Sumber lisan sejarah Orde Baru adalah kesaksian yang direkam dari orang yang mengalami peristiwa 1965 sampai 1998, baik lewat wawancara langsung maupun rekaman yang sudah tersimpan di lembaga arsip. Dokumen resmi umumnya hanya memuat versi pemerintah, sedangkan kesaksian pelaku kecil, pegawai desa, atau keluarga korban sering luput dari arsip. Periset yang hanya mengandalkan kertas akan mendapat gambaran pincang.
Kapan sumber lisan lebih berguna daripada dokumen
Surat keputusan, laporan intelijen, dan berita surat kabar zaman itu menyimpan keputusan dan kebijakan. Yang tidak tersimpan adalah alasan orang menjalankannya di lapangan, suasana ketakutan di kampung, atau cara sebuah instruksi diterjemahkan oleh pejabat daerah. Sumber lisan menutup celah itu.
Sumber lisan juga penting untuk peristiwa yang dokumennya sengaja dimusnahkan atau tidak pernah dibuat. Banyak kejadian di tingkat desa dan kelurahan berlangsung tanpa catatan tertulis sama sekali. Satu-satunya jejak yang tersisa ada di ingatan pelaku dan saksi.
Ingat batasnya. Kesaksian tidak bisa menggantikan dokumen untuk hal-hal seperti tanggal rapat kabinet atau isi undang-undang. Gunakan sumber lisan untuk melengkapi, bukan menggantikan.
Langkah menyiapkan wawancara
- Tetapkan pertanyaan penelitian lebih dulu. Tulis satu kalimat tentang apa yang ingin kamu ketahui, misalnya bagaimana warga sebuah kecamatan menjalani program transmigrasi. Pertanyaan ini menentukan siapa yang perlu diwawancarai.
- Buat daftar calon narasumber dari beberapa lapisan. Jangan hanya pejabat. Cari juga staf rendahan, guru, pedagang, petani, dan anggota keluarga yang terdampak.
- Pelajari konteks sebelum bertemu. Baca dulu arsip atau kronologi yang tersedia supaya kamu bisa menilai mana keterangan yang cocok dan mana yang keliru.
- Siapkan alat rekam dan cadangan. Dua perangkat perekam, baterai cadangan, dan buku catatan agar wawancara tidak gagal karena hal teknis.
- Susun panduan pertanyaan terbuka. Hindari pertanyaan yang jawabannya hanya ya atau tidak. Mulai dari hal konkret seperti rutinitas harian, lalu masuk ke peristiwa besar.
Menentukan siapa yang layak diwawancarai
Prioritaskan narasumber yang punya posisi langsung terhadap peristiwa. Saksi mata lebih bernilai daripada orang yang hanya mendengar kabar. Jika memungkinkan, cari dua narasumber dari pihak berlawanan supaya kamu bisa membandingkan versi mereka.
Usia narasumber juga pertimbangan praktis. Semakin jauh dari peristiwa, semakin besar risiko ingatan bercampur dengan cerita yang beredar kemudian. Utamakan yang mengalami langsung saat peristiwa terjadi.
Cara bertanya agar jawaban tidak dangkal
Mulai dari pertanyaan deskriptif tentang apa yang dilihat, didengar, dan dilakukan narasumber. “Apa yang Anda lihat di pasar pagi itu?” lebih produktif daripada “Bagaimana perasaan Anda saat itu?”. Setelah detail terkumpul, baru masuk ke penilaian dan perasaan.
Minta contoh konkret setiap kali jawaban terasa umum. Kalau narasumber berkata suasana tegang, tanyakan apa yang membuatnya tegang, siapa yang bicara, dan kapan terjadinya. Detail kecil semacam ini yang membuat kesaksian bisa diverifikasi.
Jangan memotong cerita, walau terdengar melenceng. Biarkan narasumber menyelesaikan alurnya, lalu kembali ke topik dengan pertanyaan lanjutan. Memotong di tengah biasanya membuat ia menutup diri.
Catat nama, usia, pekerjaan, dan alamat narasumber lengkap dengan tanggal wawancara. Tanpa itu kesaksian sulit dipakai sebagai rujukan.
