ALATAS : ISU KESEHATAN PRESIDEN ITU REKAYASA

ALATAS : ISU KESEHATAN PRESIDEN ITU REKAYASA[1]

 

Jakarta, Kompas

Menteri Luar Negeri Ali Alatas menegaskan, masalah mundurnya kesehatan Presiden Soeharto yang banyak diberitakan pers asing akhir-akhir ini merupakan berita yang dibuat-buat dan direkayasa.

“Itu spekulasi. Kalau berita-berita semacam itu, semua itu jelas dibuat-buat, direkayasa saja.” kata Menlu menjawab pertanyaan wartawan usai diterima Presiden Soeharto di Bina Graha, Jakarta, Kamis (3/4).

“Tidak ada itu. Yang ada adalah statement Bapak Presiden sendiri, bahwa usianya mendekati 77 tahun, tapi tidak mengenai kesehatan.” tambah Alatas saat wartawan menginformasikan, pemberitaan tersebut.

Menjawab pertanyaan tentang perlunya para diplomat Indonesia menjelaskan masalah itu, mengingat isu kesehatan Presiden lebih sering muncul dari luar, Alatas mengatakan,

“Jelas kita harus katakan dengan tegas. Kan semua isu itu rekayasa. Anda sendiri melihat, kan?” katanya.

Hari Kamis kemarin, Presiden mengawali kegiatan di Bina Graha pukul 09.00 WIB dengan menerima para peserta kursus Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Angkatan I Lemhannas. Dilanjutkan dengan menerirma Gubernur Kalbar Aspar Aswin, Menperindag Tunky Ariwibowo dan terakhir Menlu Ali Alatas. Sekitar pukul 12.00 WIB Presiden Soeharto meninggalkan Bina Graha, dan kembali kekediaman Jalan Cendana.

“Saya kira pers kita harus menangkal pemberitaan-­pemberitaan yang bersifat spekulatif bahkan negatif.” tegasnya.

Harga Saham Anjlok

Isu merosotnya kesehatan Presiden juga merebak di lantai Bursa Efek Jakarta (BEJ). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEJ anjlok 9,256 poin menjadi 641,621 poin akibat merosotnya kurs 106 saham, dan hanya 22 saham yang mencatat kenaikan kurs.

Dalam tiga hari perdagangan saham pekan ini, sejak Senin sudah jeblok 20,617 poin atau 3,11 persen. Kalangan pialang menilai investor akan lebih banyak bersikap hati-hati dan menunggu perkembangan, sehubungan isu-isu yang beredar selama ini, karena pasar modal memang sangat sensitif terhadap isu.

“Transaksi hari ini hanya sekitar Rp 300 milyar, lebih rendah dari hari-hari biasanya, di mana kita bisa mencapai total transaksi harian antara Rp 400 milyar sampai Rp 500 milyar.” ujar seorang direktur perusahaan sekuritas.

Dari bursa valuta asing, dilaporkan tidak ada gejolak memborong dollar AS berkaitan berita kesehatan Presiden. Perusahaan money changer PT Ayumas Gunung Agung (AGA) mengaku, penjualan dollar AS biasa-biasa saja, dan lebih banyak dilakukan oleh mereka yang keluarganya hendak menunaikan Ibadah Haji.

“Tidak banyak yang memborong, paling hanya 1.000 dollar AS sampai 5.000 dollar AS. Tidak ada pembelian besar-besaran.” ujar Asril Muin, salah satu direktur PT AGA yang dihubungi Kompas.

Kurs nilai dollar AS yang ditawarkan AGA juga tidak banyak berubah, tetap pada Rp 2.376 (beli) dan Rp 2.418 (jual) untuk setiap dollar AS.

Kurs dollar AS yang dikeluarkan Bank Indonesia juga tidak banyak berubah. Nilai rupiah hanya melemah sekitar Rp 1 per dollar AS dibanding hari sebelumnya, menjadi Rp 2.395 (beli) dan Rp 2.443 (jual). Pembelian dollar AS dalam jumlah besar biasanya akan membuat nilai rupiah melemah dalam jumlah besar terhadap dollar AS.

Nilai rupiah juga hanya melemah sekitar Rp 7 terhadap dollar Singapura untuk beli dan jual. Kurs yang dikeluarkan BI menunjukkan dollar Singapura ditawarkan pada Rp 1.667,95 (beli) dan Rp 1.710,01 (jual). Meningkat dibanding Rp 1.660,31 ((beli) dan Rp 1.703,38 (jual).

Di bursa Singapura, nilai rupiah juga tidak banyak melemah terhadap dollar AS. Terlihat, diperdagangkan pada Rp 2.404 per dollar AS, melemah dari Rp 2.398 per dollar AS hari sebelumnya. Perkembangan ini berbeda dengan ketika Presiden Soeharto dilaporkan harus berobat ke Jerman, awal Juli 1996. Ketika itu, nilai rupiah anjlok hingga Rp 14 per dollar AS.

Sumber : KOMPAS (04/04/1997)

__________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 669-670.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.