Anak Bapak Hidup Mewah

Surabaya,……1998

Kepada

Yth. Bapak Soeharto

di kediaman

ANAK BAPAK HIDUP MEWAH [1]

 

Saya sebagai WNI yang cinta bangsa dan tanah air, sangat menyayangkan keputusan Bapak untuk berhenti dari jabatan Presiden Rl. Terus terang, sebagai seorang mahasiswi dan calon penerus bangsa, saya juga setuju reformasi. Tapi saya tak menyangka kalau rakyat akan menuntut Bapak untuk turun/mundur dari jabatan presiden. Saya pengagum Bapak dan saya tahu Bapak adalah figur seorang pemimpin negara yang adil, jujur, dan bijaksana. Hal ini sudah terbukti selama 32 tahun Bapak memerintah negeri tercinta ini. Saya yakin dan percaya kalau Bapak sebenarnya tidak bersalah. Saya sedih karena Bapak harus menanggung semua kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di dekat/sekeliling Bapak, sehingga Bapak harus melepaskan jabatan yang sudah begitu erat dalam hidup Bapak. Saya tidak menyalahkan atau mengutuk Bapak, tapi yang saya sayangkan kenapa (seperti kata pepatah), “Anak yang berbuat orangtua yang bertobat/menanggung.”

Saya tahu rakyat Indonesia sekarang ini sangat membenci keluarga Bapak, terutama pada anak-anak kandung Bapak. Karena seperti yang saya dengar, anak-anak Bapak sepertinya ingin menguasai bisnis di semua sektor. Mereka memonopoli hampir semua perusahaan-­perusahaan besar dan bonafid. Hal ini yang memicu kemarahan rakyat Indonesia, yang sebagian besar golongan menengah ke bawah. Mereka melihat bahwa keluarga anak-anak Bapak hidup serba mewah sedangkan rakyat Indonesia masih banyak yang kelaparan. Seandainya anak-anak Bapak yang pengusaha-pengusaha sukses itu tidak berambisi untuk menjadi pengusaha top sebaliknya hidup sederhana, saya yakin 100% bahwa rakyat Indonesia tidak akan menyalahkan Bapak.

Coba kita tengok ke belakang (10 tahun yang lalu), di mana anak-anak Bapak belum sesukses sekarang, di mana bisnisnya tidak menggila dan di mana mereka belum menjadi pengusaha besar. Keadaan Indonesia sangat tenteram dan sentosa, rakyat belum mempermasalah­kan soal korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tapi sekarang? Keadaan berbalik 180°, bahkan Bapak sendiri dianggap sebagai biang korupsi, kolusi dan nepotisme. Padahal dulu Bapak adalah Bapak Pembangunan Indonesia. Tapi jangan khawatir, Pak, saya tetap akan menghargai jasa-jasa dan pengabdian Bapak terhadap bangsa ini. Saya akan terus mengenang dan mengagumi Bapak sebagai pemimpin yang baik, adil dan jujur, tapi sayang sekali harus menjadi korban dan tumbal buat mereka yang benar-benar koruptor dan bersalah.

Saya doakan semoga Bapak sehat-sehat selalu dan mendapat perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Amin. (DTS)

Salam,

Sherlij Supit

Surabaya

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 208-209. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.