AH NASUTION: PERNYATAAN DPR HARUS DIHORMATI

AH NASUTION: PERNYATAAN DPR HARUS DIHORMATI[1]

 

Jakarta, Kompas

Jenderal Besar TNI (Purn) AH Nasution menegaskan, substansi pernyataan yang disampaikan oleh pimpinan DPR, cerminan dari kehendak rakyat yang harus dihormati dan diamankan oleh semua kekuatan bangsa, termasuk ABRI. ABRI sendiri sesuai dengan peran dan fungsinya sebagai bhayangkari dan pembela bangsa, harus menempatkan diri sebagai prajurit pejuang yang membela dan memperjuangkan aspirasi, serta kehendak rakyat, sesuai dengan Pancasila dan UUD’45.

Siaran pers yang ditanda-tangani sendiri oleh Jenderal Besar AH Nasution tersebut Selasa (19/5), juga menegaskan, semua kekuatan bangsa (pemerintah dan ABRI) harus peka dan tanggap, terhadap aspirasi dan kehendak rakyat. Dan, tidak perlu harus menempuh cara-cara yang tidak konstitusional.

“ABRI sendiri harus, selalu menanamkan dengan kuat, di dalam sanubarinya amanat Panglima Besar Sudirman, bahwa TNI sebagai ksatria yang bertaqwa kepada Tuhan YME. Membela kejujuran, kebenaran dan keadilan,” tegas Nasution.

Kelompok Kerja Forum Demokrasi dalam siaran persnya yang ditandatangani Bondan Winamo dan T Mulya Lubis dalam menanggapi pidato Presiden Soeharto, di Istana Negara, mengeluarkan empat pernyataan. Pertama, menolak pernyataan Presiden Soeharto untuk membentuk Komite Reformasi dan segala rencananya yang disampaikan hari ini (Selasa- Red).

Kedua, tetap menyatakan bahwa turunnya Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Habibie dari jabatannya saat ini sebagai prasyarat: untuk mereformasi yang tidak dapat ditawar lagi. Ketiga, mendukung kepeloporan mahasiswa dalam melancarkan aksi tuntutan reformasi, hingga tercapai pembentukan pimpinan nasional masa peralihan yang baru. Keempat, hal-hal tersebut merupakan keharusan mutlak untuk menegakkan demokrasi di Indonesia.

Forum Studi dan Komunikasi (Fosko) 66 dalam pemyataan sikapnya mendesak Presiden Soeharto untuk segera mengembalikan mandatnya kepada MPRIDPR. Dan, selama masa transisi, kepemimpinan nasional dipercayakan kepada satu dewan/komite nasional. (ast)

Sumber: KOMPAS (20/05/1998)

____________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 395.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.