Abdul Gafur: Pak Harto Sosok Guru, Bapak dan Pemimpin Bangsa

Guru, Bapak Dan Pemimpin Bangsa

Abdul Gafur (Menteri Muda Urusan Pemuda masa bakti 1978-1983; Menteri Negara Pemuda dan Olahraga masa bakti 1983-1988; dan anggota DPA)

Sepuluh tahun menjadi pembantu Presiden Soeharto telah menyeret saya kedalam satu pengalaman hidup yang amat berharga. Tidak ada satu ukuranpun yang mampu menera bobot, luas dan lebih-lebih dampak pengalaman itu terhadap diri sendiri, terhadap perkembangan kepribadian, cakrawala berpikir dan langkah perbuatan saya. Sebagai orang muda yang sedang meraba dan mencari jati diri di tengah riak gelombang patriotisme yang menerpa tekad dan keinginan untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa, ditakdirkan menjadi pembantu Pak Harto bagi saya adalah satu kesempatan untuk merealisir cita-cita. Ia juga sekaligus merupakan peluang besar untuk belajar dari seorang pemimpin yang saya kagumi dan hormati.
Penghormatan dan kekaguman terhadap Pak Harto memang sudah mengendap kental dalam hati sejak saya mengenalnya dari jauh tatkala Pak Harto memimpin Operasi Pembebasan Irian Barat. Lebih-lebih pada saat pemunculannya menumpas pengkhianatan PKI dengan gerakan Tiga puluh Septembernya yang berproses mengundang spontanitas rakyat dan generasi muda Indonesia dalam satu gerakan dahsyat: kebangkitan generasi 66, dimana saya —meskipun secuil— terlibat didalamnya. Kekaguman yang tulus itu ternyata kian terpateri dalam hati pada saat pertama kali saya berhadap-hadapan empat mata dengan Pak Harto lepas senjakala di Jalan Cendana. Pertemuan itu terjadi pada awal tahun 1978, beberapa bulan setelah usai Sidang Umum MPR dan beliau telah diangkat kembali oleh Iembaga tertinggi negara itu sebagai Presiden Republik Indonesia untuk kedua kalinya.
Walaupun baru pertama kali saya bertemu seperti itu, namun saya telah berkali-kali berjumpa beliau melalui gambar, riwayat, dan peristiwa. Kegemaran membaca merupakan jembatan untuk mengenal segala sesuatu termasuk mengenal dan belajar dari suri tauladan para pemimpin. Dari bimbingan ayah saya, kegemaran membaca itu telah tumbuh sejak usia sekolah dan menjadi hobby yang mengasyikkan setelah menduduki bangku sekolah lanjutan pertama di Ternate. Terutama membaca buku sejarah orang-orang besar boleh dikatakan bukan lagi sekadar hobby, melainkan kegemaran yang merasuk.
Melalui buku-buku sejarah itulah, di kala masih remaja saya telah berjumpa dengan pemimpin dan negarawan dunia seperti Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Simon Bolivar, Winston Churchill, Jenderal de Gaulle, Stalin, Garibaldi, Mustafa Kamal Ataturk, Gamal Abdel Nasser, Raja Abdul Aziz, Ali Jinnah, Mahatma Gandhi, dan Nehru. Juga filsuf penyair dan pejuang seperti Dr. Moh. Iqbal, Rabindranath Tagore, dan Dr. Jose Rizal. Dari membaca jualah saya mengenal dari jauh tokoh-tokoh pergerakan seperti HOS Tjokroaminoto, H Agus Salim, Dr. Wahidin, Dr. Sutomo, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, dan banyak lagi yang lain.
Juga dengan Pak Harto, melalui kegemaran yang berguna ini saya mengenalnya. Dan secara imajiner, barangkali itulah perjumpaan saya yang pertama kali dengan Pak Harto melalui aktivitas membaca peristiwa-peristiwa kesejarahan setelah proklamasi kemerdekaan, khususnya menyangkut apa yang dikenal sebagai “Peristiwa Andi Aziz” yang meletup pada tanggal 5 April 1950 di Makassar (Ujung Pandang sekarang). Keberhasilan Pak Harto menumpas pemberontakan orang-orang KNIL yang digerakkan oleh Kapten Andi Aziz, menjadi bahan pemberitaan yang ramai. Dari surat kabar saya mengetahui peranan Letnan Kolonel Soeharto menghancurkan gerakan Andi Aziz dalam waktu singkat. “Bertemu” kembali dengan Pak Harto melalui berita-berita surat kabar pada waktu saya menjadi murid SMA III B Teladan di Jakarta tahun 1956 dan beliau telah menjabat Panglima Divisi Diponegoro berkedudukan di Semarang.
