AEMM BERTEKAD KEMBANGKAN KERJA SAMA LEBIH TERINTEGRASI

AEMM BERTEKAD KEMBANGKAN KERJA SAMA LEBIH TERINTEGRASI[1]

 

Jakarta, Antara

Sidang Menteri Ekonomi ASEAN (AEMM) ke-28, Kamis petang di Jakarta berakhir dengan tekad untuk mengembangkan bentuk kerjasama ekonomi ASEAN yang lebih terintegrasi, dinamis dan sejahtera.

Dalam pernyataan bersama yang dibacakan Menko Prodis Hartarto selaku Ketua Sidang AEMM ke-28, para menteri memandang langkah-langkah kerjasama ekonomi kawasan telah berhasil meningkatkan posisi ASEAN menjadi sebuah kelompok negara yang progresif.

Hadir pula pada pernyataan bersama kepada pers itu, Menperindag Tunky Ariwibowo, Menindag Malaysia RafidahAziz, Menteri lndustri Brunei Pehin Dato Abdul Rahman Taib, Menindag Filipina C Bautista, Meindag Singapura Yeo Cheow Tong, Duputi PM Thailand Amnuay Vrravan, Menteri Perdagangan Vietnam Van Triet dan Sekjen ASEAN Ajit Singh.

Untuk itu, para menteri memandang perlu membentuk model kerja sama intra­ASEAN yang tepat sehingga mampu menciptakan suasana lebih erat setelah tahun 2003 berdasarkan keuntungan dan kepentingan bersama.

Dalam pernyataan itu pula, Menteri Ekonomi ASEAN menyatakan menerima usul Indonesia untuk menembuskan komoditas beras dan gula dalam skema CEPT, sejak 1 Januari 2003 dan berakhir hingga 1 Januari 2010 dengan tarif akhir yang fleksibel.

Selain itu, para menteri juga menerima usul Filipina untuk merampungkan proses masuknya komoditas beras dalam skema CEPT pada 1 Januari tahun 2010. Tapi, masalah yang menyangkut dengan penjadwalan akan dievaluasi kembali pada pertemuan informal menteri-menteri ekonomi ASEAN Nopember 1996.

Menteri ekonomi ASEAN menyetujui naskah Mekanisme Penyelesaian Perselisihan (DSM) yang meliputi seluruh persetujuan ekonomi yang telah disepakati anggota ASEAN. DSM menurut rencana akan ditandatangani Nopember mendatang.

Untuk itu, para menteri memberikan tugas kepada para pejabat tingginya untuk menampung semua saran dan pandangan mengenai DSM itu serta membuat formulasi perangkat aturan yang mampu melingkupi masalah-masalah yang mungkin timbul dalam perselisihan pada kaitan CEPT.

Pembentukan AFTA

Para menteri menilai proses pembentukan AFTA tetap berlanjut dan akan terwujud pada 2003 serta pentingnya program fasilitas perdagangan berupa Green Lane System (Sistem Jalur Cepat-red), yang menjamin kelancaran kepabeanan bagi produk-produk yang masuk dalam skema CEPT. (Common Effective Preferential Tariff).

Green Lane System dicanangkan ketika KTT ASEAN di Bangkok 1995. Oleh karena itu, sistem ini terus dilanjutkan sehingga dapat melancarkan arus barang impor dan ekspor.

Atas dasar itu, para menteri menugaskan pejabat tinggi terkait bidang kepabenan agar mengambil langkah-langkah penyelesaian dan penyempumaan bagi kesinambungan sistem tersebut.

Pernyataan bersama itu menggaris bawahi sambutan pembukaan Presiden Soeharto agar WTO menfokuskan perhatiannya terhadap masalah perdagangan, dan bukannya hal-hal lain di luar itu.

Sebagai organisasi yang konsisten pada prinsip-prinsip kawasan terbuka, Presiden menekankan ASEAN akan terus memainkan peranannya terutama dalam proses APEC dengan tujuan menciptakan liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas di kawasan dan dunia.

Sejalan dengan itu, para menteri menggarisbawahi keputusan KITASEAN ke-5 di Bangkok yang bertujuan menyusun sebuah agenda bagi integrasi ekonomi yang lebih luas.

Sidang AEMM ke-28 di Jakarta yang berlangsung satu hari, didahului dengan SEOM pada 9-10 September dan pertemuan Dewan AFTA pada 11 September.

Sumber : ANTARA (13/09/1996)

_________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 423-424.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.