Menilai keandalan kesaksian
Setiap kesaksian perlu diuji. Tiga hal yang paling sering masalah adalah jarak waktu, kepentingan narasumber, dan pengaruh cerita versi resmi yang sudah beredar puluhan tahun.
- Jarak waktu. Ingatan melemah untuk detail kecil seperti angka dan tanggal, tapi biasanya tetap kuat untuk peristiwa yang menyentuh emosi.
- Kepentingan. Pelaku mungkin melindungi diri, korban mungkin memperbesar penderitaan. Keduanya tetap berguna selama kamu sadar posisinya.
- Versi resmi. Narasumber bisa mengulang narasi pemerintah karena itu satu-satunya yang pernah ia dengar sejak lama.
Cara menguji: cari kesaksian sejenis dari beberapa orang yang tidak saling kenal, lalu lihat bagian mana yang cocok. Titik temu biasanya lebih bisa dipercaya. Bagian yang berbeda justru menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Prinsip ini sama dengan membandingkan sumber sejarah Orde Baru yang berbasis dokumen tertulis.
Menyimpan dan merujuk sumber lisan
Rekaman yang baik wajib disertai catatan lapangan, transkrip, dan lembar izin dari narasumber. Transkrip bisa kamu ringkas, tetapi bagian yang dikutip langsung harus ditulis persis sesuai ucapan, termasuk jeda dan kata ulang jika perlu.
Beri kode pada setiap berkas, misalnya SL-001 untuk wawancara pertama. Cantumkan nama narasumber, tempat, tanggal, durasi, dan nama pewawancara. Sistem penamaan yang konsisten akan menyelamatkanmu saat menulis bab terakhir. Cara mengelola arsip seperti ini dibahas lebih rinci di panduan memilih arsip sejarah Orde Baru untuk riset.
Kalau kamu baru mulai, jangan mengambil proyek besar. Pilih satu peristiwa kecil di satu desa atau sekolah. Selesaikan tuntas. Bagi periset pemula, langkah menelusuri sejarah Orde Baru untuk pemula bisa jadi kerangka kerja yang lebih masuk akal ketimbang langsung mengejar peristiwa nasional.
Etika yang tidak bisa ditawar
Jelaskan tujuan wawancara sebelum mulai merekam. Minta izin untuk mengutip nama, dan hormati permintaan anonim. Untuk topik sensitif, kamu mungkin perlu menyimpan rekaman di tempat aman dan menunda publikasi.
Narasumber berhak menghentikan wawancara kapan saja. Jika ia menarik persetujuan setelah rekaman dibuat, jangan pakai materinya. Aturan ini bukan sekadar formalitas, terutama untuk orang yang hidup di masa yang penuh tekanan politik. Banyak lembaga arsip punya pedoman etika yang bisa kamu ikuti, jadi tanyakan sebelum memulai proyek.
Ringkasan
Sumber lisan melengkapi dokumen resmi yang biasanya hanya memuat versi penguasa. Kunci pengerjaannya ada pada persiapan pertanyaan, pemilihan narasumber dari berbagai lapisan, pencatatan detail konkret, dan penilaian kritis terhadap setiap kesaksian. Rekaman tanpa catatan lapangan dan izin narasumber tidak akan berguna untuk rujukan jangka panjang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa lama jeda wawancara yang masih bisa dipercaya?
Tidak ada angka pasti. Ingatan untuk peristiwa yang menyentuh emosi biasanya bertahan puluhan tahun, sedangkan detail angka dan tanggal cepat kabur. Karena itu konfirmasi tanggal dan angka dengan dokumen tertulis bila ada.
Apakah kesaksian satu orang cukup jadi sumber?
Untuk konteks dan suasana, satu kesaksian bisa berguna. Untuk klaim tentang peristiwa besar, cari minimal dua atau tiga narasumber yang tidak saling mengenal agar bisa dibandingkan.
Bagaimana jika narasumber menolak direkam?
Hormati penolakannya. Kamu bisa meminta izin mencatat secara manual atau memakai keterangannya sebagai latar belakang tanpa kutipan langsung. Jangan merekam diam-diam.