Setelah tidak lagi menjabat Panglima, dalam waktu yang cukup lama saya jarang, bahkan, praktis tidak mendengar namanya lagi. Baru dalam tahun 1962, tatkala perjuangan merebut Irian Barat makin memuncak, dan dibentuknya Komando Mandala Pembebasan Irian Barat, namanya kembali mencuat ke permukaan. Pada waktu itu Pak Harto dipercayai memimpin komando tersebut sebagai Panglima Mandala. Sebagai mahasiswa UI yang menjadi anggota sukarelawan, pengenalan dari jauh dengan Pak Harto terasa makin dekat.
Sejak melihat foto berita Letnan Kolonel Soeharto yang menumpas pemberontakan Andi Aziz di Makassar dan foto pelantikan nya sebagai Panglima Kostrad, saya belum pernah mendengar suaranya. Baru pada tanggal 1 Oktober malam, tahun 1965, dalam kamar saya di Asrama Mahasiswa Pegangsaan Timur 17, untuk pertama kali dalam hidup, saya mendengar suaranya melalui RRI. Pak Harto mengumumkan kepada seluruh rakyat tentang perbuatan kontra revolusi oleh satu golongan (kemudian ternyata PKI) yang telah membentuk apa yang disebut “Dewan Revolusi”, dan telah mendemisionerkan kabinet serta menculik dan membunuh beberapa perwira tinggi TNI-AD, Jenderal A Yani dan kawan-kawan.
Pada tanggal 15 Januari 1966 terjadi demonstrasi mahasiswa yang bergabung dalam Kesatuan Aksi; demonstrasi-demonstrasi itu berskala besar dan luar biasa. Dalam sejarah pergerakan pemuda dan mahasiswa, demonstrasi di seputar Istana Bogor itu tergolong dahsyat dan mengejutkan. Sasarannya adalah sidang Kabinet Dwikora yang dipimpin langsung oleh Presiden Soekarno. Tujuannya adalah memberikan tekanan kepada Bung Karno agar segera membubarkan PKI, salah satu tuntutan Tritura yang telah dicetuskan lima hari sebelumnya, tepatnya pada tanggal 10 Januari 1966.
Didalam ruangan sidang, hadir menteri-menteri termasuk Panglima Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto yang telah menjadi superstar, orang kuat tumpuan harapan seluruh rakyat yang cinta Pancasila, yang mendambakan tegaknya keadilan dan kebenaran. Dalam ruangan itu juga banyak tamu undangan, termasuk sepuluh orang pemimpin mahasiswa Indonesia. Saya, yang termasuk didalam kelompok penggerak demonstrasi besar itu, bersama Cosmas Batubara, David Napitupulu, Zamroni dan lain-lain, ikut menyaksikan jalannya sidang kabinet.
Pada saat-saat Bung Karno berteriak: “saya tidak mau di dongkel-dongkel”, di luar istana gelombang massa telah menerpa kian kemari dan pada gilirannya pengawal istana “apa boleh buat” melepaskan tembakan ke udara. Suara bedil mendesing-desing memekakkan telinga, gemanya merasuk sampai ke ruang sidang. Dr. Sjarif Thajeb, Menteri PTIP, kami minta kesediaannya untuk meninggalkan sidang. Menteri Sjarif Thajeb tidak berhasil menenangkan massa. Dan pada saat-saat yang kritis itulah muncul Pak Harto didampingi Menteri/Panglima Angkatan Laut RE Martadinata dan Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian Soetjipto Judodihardjo. Cosmas, Zamroni, Firdaus Wajdi dan saya mengelu dan mengerumuni jenderal kebanggaan rakyat itu, meminta dengan sangat agar beliau dapat menenangkan massa. Berdiri diatas pilar gerbang pintu Istana Bogor, berhadapan dengan puluhan ribu mahasiswa yang histeris menuntut pembubaran PKI. Dan hanya dengan satu kalimat Pak Harto: “PKI sudah bubar“, maka lautan manusia yang membadai itu segera mereda dan bergegas kembali ke Jakarta.
