Menelusuri jejak Orde Baru di arsip daerah sering lebih sulit daripada mencari dokumen di arsip nasional. Banyak arsip kabupaten dan kota belum terdigitalisasi, katalognya tidak seragam, dan aksesnya bergantung pada kebijakan kantor setempat. Di tingkat lokal justru banyak kebijakan, program pembangunan, dan peristiwa penting pada masa itu terekam. Panduan ini memberikan tujuh langkah praktis untuk mulai menelusuri arsip daerah secara sistematis.
1. Kenali jenis arsip daerah yang menyimpan rekam jejak Orde Baru
Sebelum datang ke kantor arsip, pahami jenis lembaga dan koleksi yang mungkin menyimpan dokumen periode 1966–1998. Di tingkat provinsi biasanya ada Arsip Nasional Daerah (ANRI daerah) atau Badan Perpustakaan dan Kearsipan. Di tingkat kabupaten/kota, arsip sering dikelola kantor perpustakaan dan kearsipan setempat. Arsip juga bisa tersebar di sekretariat daerah, dinas terkait (pekerjaan umum, pertanian, pendidikan), serta kantor kecamatan.
Dokumen yang lazim ditemukan antara lain surat keputusan bupati/wali kota, laporan program pembangunan (seperti Inpres Desa Tertinggal), notulen rapat muspida, daftar inventaris proyek, hingga foto kegiatan. Tidak semua arsip daerah tertata rapi. Karena itu, langkah pertama adalah memetakan lembaga mana yang paling mungkin menyimpan arsip relevan dengan topik Anda.
2. Tentukan topik spesifik yang ingin ditelusuri
Arsip daerah sangat luas. Tanpa topik yang spesifik, penelusuran akan memakan waktu lama. Pilih satu tema yang menarik minat Anda, misalnya pelaksanaan program keluarga berencana di tingkat kabupaten, pembangunan jalan desa, atau dinamika organisasi politik lokal pada pemilu 1971. Topik yang spesifik membantu Anda menyaring jenis dokumen dan lembaga yang perlu didatangi.
Jika masih bingung menentukan fokus, coba mulai dari peristiwa atau kebijakan yang Anda ketahui terjadi di daerah tersebut. Misalnya, Anda pernah membaca tentang penataan pedagang kaki lima di kota tertentu pada 1980-an. Jadikan itu pintu masuk awal.
3. Manfaatkan katalog dan inventaris arsip secara daring
Beberapa arsip daerah sudah memiliki katalog daring, meskipun tidak semua. Situs resmi pemerintah provinsi atau kabupaten kadang menyediakan daftar arsip statis dan dinamis. Anda bisa mencari kata kunci seperti nama program, nama pejabat, atau tahun tertentu. Jika tidak ada katalog daring, hubungi kantor arsip melalui telepon atau surel untuk menanyakan ketersediaan daftar arsip.
Untuk memperdalam cara membaca dan memverifikasi dokumen yang Anda temukan, lihat panduan membedah sumber primer Orde Baru langkah demi langkah. Panduan tersebut membantu Anda menilai keaslian dan konteks dokumen.
4. Sisir arsip surat kabar lokal dan terbitan pemerintah daerah
Selain arsip lembaga, surat kabar lokal dan terbitan pemerintah daerah (seperti buku laporan tahunan atau profil daerah) sering memuat informasi tentang kebijakan dan peristiwa Orde Baru. Perpustakaan daerah atau kantor penerangan setempat mungkin menyimpan koleksi tersebut. Anda bisa menelusuri halaman demi halaman untuk mencari berita tentang program pembangunan, kunjungan pejabat, atau konflik lokal.
Terbitan pemerintah daerah seperti “Laporan Pembangunan Lima Tahun” biasanya memuat data proyek dan anggaran. Meskipun bersifat resmi dan cenderung positif, dokumen ini tetap berguna sebagai titik awal untuk membandingkan dengan sumber lain.
