. Seorang anggota Parlemen.

Federasi?

Nona Josephine Abaijah dari partai oposisi minta di depan sidang Parlemen agar PNG lebih baik tergabung saja dengan Indonesia dalam suatu federasi Indonesia yang di perluas.

“Dengan cara ini kita dapat masuk ke dalam Asia yang lebih luas yang kaya akan realita kebudayaan. Kita harus mempunyai keberanian untuk meneliti kemungkinan ini mengingat realita geografis dan politik untuk tujuan rakyat banyak”.

Pada malam Presiden dan rombongan tiba, radio setempat menyiarkan pidato Walikota Port Moresby yang menyalahkan kantor PM Somare yang tidak memberi tahukan kepada Balai Kota akan kedatangan Presiden Soeharto. Sehingga Balai Kota kata Walikota itu tidak dapat membuat persiapan seperti memasang bendera Indonesia yang lebih besar untuk menyambut tamu dari Indonesia itu.

Tinggal beberapa jam sebelum pesawat yang membawa rombongan mendarat, anak-anak sekolah dikerahkan untuk menyapu jalan-jalan yang akan dilalui rombongan. Gambar di koran setempat memperlihatkan anak-anak gadis bertelanjang kaki sambil tertawa-tawa menggunakan garukan untuk membersihkan jalanan.

Namun kritikan Walikota itu langsung mendapat jawaban dari Somare. Ia mengkritik Balai Kota yang tidak memberikan sambutan wajar karena kotanya kotor.

Rupanya ada cerita lain dibalik saling kritik ini. Walikota yang sekarang rupanya “meng-kup” kedudukkan itu dari partai PM Somare ketika yang dikup sedang bepergian keluar negeri.

Semuanya ini tentu disambut anggota rombongan sebagai semacam Oposisi Lambakey Okuk. Kunjungan Presiden Soeharto merupakan pernyataan Indonesia bahwa negara itu menginginkan hubungan lebih baik dengan PNG Dan demikianlah kenyatannya. (DTS)

Port Moresby, Papua Niugini, Sinar Harapan

Sumber: SINAR HARAPAN (19/06/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 103-108.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.