Berdiri menempel pada pilar tempat Pak Harto berdiri dan menengadah memandangnya penuh kekaguman, jarak pertemuan dengan sang pemimpin tinggal berbilang selangkah. Saya benar benar telah berhadapan dengan Pak Harto yang sejak remaja saya mengenalnya dari kejauhan yang sayup-sayup.
Dua pertemuan berikutnya lebih mengesankan lagi karena langsung bersalaman dan mendengarkan nasihat-nasihatnya, menerima pandangan dan pikirannya. Pada tanggal 19 Januari 1966, empat hari setelah demonstrasi Bogar, delegasi mahasiswa resmi diterima oleh Pak Harto di MBAD. Berhadapan dalam suasana yang formal, saya dan kawan-kawan tidak canggung dan risih, karena keformalan itu terhapus oleh senyum yang terus mengulum. Kesederhanaan dan keramahannya, keteguhan hati dalam pendirian dan kebapakan yang sangat menonjol serta kearifannya untuk pertama kali saya rasakan dan saksikan. Ibarat api saya tangkap percikannya, penaka sinar surya dipantuli kilauannya. Duabelas tahun kemudian, April 1978, sifat yang dominan itu tetap saja dominan menyelimuti pertemuan yang mengubah nasib dan sejarah hidup saya karena Pak Harto dalam pertemuan itu mempercayakan saya menjabat Menteri Muda Urusan Pemuda dalam Kabinet Pembangunan III.
Pertemuan empat mata di kediaman Presiden di Jalan Cendana itu, terlalu berarti dalam hidup dan bagi kehidupan saya. Lebih dari satu jam mendengarkan ucapan dan pikiran Pak Harto, relung hati menjadi sarat dan padat dipenuhi kesan dan pemahaman atas eksistensi seorang pemimpin bangsa. Dan pemimpin itu adalah seorang yang prasaja (apa adanya), pendidikan formalnya tidak tinggi (hanya tamat HIS Muhammadiyah), tidak dikenal bahkan tidak dihitung oleh para pengamat sebelum tanggal 1 Oktober 1965, tetapi pemunculannya mengejutkan. Ia memimpin rakyat menumpas habis PKI, menyelesaikan konflik Orde Baru-Orde Lama dengan caranya sendiri yang diyakini dapat menjamin persatuan kesatuan bangsa, teguh berpendirian mengoreksi jalannya sejarah, mengembalikan Pancasila dan UUD 1945 keatas relnya semula.
Catatan-catatan berikut ini adalah refleksi pengalaman-pengalaman sangat berharga yang saya peroleh dari waktu ke waktu selama menjabat Menteri Muda Urusan Pemuda (Kabinet Pembangunan III) dan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Kabinet Pembangunan IV).
Menjadi pemimpin bangsa di negeri ini tidak semata-mata karena cakap dan pintar, ahli dan terampil serta kelebihan dalam leadership, tapi ada faktor lain yang tak dapat diraih begitu saja yakni faktor nasib dan sejarah. Tampilnya Pak Harto pada tanggal l Oktober 1965, menghancurkan Gerakan 30 September yang didalangi PKI tidak terelakkan lagi, sejarah sebagai faktor menentukan; sejarah jualah yang menyeretnya terus ke tampuk kekuasaan, kemudian secara absah menjadi Presiden. Orang juga boleh berkata bahwa pemunculannya sebagai tokoh sejarah adalah nasibnya yang telah ditakdirkan oleh Tuhan YME. Memang, Pak Harto adalah tokoh sejarah, Karena itu, banyak pengamat dan penganalisa menyatakan bahwa di masa datang bangsa Indonesia mungkin akan sulit.untuk menemukan lagi tokoh sejarah seperti ini. Analisa ini sangat beralasan melihat Indonesia hari ini yang makin mapan dengan seluruh sistem yang dibangun berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, kesadaran dan kedewasaan rakyat didalam politik dan hukum yang kian tinggi dan hasil pembangunan yang makin dinikmati rakyat banyak; apalagi bila era tinggal landas dicapai dalam pembangunan jangka panjang ke dua.
