ABRI TIDAK BOLEH MENGECEWAKAN RAKYAT TANTANGAN TERBESAR: MEMBUAT RAKYAT TENTRAM LAHIR BATIN

Presiden Pada HUT ABRI:

ABRI TIDAK BOLEH MENGECEWAKAN RAKYAT TANTANGAN TERBESAR: MEMBUAT RAKYAT TENTRAM LAHIR BATIN

ABRI adalah milik nasional dan akan tetap menjadi milik nasional yang tidak akan dapat terpisahkan dari rakyat, karena ABRI merupakan kekuatan bangsa dan dicintai oleh rakyatnya. "Oleh karena itu, ABRI tidak boleh mengecewakan rakyat, sebaliknya, harus menjadi kebanggaan rakyat," demikian penegasan Presiden, dalam amanatnya pada upacara peringatan HUT ABRI megah dan meriah di jalan bebas rintangan, Jagorawi, Minggu pagi, 5 Oktober kemarin.

Kepada segenap anggota ABRI, Presiden mengingatkan agar senantiasa meningkatkan disiplin, sehingga menjadi bagian hidup setiap anggota ABRI Dengan disiplin yang tinggi, ABRI akan menjadi contoh dan tauladan dalam menanamkan disiplin pada masyarakat yang juga mutlak diperlukan bagi pembangunan bangsa.

Suatu hal yang tidak boleh dilupakan oleh setiap Prajurit TNI menurut Presiden, ialah mencarnkan dan melaksanakan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit; sebagai pedoman hidup anggota ABRI.

"Setialah kepada Pancasila dan Undang Undang Dasar 45, sebab Pancasila adalah ideologi nasional yang harus dibela oleh ABRI tanpa mengenal menyerah dan Undang Undang Dasar 45 adalah kerangka kehidupan kenegaraan yang menjamin kekokohan dan persatuan bangsa kita," demikian seruan Presiden.

Hentikan Kejahatan

Presiden juga berpesan, pengamanan dan kepeloporan ABRI dalam pembangunan harus ada hubungannya dengan Trilogi Pembangunan yang maupun sebagai kekuatan sosial, harus mengarah pada pemantapan stabilitas nasional yang dinamis.

Unsur terpenting dalam stabilitas nasional adalah keamanan lahir batin rakyat. "lni adalah tugas dan tantangan terbesar bagi ABRI," demikian pesan Presiden.

Perasaan tentram lahir batin harus benar-benar tentram di hati rakyat, sehingga rakyat dapat tidur dengan nyenyak dan dapat bekerja penuh gairah. Sebaliknya, kata Presiden, pada rakyat sendiri harus ditumbuhkan kesadarannya, bahwa pemeliharaan keamanan memerlukan dukungan rakyat. Seperti pada jaman Perang Kemerdekaan, rakyat pun harus menjadi mata dan telinga ABRI dalam memelihara keamanan.

Betapa pun kesiagaan ABRI dapat kita tingkatkan, namun ABRI tetap terbatas kemampuannya. Karena itu rakyat harus dibangkitkan keberatannnya dan kemampuannya untuk menjaga dirinya sendiri dengan tetap menjauhkan diri dari perbuatan "menjadi hakim sendiri". Untuk mendorong kesadaran rakyat terhadap keamanannya sendiri, penting sekali kemanunggalan ABRI dan rakyat.

Kesadaran akan keamanan yang tumbuh di kalangan rakyat itu, bukan saja akan menjadi unsur yang utama dalam pengembangan perang rakyat semesta, yang harus menjadi ciri-ciri corak sistem hankamnas kita, tetapi juga merupakan unsur penting dalam memantapkan stabilitas nasional dan mendorong kelancaran pelaksanaan pembangunan.

Kepada seluruh lapisan masyarakat, Presiden menyerukan meningkatkan partisipasi dalam menjaga dan memantapkan stabilitas keamanan yang diperjuangkan untuk memantapkan kelancaran pelaksanaan pembangunan.

“Bahkan kesadaran dan kemampuan untuk menghentikan perbuatan perbuatan negatif menghentikan perbuatan-perbuatan kejahatan, apakah itu korupsi, merampok. membunuh, mencuri, menganiaya, menjambret dan perbuatan perbuatan tercela lainnya, itu pun merupakan bagian sumbangan dan keikutsertaan dalam pembangunan, terutama membangun dirinya kembali kejalan yang benar," ucap Presiden.

Parade Terbesar

Dikemukakan Presiden, parade peringatan HUT ABRl Ke 35 dengan segala peralatan dan persenjataan mutakhir, merupakan parade terbesar dalam sejarah pertumbuhan ABRI sejak Indonesia merdeka.

Namun demikian, parade itu bukanlah ”pameran kekuatan”, melainkan gambaran kekuatan dan kesiagaan ABRI yang merupakan pertanggungjawaban ABRI Kepada rakyat.

Segala peralatan dan persenjataan yang dimiliki ABRI merupakan kemajuan, hasil pembangunan. Peralatan yang semakin modern dan makin memenuhi kebutuhan itu, dapat diadakan, sepadan dengan kemampuan untuk memberikan perhatian yang lebih besar dan melakukan perbaikan hidup prajurit dan keluarganya.

