ABRI HARUS MAMPU MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN

ABRI HARUS MAMPU MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto mengemukakan ABRI harus mampu membaca tanda-tanda zaman dan memahami ke arah mana perubahan masyarakat sedang bergerak.

“Wajah kepemimpinan ABRI di masa depan akan sangat ditemukan oleh kemampuannya dalam ikut memecahkan aneka persoalan yang dihadapi oleh bangsa dan Negara.” tandas Kepala Negara saat menerima peserta Kursus Reguler XXIII Sesko ABRI di Bina Graha, kemarin.

Untuk itu, ujar Presiden, bukan saja tekad yang diperlukan tetapi juga semangat dan profesionalisme. Setiap peluang, kata Kepala Negara, tentu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dan setiap tantangan harus dihadapi dengan sikap dan tindakan yang terbaik.

Menurut Presiden, sikap dan tindakan yang terbaik hanya akan dimiliki jika ABRI mampu meningkatkan ketajaman pemikiran dalam menangkap dan menerjemahkan aspirasi yang berkembang di masyarakat.

Sebagai kekuatan pertahanan keamanan, kata Kepala Negara, ABRI harus terus meningkatkan mutu dan profesionalismenya dengan meningkatkan terus kemampuan personel sesuai perkembangan zaman.

Sedang sebagai kekuatan sosial politik, ungkap Presiden, ABRI juga harus terus meningkatkan mutunya sesuai perubahan yang terjadi di masyarakat. Sejalan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, tutur Kepala Negara, taraf pendidikan dan kemampuan berpikir masyarakat pun meningkat. Dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi, daya kritis masyarakat juga makin bertambah.

Dalam situasi seperti itu, jelas Presiden, muncul tuntutan baru yang belum pernah ada pada dasawarsa sebelumnya. Sebagai prajurit pejuang, Kepala Negara meminta ABRI mampu menangkap semangat perubahan yang terjadi dalam masyarakat tersebut sekaligus memahaminya.

Namun Presiden mengingatkan, dalam menghadapi arus perubahan yang tengah terjadi itu, ABRI sebagai kekuatan sosial politik tidak selalu harus menempatkan dirinya pada posisi di depan.

“Peran ABRI sebagai kekuatan sosial politik senantiasa disesuaikan dengan tingkat perkembangan masyarakat.”

Kepala Negara mengemukakan keterlibatan ABRI sebagai kekuatan sosial politik dalam menumbuhkan stabilitas dan mendorong dinamika masyarakat hasilnya telah sama-sama dirasakan oleh seluruh rakyat. Dalam era perdagangan bebas nanti, kata Presiden, ABRI perlu memikirkan keterlibatannya dalam mendorong dinamika pertumbuhan ekonomi.

Seusai menyampaikan pidato, Kepala Negara kemudian menyampaikan sambutan secara lisan dan mengatakan selama ini telah menghasilkan berbagai kemajuan.

Sekalipun jumlah orang miskin sudah berkurang, kata Presiden, namun masih ada sekitar 26 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, 11,5 juta di antaranya berada di daerah non-IDT.

“Jangan frustrasi kalau belum semuanya tercapai.” kata Presiden.

Sumber : Media Indonesia (19/10/1996)

___________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 574-575.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.