Konsekuensi logisnya di masa datang, tampilnya putera-putera bangsa ke tampuk kepemimpinan nasional tidak akan lagi melalui pergolakan melainkan melalui sistem pergantian kepemimpinan nasional secara konstitusional. Maka, bagi saya, di masa depan bangsa ini selain akan sulit menampilkan tokoh sejarah lagi (yang muncul ke tampuk kekuasaan karena peristiwa sejarah) juga tidak mudah memperoleh seorang pemimpin bangsa yang memiliki kualitas unggul dan sifat-sifat utama.
Seorang pemimpin, apalagi pemimpin suatu bangsa, harus memenuhi beberapa kriteria. Antara lain yang paling pokok adalah kualitas unggul dan sifat-sifat utama itu. Kualitas unggul seorang pemimpin dapat diukur pada saat ia menghadapi tantangan besar, tapi berani mengambil keputusan (kadangkala di luar batas kemampuannya), penuh kearifan dan kebijaksanaan. Sifat utama dapat dideteksi dan diukur pada tingkah laku dan perilaku kenegarawanan, tidak emosional, diam, visi yang luas, tepa selira  (menghargai) , adil dan jujur, berani dan inteligen.
Sejak menjadi perwira TNI dalam usia yang masih muda, Pak Harto sudah berkali-kali dihadapkan kepada tantangan untuk menjatuhkan pilihan. Ditugaskan untuk memadamkan pemberontakan KNIL pimpinan Andi Aziz di Makassar tahun 1950 boleh dikatakan ujian berikutnya setelah Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta yang terkenal itu. Pak Harto menjawab tantangan dan ancaman itu dengan arif dan bijaksana, menghindarkan korban terlalu banyak di pihak rakyat sementara musuh harus dihancurkan. Peristiwa Serangan Umum dimana Pak Harto sebagai pengambil inisiatif dan —seperti dikatakan oleh Panglima Besar Sudirman- adalah bunga pertempuran yang telah mengharumkan nama Republik Indonesia. Ini tercium kembali oleh PBB membuka mata dunia atas propaganda Belanda bahwa RI telah hancur sebagai isapan jempol dan palsu belaka.
Sebagai Panglima Mandala tahun 1962, tugas membebaskan Irian Barat adalah satu kehormatan dan kepercayaan sekaligus tantangan yang sangat berat. Dipikulnya tugas itu dengan bangga, dijawabnya tantangan besar itu dengan penuh perhitungan. Hasilnya mempercepat proses perundingan antara Indonesia-Belanda dan pacta akhirnya melahirkan perjanjian New York yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 1962 (salah satu deklarasinya berbunyi selambat-lambatnya pada tanggal 1 Mei 1963 Pemerintah RI secara resmi menerima pemerintahan di Irian Barat dari pemerintah sementara PBB).
Kualitas unggul dan sifat-sifat utama itu muncul kembali mewarnai setiap langkah dan keputusan yang diambilnya pada saat­saat yang sangat genting dan membingungkan banyak pihak di pusat-pusat kekuasaan (apalagi rakyat) dan secara konsisten didemonstrasikan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Pak Harto menghancur leburkan G-30-S/PKI pada tahap sangat dini (1 Oktober 1965) di ibu kota Jakarta tanpa letusan bedil, dan mengatasi konflik dualisme kepemimpinan nasional melalui pendekatan konstitusional dan institusional. Kemudian dengan kesabaran luar biasa, Pak Harto melakukan peinbaharuan politik serta menata sendi-sendi supra dan infrastruktur politik berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pak Harto juga bertekad melaksanakan Pemilu yang pertama (Golkar pada waktu itu menyarankan untuk ditunda dulu) dan membanting balik pendulum dari Politik Sebagai Panglima kearah Rencana Pembangunan Nasional Lima Tahun yang hari ini —dan insya Allah di hari-hari yang akan datang-telah kita rasakan hasil–­ nya.
