ADA YANG PUAS, TAPI MASALAH BELUM SELESAI

ADA YANG PUAS, TAPI MASALAH BELUM SELESAI[1]

 

Bandung, Jumat, Merdeka

Ada puasnya. Itulah ungkapan umum kalangan civitas akademika berbagai perguruan tinggi berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Lampung dan Surabaya atas pengunduran diri Pak Harto sebagai Presiden.

Namun, sebagian besar mahasiswa juga mengaku belum sepenuhnya puas, sampai ‘rezim Soeharto’ benar-benar melepaskan diri dari kekuasaannya di Indonesia.

Giri Ayu Wardhani, aktivis mahasiswa Unpad (Bandung) menyatakan, Soeharto harus mempertanggungjawabkan segala tindakannya selama memimpin Indonesia, termasuk mempertanggungjawabkan harta benda yang, dimilikinya selama berkuasa lebih dari 30 tahun.

“Kerja kita belum selesai. Pengunduran itu hanya merupakan langkah awal saja.” tandas Ayu.

Pihaknya, lanjut Ayu, saat ini tengah menunggu kebijakan yang akan dibuat oleh Presiden baru bersama jajarannya, dan bila ternyata kebijakan terkait masih mencerminkan rezim Soeharto, Ayu memastikan aksi mahasiswa akan terus berlanjut Di tempat terpisah, Prof. Dr. Lilik Hendrajaya, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) merasa lega atas keputusan pengunduran diri tersebut. Sebab itu sesuai dengan yang dituntut civitas akademika ITB dan sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia.

Sementara Rektor Unpad Prof. Dr. Maman P Rukmana menyatakan hal senada. Dikatakannya, pimpinan Unpad menghargai pengunduran diri Soeharto sebagai Presiden. Namun, dia mengingatkan agar pemilihan Presiden baru harus dilakukan dalam jangka waktu dekat.

Di Lampung, pernyataan Soeharto disambut mahasiswa dan masyarakat dengan melakukan pawai keliling kota.

Sedangkan mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dari Surabaya menilai, pengunduran diri Soeharto dan pengangkatan BJ Habibie sebagai Presiden tak akan menyelesaikan masalah. Justru menjadi sebaliknya makin memperbesar dan memperpanjang masalah karena tak sesuai dengan aspirasi rakyat.

Taufik Achwan, mantan aktivis GMNI mengatakan, gelombang aksi unjuk rasa tetap akan berlangsung. Bahkan rakyat diperkirakan segera mengikuti langkah mahasiswa, sehingga memperbesar jumlah agenda unjuk rasa, karena tampilnya Habibie tersebut tak diinginkan oleh sebagian besar rakyat.

Tak terhenti disitu. Berita mundurnya Soeharto juga disambut meriah berbagai kalangan di Bogor. Tak terkecuali Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Soleh Solahuddin, Rektor Universitas Pakuan (Unpak) Prof. Dr. Rubini dan Senat Mahasiswa IPB serta Ketua KBM Unpak memberi komentar dan harapannya.

Ketika dihubungi kemarin, Soleh mengatakan kegembiraannya. Mundurnya Soeharto, baginya adalah inti dari segala tuntutan reformasi yang selama ini disuarakan mahasiswa.

“Ini merupakan kemenangan besar dari reformasi dan itu suatu hal yang patut, disyukuri.” kata Soleh.

Kalangan mahasiswa menyatakan rasa ketidakpuasannya atas pelimpahan jabatan dari Soeharto ke Habibie. Karena yang selama ini dituntutnya adalah pelaksanaan sidang istimewa (SI) MPR, untuk mempertanggungjawabkan kesalahan Soeharto atas terjadinya krisis di segala bidang.

Keluarga Besar Mahasiswa Unpak melalui Ketuanya, Robert Makapuan menyatakan ketidakpuasannya. Menurutnya, seharusnya Pak Harto meletakkan jabatan di hadapan SI MPR. Dari sini kita tahu kesalahan dia hingga mengakibatkan terjadinya krisis di segala bidang katanya.

Dengan pelimpahan jabatan seperti itu, katanya, tidak sesuai dengan semangat reformasi. Karenanya dia berjanji akan terus berjuang agar SI MPR tercapai.

Sedangkan Ketua Senat Fakultas Petemakan IPB, Qurkan Hendra menyatakan,

“Ya sudahlah kita syukuri saja, karena reformasi sudah tercapai. Saya pikir Habibie bisa atasi masalah yang selama ini melilit perekonomian Indonesia.” terangnya.

Menteri­-menteri yang akan dipilih, harapnya, betul-betul memiliki kredibilitas tinggi tanpa unsur KKN.

Sumber : MERDEKA (22/05/1998)

_________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 918-919.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.