5. Lakukan wawancara dengan pelaku sejarah lokal
Arsip daerah tidak selalu lengkap. Untuk mengisi celah, wawancara dengan pelaku sejarah setempat bisa sangat membantu. Mereka bisa memberikan konteks, cerita di balik dokumen, atau bahkan menunjukkan lokasi arsip yang belum terjangkau. Pilih narasumber yang terlibat langsung, seperti mantan pegawai kecamatan, anggota DPRD periode 1980-an, atau aktivis organisasi masyarakat.
Sebelum wawancara, siapkan daftar pertanyaan yang terarah dan minta izin untuk merekam. Catat tanggal dan tempat wawancara. Jika Anda ingin menyusun kronologi peristiwa berdasarkan temuan Anda, ikuti panduan cara menyusun kronologi peristiwa Orde Baru agar hasilnya runtut.
6. Dokumentasikan temuan dengan disiplin
Setiap dokumen atau keterangan yang Anda peroleh harus dicatat secara rinci. Buat catatan lapangan yang mencakup nama arsip, nomor berkas, tanggal akses, dan ringkasan isi. Untuk dokumen fisik, Anda bisa memfoto halaman judul dan halaman penting, tetapi pastikan Anda mematuhi aturan kantor arsip setempat. Beberapa arsip mungkin melarang pemotretan, jadi tanyakan dulu.
Simpan salinan digital dalam folder yang rapi berdasarkan tema atau lembaga. Beri nama file yang konsisten, misalnya “SK_Bupati_1985_No123.pdf”. Disiplin dokumentasi akan memudahkan Anda saat menyusun tulisan atau esai nanti. Jika Anda berencana menulis esai, lihat juga panduan menyusun esai sejarah Orde Baru yang argumennya kuat untuk mengolah temuan menjadi tulisan.
7. Bangun jaringan dengan komunitas dan peneliti lokal
Menelusuri arsip daerah bisa menjadi pekerjaan soliter. Bergabung dengan komunitas sejarah lokal, forum diskusi, atau kelompok peneliti dapat membuka akses ke informasi yang tidak Anda ketahui. Mereka mungkin memiliki salinan dokumen, tahu arsip mana yang belum terkelola, atau bisa merekomendasikan narasumber.
Hadiri seminar atau lokakarya sejarah yang diadakan universitas setempat. Sering kali peneliti senior berbagi pengalaman tentang lika-liku pencarian arsip. Jaringan semacam ini juga bisa membantu Anda saat menemui hambatan birokrasi.
Sebagai selingan, jika Anda menyukai olahraga dan ingin menonton pertandingan basket, sepak bola, atau UFC secara gratis, kunjungi tarkamlive yang menyediakan streaming dengan host menghibur.
Ringkasan
Menelusuri jejak Orde Baru di arsip daerah menuntut perencanaan dan ketekunan. Tujuh langkah di atas membantu Anda memetakan sumber, memanfaatkan katalog, dan mendokumentasikan temuan. Mulailah dari topik yang sempit, lalu perluas seiring bertambahnya pemahaman.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua arsip daerah bisa diakses publik?
Tidak selalu. Beberapa arsip dinamis masih dibatasi untuk kepentingan internal, sementara arsip statis umumnya lebih terbuka. Ajukan permohonan akses secara resmi dan jelaskan tujuan penelitian Anda. Petugas arsip akan memberi tahu prosedur yang berlaku.
Bagaimana jika arsip yang saya cari tidak ditemukan?
Gunakan sumber alternatif seperti surat kabar lokal, wawancara, atau terbitan pemerintah daerah. Anda juga bisa menanyakan kepada peneliti lain yang mungkin pernah mengakses arsip serupa. Terkadang dokumen berpindah ke lembaga lain tanpa katalog yang diperbarui.
Apakah saya perlu izin khusus untuk mewawancarai pelaku sejarah?
Tidak ada izin formal, tetapi Anda harus mendapatkan persetujuan narasumber secara lisan atau tertulis. Jelaskan tujuan wawancara dan penggunaan hasilnya. Jika narasumber meminta bagian tertentu tidak dipublikasikan, hormati permintaan tersebut.