ADA REKAYASA HANCURKAN BANGSA

ADA REKAYASA HANCURKAN BANGSA[1]

 

Subang, Suara Karya

Presiden Soeharto menduga ada rekayasa pihak tertentu untuk menghancurkan bangsa dan negara Indonesia. Rekayasa itu dilakukan dengan menjatuhkan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Dugaan Kepala Negara itu dikemukakan ketika memberi sambutan tanpa naskah pada peresmian kawasan industri berat milik PT Texmaco di Subang, Jawa Barat, Rabu.

Pada acara singkat itu, Presiden tidak dijadwalkan menyampaikan sambutan. Namun selesai menandatangani prasasti Presiden tampil di depan panggung dari berbicara sekitar 30 menit mengenai berbagai rekayasa menghancurkan negara dan bangsa ini sejak 27 (tahun lalu).

Presiden mengemukakan, pihak tertentu itu merekayasa agar nilai rupiah jatuh sampai posisi Rp.20.000 per dolar. Padahal dalam keadaan kurs Rp.10.000 per dolar saja banyak perusahaan akan hancur sama sekali.

Kehancuran banyak industri dan perusahaan itu, menurut Kepala Negara, memang diinginkan oleh pelaku rekayasa tersebut. Tujuannya untuk mengacaukan keadaan akibat banyak pekerja terkena PHK.

Rekayasa pihak tertentu itu tampak sekali dari gejolak nilai rupiah yang dalam satu hari bisa berubah nilainya antara Rp.1.000 sampai Rp.2.000 per dolar.

“Hal ini tidak masuk akal kalau penurunan sampai Rp.1.000-Rp.2.000/hari.” kata Kepala Negara pada acara yang dihadiri pula Mensesneg Moerdiono, Mentamben IB Sudjana, Menteri Negara Agraria Soni Harsono, Menhub Haryanto Dhanutirto, dan Gubernur Jawa barat R Nuriana.

Ujian

Presiden mengharapkan, untuk mengatasi bergejolaknya rupiah tersebut, seluruh rakyat harus ikut serta bersama pemerintah untuk menanggulanginya.

Selain berusaha mempengaruhi sektor moneter, kelompok-kelompok tidak bertanggungjawab itu juga melemparkan berbagai isu tentang kesehatan Pak Harto.

“Saya dikatakan meninggal atau sakit. Bahkan saya dikatakan lumpuh.” kata Pak Harto sambil tersenyum.

Gejolak moneter dan ekonomi terjadi sejak bulan Juli tahun 1997, Presiden menyebutkan hal itu sebagai ujian yang, berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.

“Kita sedang mendapat ujian dari Tuhan. Tapi kita jangan lengah sekalipun ini di luar kemampuan kita.” kata Kepala Negara.

Menanggapi berbagai macam isu yang beredar dewasa ini Presiden menceritakan suasana pada awal Pelita I lalu. Pada waktu itu. ketika peserta pemilu 1971 berjumlah 10 orsospol, partai politik melakukan propaganda bohong. Menurut Presiden, parpol melakukan propaganda, jika di partainya menang maka akan segera terwujud masyarakat adil dan makmur.

“Saya menyatakan propaganda semacam itu tidak benar, oleh karena itu saya berusaha menjelaskan kepada rakyat agar berfikir realistis dan pragmatis. Masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 45 itu hanya bisa dicapai melalui pelaksanaan pembangunan.” kata Presiden.

Pelaksanaan pembangunan juga tidak dapat secara cepat menghasilkan masyarakat adil dan makmur, sebab pembangunan dilaksanakan secara bertahap.

Keinginan

Presiden menyinggung masalah pembangunan pabrik permesinan Texmaco diungkapkan, sebenarnya Kepala Negara menginginkan pabrik seperti itu dibangun di Kulonprogo Yogya, karena daerah itu tandus.

“Tapi rupa-rupanya daerah itu belum merasa penting memiliki industri semacam ini, sehingga saya gagal membangun industri di Yogya.” Kata Presiden.

Pabrik permesinan Texmaco itu kemudian dibangun di Jabar, karena daerah ini rakyatnya memiliki semangat yang begitu besar untuk memiliki industri maju. Dengan demikian bisa menyediakan tanah yang cukup luas.

Setelah berbicara lisan, Kepala Negara kemudian meninjau berbagai fasilitas milik Texmaco Group bagi pengembangan industri berat seperti pembuatan bejana/boiler, permesinan tekstil serta truk berbobot 740-745 ton. Presiden berkeliling ke berbagai fasilitas industri yang terletak di kawasan seluas 750 hektar.

Ketika masuk ke dalam truk buatan perusahaan yang direktur utamanya adalah M Sinivasan, terdengar tepuk tangan meriah.

“Action Pak. action Pak..” kata seorang yang menyaksikan Pak Harto dengan rasa bangga duduk di dalam truk tersebut. Kemudian Pak Harto menghidupkan mesin truk itu dan mengacungkan jempol. (A-6)

Sumber : SUARA KARYA (12/02/1998)

__________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 705-707.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.