AMANAT PRESIDEN PADA RAPIM ABRI 1980

AMANAT PRESIDEN PADA RAPIM ABRI 1980

Pengantar Redaksi

Mengingat pentingnya isi amanat Presiden Soeharto pada pembukaan Rapat Pimpinan ABRI 1980 di Pekanbaru belum lama ini, berikut ini kami turunkan amanat tertulis tsb secara lengkap. Kiranya dapat dimaklumi masyarakat luas dan bermanfaat.

Redaksi

DENGAN senang hati saya penuhi permintaan Saudara Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata kepada saya untuk hadir dan meresmikan pembukaan Rapim ABRI yang untuk kali ini berlangsung di wilayah Sumatera, di Pekanbaru.

Tahun yang lalu Rapim ABRI itu berlangsung di Timor-Timur, propinsi yang termuda dari wilayah negara kita, dan kepada saya dilaporkan bahwa Rapim-rapim ABRI selanjutnya akan diadakan di daerah2 lain secara bergiliran.

Saya menyetujui sepenuhnya pertimbangan Saudara Menteri Hankam/Pangab mengenai penyelenggaraan Rapim ABRI di daerah2 ini, karena dengan penyelenggaraan rapat pimpinan ABRI di daerah2 itu diharapkan dapat memantapkan lagi kemanunggalan ABRI dengan rakyat.

Beradanya seluruh pimpinan ABRI, pimpinan Angkatan2, para Panglima Daerah dan Perwira2 lainnya dari Pusat di tengah2 masyarakat daerah, akan makin menambah pengetahuan dan pengenalan Saudara2 semua mengenai daerah-daerah di seluruh Indonesian ini. Sebaliknya, daerah-daerah juga akan merasa bangga dapat menjadi tuan rumah dari Rapim ABRI yang demikian penting.

Secara lahiriah Saudara2 para pimpinan ABRI dan Perwira2 Tinggi memang hanya beberapa hari berada di tengah2 masyarakat setiap daerah, namun berlangsungnya Rapim ABRI di daerah2 itu akan terus memperkuat hubungan batin antara ABRI dengan rakyat.

Hubungan batin antara ABRI dengan rakyat yang kuat itulah yang menjadi kunci sukses tugas2 ABRI, baik sebagai unsur kekuatan hankam maupun sebagai kekuatan sosial.

Rapim ABRI kali ini, mempunyai arti yang penting, baik dalam rangka memantapkan konsolidasi ABRI, maupun dalam rangka meningkatkan pengabdian ABRI dalam mensukseskan tugas2 nasional, khususnya tugas pembangunan bangsa dan negara. Konsolidasi kekuatan ABRI itu jelas sangat perlu dilaksanakan secara terus menerus, apalagi dalam kita memasuki dasawarsa 80an ini.

Keadaan dunia pada umumnya, termasuk keadaan wilayah di sekitar Asia Tenggara ini diliputi oleh berbagai ketegangan dan ancaman peperangan. Keadaan dunia yang demikian itu mengharuskan kita bersikap sangat waspada dan selalu siap siaga, baik untuk menjaga dan melindungi keamanan seluruh wilayah dan kedaulatan negara, maupun dalam rangka mensukseskan dan mengamankan pelaksanaan tugas terpokok kita, ialah melaksanakan pembangunan untuk kemajuan dan kesejateraan seluruh rakyat.

Dalam hubungan ini, pedoman sikap bangsakita sudah jelas, ialah ke luar, melalui segala cara dan forum, kita harus ikut menghindarkan dunia dari bahaya peperangan.

Di lain pihak, kita memperkuat usaha perdamaian dan memperhebat kerjasama antar bangsa untuk pembangunan seluruh umat manusia. Sikap kita yang demikian itu tidak lain adalah pelaksanaan dari tugas negara dan bangsa Indonesia seperti yang tercantum Pembukaan Undang-Undang Dasar kita, ialah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ke dalam, kita harus terus memperkuat ketahanan nasional di segala bidang, agar kita mampu menghadapi segala kemungkinan, baik ketahanan di lapangan ideologi, politik, ekonomi, sosial maupun pertahanan keamanan sendiri.

Keadaan dan arah perkembangan dunia itu perlu terus kita ikuti dan kita perhitungkan sebaik2nya untuk mengamankan jalannya pembangunan kita dan untuk merancang kelanjutan pembangunan ABRI sendiri di masa datang, agarABRI benar2 dapat tetap kuat dan tangguh serta mampu melaksanakan dwi fungsinya.