Kualitas unggul sebagai pemimpin dan sifat-sifat utama Pak Harto ini bagi saya merupakan faktor sentral yang membedakannya dengan pemimpin lain di negeri ini. Sebagai Menteri Muda Urusan Pemuda dalam usia dan pengalaman yang masih muda, saya rasakan sentuhan kualitas dan sifat serta pembawaan -yang karena dari “sononya” sudah begitu. Kesemuanya itu membuat bimbingan, nasihat serta petunjuk-petunjuk tidak semata-mata merek Presiden, tapi serta merta berpadu dalam satu fungsi mulia- Guru, Bapak dan Negarawan.
Ajaran enam butir mutiara hidup misalnya diberikan kepada saya setelah petunjuk-petunjuk mengenai tugas; dan ajaran itu diuraikan dengan nada seorang guru, sekaligus seorang bapak, terhadap anaknya. Ungkapan-ungkapan bahasa Jawa yang sangat falsafati diberikan dalam bobot nasihat, diuraikan menjadi jelas dan saya mengerti, menghayatinya meskipun saya bukan orang Jawa. Kamulyaning urip iku dumunung ana tentreming ati (Kemuliaan hidup itu terletak pada hati yang tenteram); adalah salah satu dari padanya yang dalam pengalaman dan praktek hidup saya rasakan kebenarannya.
Dari sekian sifat utama yang paling menonjol diperlihatkan oleh Pak Harto adalah kesabaran, tidak emosional dan diam. Setiap menteri atau siapa saja yang pernah bekerja dan mengabdi dibawah kepemimpinannya pasti mengalami perlakuan yang akarnya menghujam dalam sifat-sifat yang terpuji ini.
Tahun 1980, dalam kapasitas Menteri Muda Urusan Pemuda saya berdialog dengan pimpinan dan aktivis mahasiswa UI yang sedang bergolak menentang NKK. Mendapat cemoohan bahkan dilempari telur oleh sekelompok mahasiswa yang sangat emosionai, saya sambut dengan senyum dan penuh pengertian. Tapi komentar berbagai surat kabar terhadap perbuatan para mahasiswa itu mengandung kemarahan dan sesalan. Sebagai pembantunya, saya laporkan kejadian itu dan dari wajahnya saya bisa baca perasaannya yang tersinggung namun emosinya yang begitu teredam sehingga praktis yang saya terima hanya sebuah gelengan kepala kecil sambil senyum penuh makna.
Satu sidang kabinet terbatas bidang Kesra yang ber-tele-tele (setelah itu tidak pernah diadakan lagi) berlarut-larut dari pukul 10 sampai 3 petang tidak juga mengusik emosi dan kesabaran Pak Harto, sementara yang lain termasuk Wakil Presiden Adam Malik tampak makin gelisah. Hal ini disebabkan laporan kegiatan rutin departemen yang panjang dan seharusnya tidak perlu. Meskipun demikian tidak diinterupsi sama sekali oleh Pak Harto bahkan diberikan keleluasaan.
Kebebasan setiap pembantu Presiden bukan hanya di situ. Dalam menjalankan kebijakan kebijakan, mengembangkan gagasan dan ide, kebebasan itu diberikan sepanjang masih dalam kerangka program kabinet. Kebebasan menjadi berbunga dan berkreasi karena setiap kali, diberikan petunjuk atau koreksi di sana-sini atau kadang kadang tanpa komentar sama sekali. Hal yang terakhir ini sering membuat para pembantu Presiden keliru menerjemahkannya. Bagi yang sabar, tidak terburu-buru, akan terhindar dari misinterpretasi. Dan harus saya akui satu dua kali saya keliru menerjemahkannya.
Soal sabar dan tahan emosi serta tidak banyak bicara (diam) begitu hidup mewarnai spektrum kepemimpinan Pak Harto, bermanifestasi dalam penantian momentum yang tepat, perhitungan yang cermat dan berskala kebangsaan yang luas dan strategis.
Pemantapan Pancasila sebagai ideologi nasional, misalnya, terpaksa menunggu waktu puluhan tahun setelah lahirnya Orde Baru yang justru inti perjuangannya melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Pernah saya tanyakan mengapa perlu menunggu waktu sampai begitu lama.
