Ada ASOI Dalam Jumpa Pers FKP-MPR: “SAMPAI KAPAN ORANG MISKIN MAMPU BERTAHAN”

Ada ASOI Dalam Jumpa Pers FKP-MPR: “SAMPAI KAPAN ORANG MISKIN MAMPU BERTAHAN”[1]

 

 

Jakarta, Merdeka

Banyak hal menarik muncul dalam jumpa pers dengan FKP MPR di lantai VII Gedung MPR, kemarin, Marzuki Usman, yang siang itu menjadi narasumber memperkenalkan istilah ASOI, yakni singkatan dari Akal Sehat Orang Indonesia.

Istilah itu dikemukakan Marzuki untuk menanggapi penilaian banyak kalangan yang menyatakan tidak logis seandainya fraksi-fraksi di MPR menolak pidato pertanggungjawaban Presiden Soeharto, padahal pada saat yang sama Pak Harto dicalonkan sebagai presiden periode 1988-2003.

Berdasarkan logika ASOI, kata Marzuki, laporan pertanggungjawaban presiden seharusnya diterima.

“Sebab kalau laporan itu tidak diterima, rakyat Indonesia justru akan mempertanyakan pencalonan Pak Harto sebagai presiden mendatang,” jelasnya.

Jumpa pers itu sendiri adalah sebagai pemenuhan janji FKP MPR yang akan mengadakan jumpa pers setiap hari. Pada setiap pertemuan, FKP memberikan kesempatan kepada wartawan untuk menanyakan kepada narasumber yang disiapkan FKP, yang semuanya anggota FKP MPR.

Hadir sebagai narasumber pada jumpa pers pertama itu antara lain pakar ekonomi dan keuangan Marzuki Usman, pakar masalah kemiskinan Mubyarto , dan ZA Maulani. Bertindak sebagai moderator Fahmi Idris dan Sofyan Lubis.

Sebelum dialog dimulai, Fahmi lebih dulu membeberkan agenda FKP MPR hari itu. Dijelaskan, Senin (2/3) FKP MPR telah melakukan rapat-rapat persiapan tentang bahan-bahan Sidang Umum, terutama menyangkut soal rancangan Ketetapan MPR yang telah dibahas oleh Badan Pekerja MPR. Malam harinya dilanjutkan pembahasan mengenai pandangan umum pertanggungjawaban presiden.

Sementara itu Mubyarto ditanya soal kemiskinan.

“Jika krisis ini terus berlangsung, sampai kapan orang-orang miskin mampu mempertahankan kemiskinannya?” tanya wartawan. Mendapat pertanyaan mendadak itu Mubyarto yang mengenakan safari hijau senyum. Lalu katanya, “Ya, tergantung miskinnya, kan ada miskin beneran, setengah miskin dan miskin-miskinan,” katanya singkat.

Kepada ZA Maulani ditanyakan soal reformasi politik. Menurutnya, reformasi politik sebenarnya sudah dilakukan Pak Harto.

Hal itu dapat dilihat pada perkembangan terakhir misalnya, munculnya calon Presiden lebih dari satu, berdirinya Komnas HAM dan lain-lain.

“Semua itu menunjukkan bahwa Pak Harto sebenarnya sudah melakukan keterbukaan. Sayangnya orang sering ingin segera Komnas HAM dulu dinilai kepanjangan tangan pemerintah sekarang buktinya  beberapa banyak orang mengadukan nasibnya ke Komnas HAM,” katanya.

Sedang Fahmi ditanya soal sikap FKP yang menerirna Gema Madani padahal FKP sudah mencalonkan Habibie sebagai wapres menjawab hal ini. Fahmi menegaskan semua itu dilakukan untuk menghargai aspirasi Gema Madani sedangkan keputusan mencalonkan Habibie adalah keputusan organisasi yang juga harus dihormati.

“Tidak demokratis dong, kalau yang banyak harus mengikuti yang kecil, sedangkan yang kecil tidak mau mengikuti yang banyak” tandasnya. (HAS)

Sumber: MERDEKA (03/03/1998)

________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 166-167.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.