Dalam pacta itu, rencana dan kebijaksanaan yang ditempuh oleh ABRI hanya akan berhasil dilaksanakan, apabila kebijaksanaan tersebut dapat dimengerti dan didukung oleh rakyat maupun juga dimengerti dan diyakini kebenarannya oleh warga ABRI sendiri, sehingga merupakan motivasi yang kuat untuk melaksanakannya.

Dalam rangka memantapkan pelaksanaan Dwi Fungsi itu, maka konsolidasi ABRI perlu dilanjutkan. Dalam hubungan ini, maka pembangunan ABRI sendiri harus dilanjutkan dan dimantapkan. seperti berulang kali pernah saya katakan, pembangunan ABRI dan pembangunan pertahanan keamanan itu merupakan bagian dari keseluruhan pembangunan nasional. Dan setelah kita melaksanakan REPELITA I dan REPELITA II, maka dalam REPELITA III ini keadaan ekonomi dan keuangan negara telah meningkat dan jauh lebih baik jika dibanding dengan keadaan kita waktu memulai REPELITA I dahulu, sehingga kemampuan negara juga meningkat yang memungkinkan menyediakan anggaran yang lebih besar untuk pembangunan ABRI/HANKAM.

Meskipun demikian, hendaknya tetap disadari bahwa bagaimanapun juga, kemampuan keuangan negara tetap terbatas, karena masih banyak sektor2 pembangunan lain yang harus kita garap untuk mempercepat kemajuan dan makin meratakan keadilan. Karena itu, anggaran yang tersedia bagi pembangunan pertahanan keamanan harus digunakan se-baik2nya. Dan apabila kita sekarang mulai dapat meningkatkan pembangunan fisik ABRI dan menyediakan peralatan senjata yang sampai dilupakan bahwa factor manusia jualah yang menentukan.

Oleh karena itu, dalam setiap tahap pembangunan dan setiap langkah konsolidasi, pembinaan mental dan semangat prajurit TNI/ABRI yang berlandaskan kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945,Sapta Marga dan Sumpah Prajurit adalah mutlak, di samping harus selalu memikirkan kemungkinan meningkatkan kesejahteraan prajurit dan keluarganya.

Karena pembangunan pertahanan keamanan itu jelas memerlukan biaya yang tidak murah, maka pelaksanaannya harus diusahakan seefektif dan seefisien mungkin dengan mengarahkan pengadaan peralatan dan berbagai fasilitas yang dibutuhkan, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab tantangan2 masa sekarang, melainkan juga diarahkan untuk kelanjutan pembangunan jangka panjang. Karena itu dalam pengadaan peralatan misalnya, hendaknya dipilih yang tidak lekas usang.

Demikian pula dalam membangun pangkalan untuk kesatuan operasional berikut asrama dan perumahan prajurit misalnya, supaya diusahakan agar hasilnya yang sebaik mungkin agar dapat tahan lama. Sedangkan lokasinya hendaknya dipilih di tempat yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan perang wilayah kita dan sekaligus dapat mendorong pengembangan wilayah.

Penyediaan fasilitas2 pendidikan dan latihan juga perlu terus ditingkatkan dan diperbaiki mutunya pada senua tingkat dan jenjang. Hal ini sangat penting untuk pengembangan dan peningkatan mutu dan mental personil ABRI, sehingga dapat diandalkan kemampuannya dan selalu dalam kondisi yang segar dan kesiagaan.

Salah satu hal penting yang saya minta diperhatikan dalam pembangunan ABRI, adalah usaha untuk meningkatkan produksi dalam negeri agar ABRI pada saatnya dapatmemenuhi kebutuhannya dengan produksi sendiri.

Karena itulah, dewasa inikita telah mulai menggarap pengembangan industri pertahanan, yang sekaligus kita usahakan untuk dikaitkan dengan pengembangan industry secara nasional dalam rangka memenuhi kebutuhan nasional akan berbagai hasil industri dan jasa. Dalam hal ini, saya sangat menghargai usaha nyata ABRI untuk makin banyak menggunakan produksi dalam negeri, terutama untuk perbekalan umum.

Memang, sesungguhnya banyak yang dapat kita lakukan untuk mempercepat pembangunan ini dengan memadukan berbagai sektor pembangunan nasional.