Pak Harto menjawab bahwa bisa saja sejak awal Orde Baru Pancasila ditetapkan sebagaimana adanya sekarang. Tapi itu tidak akan mendidik rakyat. Pancasila akan diterima tanpa pengertian dan penghayatan yang dalam. Maka cara dan jalan yang ditempuh, meskipun lama dan berliku-liku, namun pasti, dengan melepaskan pandangan dan pikiran kepada bangsanya, disambut dan ditanggapi kemudian berproses, akhirnya bermuara dalam satu konsensus nasional. Sejarah mencatat Eka Prasetya Panca Karsa dan Pancasila sebagai satu-satunya asas bermasyarakat, berbangsa dan bernegara diterima oleh rakyat melalui cara yang tidak dipaksakan apalagi indoktriner. Kesabaran itu juga begitu nyata dipraktekkan dalam penyelesaian dualisme kepemimpinan nasional, dalam penataan organisasi-organisasi kekuatan sosial politik dan kemasyarakatan.
Seorang pemimpin yang pandai menahan emosi, tidak bisa lain akan mahir menghindarkan diri dari banyak bicara sekaligus men­ demostrasikan watak dan karakter yang teladan. Peribahasa: “Diam itu emas dan bicara itu perak” menunjukkan tingkat dan gradasi sifat serta peranan diam (tidak banyak bicara) dalam hidup dan kehidupan seseorang apalagi pemimpin bangsa. Mantan Presiden Prancis Charles de Gaulle pernah berkata bahwa diam dapat me rupakan satu instrumen yang kuat bagi seorang pemimpin. Pemimpin, dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah manusia biasa. Kelebihan mereka dibanding orang kebanyakan adalah kemampuan mengambil keputusan yang arif dan tepat dalam suasana yang sulit, yang menantangnya untuk menjatuhkan pilihan. Sebagai manusia biasa tiap pemimpin tidak terlepas dari kekurangan dan kelemahan. Emosional adalah kelemahan yang manusiawi. Banyak diantara mereka tidak dapat menutup-nutupi sifat emosionalnya; seperti Churchill, Nikita Kruschev tanpa segan-segan mengumbar emosinya.
Dalam sepuluh tahun dibawah kepemimpinan Pak Harto, baik sebagai kepala negara maupun pemimpin pemerintahan, tidak sekalipun saya kena marah, tak pernah saya mendengar tutur kata yang emosional. lnstrumen yang kuat -diam- memang milik Pak Harto. Banyak kritik yang dilontarkan sementara pihak -dari dalam maupun luar negeri- yang dialamatkan kepada beliau, penuh sensasi dan kadangkala bersifat pribadi, jarang sekali ditanggapi secara terbuka. Ini tiada lain disebabkan pengaruh kekuatan instrumen tadi.
Selama sepuluh tahun, pengalaman hidup saya telah disarati oleh pengalaman yang mengandung ajaran dan teladan dari seorang pemimpin bangsa yang bagi saya sekaligus sebagai guru dan bapak. Nasihat dan ajaran yang saya terima telah memperkaya khazanah pengetahuan hidup, meskipun hams saya akui melaksanakannya tidak semudah diucapkan. Terlalu banyak kesan, banyak yang menarik dan unik, antara lain ialah daya ingatan Pak Harto yang luar biasa itu. Itu tidak berarti seluruhnya Pak Harto tampil mengesankan, tanpa kekurangan. Yang kurang berkesan itu hanya satu: Pak Harto bukan orator yang memukau.
Sekali dalam masa yang panjang itu, terselip masalah pribadi saya yang saya sampaikan kepada beliau dengan maksud minta restu. Secara pribadi pula Pak Harto memberikan tanggapan dan nasihat yang sangat menyejukkan hati. Pada detik-detik itulah h ti ini begitu bergetar, genangan air mata di pelupuk mata, karena pengertian dan kearifan Pak Harto menunjukkan jalan keluar. Akansaya simpan dalam hati sebagai bekal pelengkap kesan dan kenangan terhadap Bapak Bangsa ini.

***

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.