ALATAS : BERITA KESEHATAN PAK HARTO SPEKULATIF, PAK HARTO TETAP LAKUKAN KEGIATAN RUTIN

ALATAS : BERITA KESEHATAN PAK HARTO SPEKULATIF, PAK HARTO TETAP LAKUKAN KEGIATAN RUTIN[1]

 

Jakarta, Republika

Menlu Ali Alatas mengkritik pemberitaan tentang kesehatan Pak Harto. Menurutnya, pemberitaan sejumlah media asing selama beberapa hari terakhir ini tentang kesehatan Presiden Soeharto negatif sekali. Bahkan spekulatif.

“Hari ini saja Presiden menerima banyak tamu.” Kata Alatas. Ia pun menunjuk beberapa pejabat yang diterima Kepala Negara.

Alatas mengemukakan itu kemarin (3/4) seusai menghadap Presiden di Bina Graha, Jakarta. Ia melaporkan rencana keberangkatannya ke India guna menghadiri konferensi tingkat Menlu negara anggota Gerakan Non blok, 7-8 April. Seperti dikemukakan Alatas, kemarin Pak Harto memang banyak menerima tamu, di antaranya Mensesneg Moerdiono, Menperindag Tunky Ariwibowo, serta Gubernur Kalimantan Barat Aspar Aswin.

Selain itu, Pak Harto bahkan menerima 98 peserta Kursus Pimpinan (Suspim) Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (PTSI) I Lemhannas yang terdiri atas 17 orang anggota ABRI dan 81 orang sipil. Pada kesempatan itu Presiden didampingi Menhankam Edi Sudradjat, Gubernur Lemhannas Letjen TNI Sofian Effendi serta Wakil Gubernur Lemhannas Juwono Sudarsono. Selain memberi sambutan panjang, Pak Harto pun memperlihatkan senyumnya yang khas saat beramah tamah dengan peserta.

Seperti dilaporkan Antara, dalam beberapa hari ini media asing tertentu menyebutkan kondisi kesehatan Kepala Negara sedang menghadapi masalah. Bahkan, Rabu (3/4), ada yang menyebut Pak Harto terkena serangan stroke. Berita tentang kesehatan Pak Harto itu dikabarkan mempengaruhi transaksi di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Kamis kemarin, indeks harga saham gabungan di BEJ memang merosot cukup dalam. Yakni 1,42 persen atau 9,257 poin dari 650.877 poin menjadi 641.620 poin. Bahkan sebelum perdagangan ditutup, indeks sempat turun 12 poin. Tercatat 177 jenis saham yang berhasil ditransaksikan. Sebanyak 109 jenis saham mengalami penurunan harga, termasuk saham-saham BUMN dan Bimantara Citra. Hanya 24 jenis saham yang berhasil memberikan keuntungan.

Sementara lantai bursa bergoyang, Presiden Soeharto memberi sambutan pada peserta Suspim PTS I Lemhannas itu, Presiden antara lain menekankan agar masyarakat Indonesia mampu mengembangkan watak dan kebiasaan yang dibutuhkan oleh masyarakat industri maju.

“Buang jauh-jauh berbagai kebiasaan yang dapat merugikan kemajuan bangsa, bersamaan dengan itu, tanamkan kebiasaan baru yang perlu untuk mencapai kemajuan.”

Dikemukakannya juga bahwa pemerintah telah melancarkan berbagai program yang bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan baru itu, antara lain gerakan untuk hidup sehat dengan menabung, gerakan keluarga berencana, peningkatan produktivitas nasional, dan gerakan disiplin nasional. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga melancarkan kampanye menghapuskan kebiasaan yang merusak seperti berjudi dan hidup boros.

Ketika berbicara tentang tantangan yang akan dihadapi dalam rangka menghadapi pasar bebas baik di dalam kerangka ASEAN maupun APEC, Kepala Negara mengemukakan bangsa ini harus mempercepat, memperluas, dan memperdalam persiapan menghadapi ekonomi terbuka dah perdagangan bebas. Dicontohkannya, pada tahun 2003, Asia Tenggara akan mewujudkan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN. Sementara itu, mulai tahun 2020 Indonesia harus siap membuka pasarnya terhadap barang dari negara-negara Asia Pasifik.

“Apabila dalam situasi demikian tadi, produk yang kita hasilkan sampai tidak mampu bersaing dengan produk luar negeri, maka cita-cita kita untuk menggejar ketinggalan dari bangsa-bangsa lain yang lebih maju akan bertambah jauh. Dan bangsa kita akan makin tertinggal oleh bangsa-bangsa lain.” kata Presiden Soeharto.

Sementara itu, kepada Gubernur Kalimantan Barat Aspar Aswin, Presiden minta agar memulihkan situasi di Kalbar secara adil.

“Beliau memerintahkan saya agar dalam melakukan pemulihan situasi bertindak secara adil, bagaimana memperlakukan masyarakat Dayak dan Madura supaya sama.” kata Aspar.

Sumber : REPUBLIKA (04/04/1997)

___________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 667-669.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.