Demikian pula kebijaksanaan pembangunan dan pembinaan kekuatan ABRI harus benar2 terpadu dan terarah dalam rangka pembinaan fungsi2 ABRI sebagai alat pertahanan keamanan dan sebagai kekuatan sosial. Dalam hubungan ini saya ingin menegaskan bahwa dalam rangka melaksanakan tugas2 sebagai alat pertahanan keamanan, ABRI harus berdiri di atas semua golongan, karena ABRI adalah aparat negara pelindung seluruh rakyat dan segenap tumpah darah Indonesia.

ABRI yang merasa bertanggungjawab dan berkewajiban untuk membela dan menjaga Pancasila dengan tidak mengenai menyerah, seperti yang dengan jelas dan tegas dirumuskan dalam Sapta Marga dalam perjoangan mendukung dan membela ideologi negara pancasila, bukan saja melaksanakan peranannya sebagai kekuatan hankam, tetapi juga sebagai kekuatan sosial.

Sebagai kekuatan sosial maka ABRI menggunakan cara2 yang demokratis dan konstitusional, seperti yang diwajibkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar’ 1945 itu sendiri, dan tidak dengan kekerasan atau paksaan, apalagi dengan menggunakan senjata.

Karena itu, sebagai kekuatan social ABRI dalam memperjoangkan cita2nya dan dalam menjaga kelestarian Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 bergandengan tangan dan bersama2 dengan kekuatan sosial politik serta organisasi2 masyarakat, yang terpercaya dan setia kepada Pancasila.

Kesediaan setiap prajurit ABRI kepada Pancasila tidak pernah akan berhenti selama hidupnya. Ini berarti: walaupun seorang prajurit ABRI telah memasuki masa pensiun, namun perjoangannya dalam mempertahankan dan melaksanakan Pancasila tetap dilanjutkan.

Di sinilah arti yang sangat penting bagi Pepabri sebagai wadah bersama dari segenap purnawirawan ABRI untuk melanjutkan tekadnya dalam mempertahankan dan melaksanakan Pancasila. Karena Pancasila adalah miiik seluruh rakyat Indonesia, maka dalam perjoangan mempertahankan Pancasila ini Pepabri juga harus erat bergandengan tangan dan bahu-membahu dengan kekuatan sosial politik yang benar2 setia kepada Pancasila.

Dengan demikian panggilan hidup setiap prajurit ABRI dalam mempertahankan Pancasila itu mendapatkan saluran2 yang jelas, baik selama ia berdinas aktif dalam ABRI maupun setelah ia memasuki masa purnawirawan.

Karena itu, saya juga minta agar pimpinan ABRI terus mengadakan hubungan dan kerjasama yang erat dengan Pepabri. Dengan demikian maka perjoangan secara demokrasi dan konstitusional dalam mempertahankan pancasila ini dapat terus berlangsung dan berkesinambimgan, baik selama aktif sebagai anggota ABRI maupun setelah menjadi purnawirawan.

Dalam rangka ini, maka saya sangat menyetujui usaha2 Pepabri untuk terus mengkonsolidasi organisasinya dengan mengikutsertakan para pimpinan/pembina dan bekas pimpinan/Pembina ABRI dalam pembinaan Pepabri.

Pelaksanaan Dwi Fungsi ABRI memang harus terus kita konsolidasikan agar dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan tantangan perjoangan yang dihadapi oleh Bangsa dan Negara.

Dwi Fungsi ABRI itu telah dikukuhkan dalam salah satu Ketetapan MPR sebagai hasil Sidang Umum MPR tahun 1978 yang lalu. Karena itu adalah kewajiban ABRI untuk melaksanakan keputusan rakyat melalui MPR tadi dengan sebaik2nya dan dengan penuh rasa tanggungjawab.

Dwi Fungsi ABRI ini mempunyai akar yang kuat dalam sejarah lahir dan pertumbuhannya ABRI sejak tahun 1945. Sejarah kadang2 mencatat surutnya peranan ABRI sebagai kekuatan sosial politik itu. Tetapi sejarah juga tidak jarang memanggil tampilnya ABRI sebagai kekuatan sosial tadi dalam peranan yang lebih besar.

Dewasa ini, tugas dan tantangan nasional yang dihadapi bersama adalah menegakkan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila, yang harus dilaksanakan dengan pembangunan di segala bidang yang berencana, bertahap dan bersinambungan.

Dalam rangka ini maka salah satu tugas ABRI yang penting dalam melaksanakan Dwi Fungsinya adalah mensukseskan pelaksanaan Pemilu yang akan datang, di samping berusaha mensukseskan pelaksanaan pembangunan di bidang ekonomi dan sosial.