Kita makin mampu membiayai pemeliharaan dan pembangunan ABRI seperti keadaannya sekarang, setelah keadaan ekonomi negara makin stabil, setelah pembangunan makin maju dan lebih merata, setelah tingkat kesejahteraan rakyat makin lebih baik

Hal itu berbeda dengan tahun tahun permulaan sampai menjelang akhir Repelita ll. ABRI mengalami ”tahun tahun sulit", pembangunan fisik ABRI sangat kecil. Pada tahun tahun itu, perhatian seluruh bangsa dan penggunaan kemampuan negara tertuju pada pembangunan ekonomi demi kesejahteraan rakyat.

Dikatakan Presiden, pembangunan Angkatan Bersenjata, di mana pun memerlukan biaya besar, lebih lebih di negara kita yang mempunyai wilayah luas dan terdiri beribu ribu pulau. Betapa besar biaya harus dikerahkan untuk memiliki angkatan bersenjata yang kuat sehingga mampu melindungi kedaulatan negara yang demikian luas wilayahnya.

Tetapi pembangunan ABRI merupakan bagian dari pembangunan bangsa secara keseluruhan. Dalam pembangunan, memang harus pandai-pandai menempatkan prioritas, yaitu mendahulukan yang memang harus didahulukan dan menunda yang masih dapat ditunda.

"Tidak ada gunanya kita memiliki Angkatan Bersenjata yang kuat jika rakyat tetap melarat dan terbelakang," kata Presiden.

Sikap ABRI selama ini yang sadar mendahulukan kepentingan rakyat, harus mendapat penghargaan. ABRI telah rela menahan diri dan merasa cukup memiliki peralatan sederhana dan belum berkesempatan memiliki persenjataan modern yang diidam-idamkan oleh setiap prajurit, karena sadar pembangunan Angkatan Bersenjata yang dipaksakan, akan memberatkan rakyat. Kemanunggalan ABRI dan rakyat.

Dewasa ini, perekonomian kita makin kuat dan hasilnya makin dirasakan oleh rakyat, sehingga pembangunan Angkatan Bersenjata dapat ditingkatkan. Di masa mendatang, kita memang harus memiliki ABRI yang kuat, mempunyai peralatan dan persenjataan modern sesuai kemajuan jaman teknologi.

Namun, menurut Presiden, kekuatan pokok ABRI tidak cukup hanya diletakkan pada peralatan dan senjata, yang walaupun penting, melainkan harus tetap didasarkan kepada dukungan dan kemampuan rakyat Indonesia.

Dikemukakan Presiden, banyak pelajaran dari sejarah bangsa lain menunjukkan, tanpa dukungan rakyat, Angkatan Bersenjata yang kuat sekalipun akan runtuh. Sebaliknya, Angkatan Bersenjata yang didukung oleh rakyat, akan mampu mempertahankan tanah air terhadap serangan musuh yang jauh lebih unggul persenjataannya.

Diungkapkan Presiden, kita malahanmemiliki sejarah yang gilang gemilang, tatkala kita dapat berhasil dalam Perang Kemerdekaan yang berat dan panjang dalam tahun 1945 sampai menjelang permulaan 1950.Pada tahun-tahun yang penuh semangat kepahlawanan dan patriotisme itu, ABRI benar benar manunggal dengan rakyat.

Dengan dukungan rakyat, ABRI mampu memberikan pukulan yang berarti kepada musuh dan apabila terdesak oleh musuh, dengan sekejap ABRI dapat dengan aman menyelinap di tengah-tengah rakyat, sehingga terhindar dari kejaran atau incaran musuh. Malahan ABRI dihidupi dan diberi tempat berteduh oleh rakyat. Rakyat menjadi mata yang tajam dan telinga yang terpercaya dari ABRI

"ltulah wujud yang paling jelas dari kemanunggalan ABRI dan Rakyat, wujud yang paling nyata dari Perang Rakyat Semesta," ucap Presiden.

Dalam jaman pembangunan masyarakat modern, kemanunggalan ABRI dan rakyat harus tetap dipertahankan, karena merupakan bagian teramat penting dari falsafah pertahanan keamanan.

Karena itu, ABRI masuk desa yang kini sedang digalakkan, merupakan bagian terpenting untuk memperkuat kemanunggalan ABRI dan Rakyat itu. Dalam Perang Rakyat Semesta, ABRI harus mengenal setiap jengkal tanah di bumi Indonesia. ABRI harus selalu mendengar setiap detak jantung dan perasaan rakyat.

Dalam akhir amanatnya, Presiden berpesan kepada setiap warga ABRI untuk memelihara peralatan dan persenjataan, mengingat itu semua berasal dari rakyat yang dipercayakan dalam genggaman setiap prajurit.

"Terus-menerus tingkatkanlah kemahiran keprajuritan sebab hanya prajurit yang mahir akan menang dalam pertempuran dan berhasil dalam tugas," demikian Presiden.

Meriah di Jagorawi

Acara peringatan HUT ABRI ke-35 di Jagorawi Minggu pagi kemarin, dimeriahkan dengan defile dan parade kekuatan ABRI yang menurunkan pelbagai peralatan modem seperti tank-tank AMX-10 serta pesawat-pesawat tempur mutakhir F-5 E dan pesawat-pesawat latih lanjutan HS Hawk yang berulang kali meluncur melesat di atas lebih sejuta pengunjung perayaan HUT ABRI tersebut.

Selain Menteri-menteri Kabinet Pembangunan beserta isteri, hadir pada perayaan HUT ABRI yang paling meriah sepanjang sejarah itu, para anggota korps perwakilan asing di Jakarta. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (06/10/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 865-868.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.