Dalam hubungan ini, maka haruslah selalu disadari bahwa baik dalam melaksanakan tugasnya sebagai kekuatan pertahanan keamanan maupun dalam menjalankan peranannya sebagai kekuatan sosial politik, ABRI harus selalu menunjukkan sikap kekeluargaan dan kebersamaan dengan rakyat, penuh keramah­tamahan dan keterbukaan.

Sikap itu tidak berarti bahwa ABRI tidak dapat bertindak tegas untuk menegakkan hukum dan ketertiban yang adil. ABRI harus dapat membedakan kapan ia harus bertindak sebagai kekuatan pertahanan keamanan dan kapan ia harus berperan sebagai kekuatan sosial.

Ini memerlukan kedewasaan sikap dan kebijaksanaan yang dalam. Ini jelas bukan hal yang mudah. Akan tetapi juga bukan hal yang mustahil dilaksanakan.

Karena itulah, segala langkah dan tindakan ABRI harus benar2 dapat dimengerti oleh rakyat, harus benar2 dirasakan oleh rakyat bahwa tindakan dan langkah tadi untuk kebaikan dan untuk menjaga keselamatan dan ketenangan rakyat. Dan lebih dari itu, semua langkah dan tindakan ABRl pertama2 harus dimengerti oleh setiap Perwira, Bintara dan Prajurit ABRI sendiri. Dengan demikian, ada dorongan dan keyakinan yang kuat dalam hatinya, bahwa langkah dan tindakan yang dilaksanakannya itu adalah baik dan benar untuk rakyat.

ABRI harus berbuat untuk kepentingan dan yang paling baik bagi rakyat. Karena dalam tahapan perjoangan dewasa ini yang paling dibutuhkan dan yang menjadi tuntutan rakyat adalah kelanjutan dan kelancaran pembangunan, maka ABRl juga harus ikut dan bersama2 rakyat dalam pembangunan tadi.

Di samping memberikan warga2nya yang terbaik untuk melaksanakan tugas2 kekaryaan, baik dalam lingkungan eksekutif maupun lingkungan legislatif maka perlu dilanjutkan pelaksanaan Operasi Bakti, khususnya untuk daerah2 yang memerlukan tanpa mengurangi kemampuan ABRl dalam membangun dirinya sendiri.

Operasi2 bakti itu harus dilakukan baik dalam masa perang untuk rehabilitasi daerah maupun di masa damai untuk membangun masyarakat. Operasi bakti ini harus merupakan pengabdian ABRI kepada rakyat dan harus menangani bidang2 kegiatan yang belum mampu dilaksanakan oleh rakyat atau untuk membantu instansi2 lain yang belum mampu menanganinya.

Saya mengharapkan agar masalah2 yang saya kemukakan tadi dapat menjadi bahan pembahasan dalam Rapim sekarang ini, sebagai bahan pemikiran konsolidasi ABRI selanjutnya.

Kita memang harus memiliki ABRI yang kuat di masa datang, terutama untuk melindungi keselamatan rakyat dan kedaulatan negara kita yang demikian luas wilayahnya dan untuk memantapkan pelaksanaan Dwi Fungsi ABRI. Pembangunan ABRI di masa datang harus tetap kita kembangkan dalam rangka pengembangan perang rakyat semesta.

Pengembangan pertahanan keamanan kita memang harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemajuan zaman, namun sumbernya haruslah tetap pada perang rakyat semesta tadi.

Berhubung dengan diadakannya Latihan Gabungan ABRI 1980 yang segera akan diadakan di sekitar daerah ini, saya mengharapkan agar hasil2nya diteliti dan dikaji sebaik2nya, untuk penyempurnaan pembangunan ABRI di masa datang dan pembangunan sistem pertahanan keamanan kita. Karena itu, saya minta kepada segenap kesatuan dan prajurit yang mengikutinya agar melaksanakan latihan ini dengan penuh kesungguhan.

Kepada Saudara2 semua, saya titipkan pesan agar terus membina ABRl yang tangguh membela negara dan sanggup ikut membangun bangsa. Untuk itu jadikanlah ABRI sebagai semacam pengikat persatuan rakyat dan rapatkanlah barisan pembangunan.

Dengan penggarisan kebijaksanaan dan pesan2 tadi, akhirnya saya nyatakan Rapim ABRI 1980 ini secara resmi dimulai.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberi bimbingan dan kekuatan lahir batin kepada kita semua dalam melanjutkan pembangunan kepada rakyat, bangsa dan negara ini. (DTS)

Pekanbaru, Angkatan Bersenjata

Sumber: ANGKATAN BERSENJATA (02/04/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 845-851.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.