Cara Menelusuri Sejarah Orde Baru untuk Pemula

Meja riset berisi koran lama, map arsip, kaca pembesar, dan catatan tangan untuk menelusuri sejarah Orde Baru

Cara menelusuri sejarah Orde Baru yang paling aman untuk pemula adalah mulai dari satu peristiwa kecil, kumpulkan sumber dari beberapa jenis arsip, lalu bandingkan versinya sebelum menarik kesimpulan. Periode 1966 sampai 1998 meninggalkan jejak dalam bentuk dokumen resmi, surat kabar, foto, hingga cerita keluarga. Dengan urutan kerja yang jelas, riset amatir bisa menghasilkan catatan yang rapi dan bisa dipertanggungjawabkan.

Tentukan satu topik sempit lebih dulu

Pemula sering gagal karena mengambil topik terlalu luas seperti “sejarah politik Orde Baru”. Topik selebar itu butuh bertahun-tahun riset. Pilih satu peristiwa, satu lembaga, atau satu kebijakan dalam rentang waktu pendek.

Contoh topik yang bisa selesai dalam beberapa minggu:

  • Pembangunan satu jalan raya atau jembatan di kota tertentu pada dekade 1980-an.
  • Sejarah satu sekolah negeri yang berdiri pada masa itu.
  • Perubahan nama jalan di kampungmu antara 1970 dan 1990.
  • Riwayat satu pasar tradisional yang dipindahkan pemerintah daerah.

Batasi juga rentang tahunnya. Meneliti “1983 sampai 1985” jauh lebih mudah daripada “selama Orde Baru”. Semakin sempit topik, semakin cepat kamu tahu kapan sumber sudah cukup.

Kumpulkan empat jenis sumber

Sumber sejarah terbagi menjadi primer dan sekunder. Sumber primer dibuat pada masa peristiwa terjadi, misalnya surat resmi, foto, atau koran terbitan hari itu. Sumber sekunder ditulis belakangan, seperti buku sejarah atau artikel penelitian.

Dokumen dan arsip resmi

Arsip Nasional Republik Indonesia menyimpan banyak berkas pemerintah, termasuk surat keputusan dan laporan departemen. Beberapa daerah punya kantor arsip sendiri. Datang langsung biasanya lebih cepat daripada menunggu balasan surat elektronik. Siapkan daftar kata kunci dan nomor surat jika sudah ada petunjuk awal.

Surat kabar sezaman

Koran adalah cara termurah untuk merasakan suasana zaman. Perpustakaan nasional dan beberapa perguruan tinggi menyediakan salinan mikrofilm atau basis data digital. Catat tanggal, halaman, dan judul berita persis seperti aslinya. Perhatikan juga iklan dan berita kecil, kadang justru di sana muncul detail harga dan nama orang.

Foto dan benda

Album keluarga, piagam, monumen, dan papan nama lama bisa jadi sumber. Untuk setiap foto, tulis siapa yang menyerahkan, kapan kira-kira diambil, dan di mana. Kalau tidak yakin, tulis “perkiraan” agar tidak keliru di kemudian hari.

Sejarah lisan

Wawancara dengan pelaku atau saksi mata memberi warna yang tidak ada di dokumen. Namun ingatan manusia bisa berubah. Rekam pembicaraan setelah mendapat izin, lalu bandingkan isinya dengan sumber tertulis. Kalau ada yang berbeda, catat perbedaannya, jangan langsung pilih salah satu.

Verifikasi sebelum menulis

Semua sumber punya kepentingan. Koran pada masa itu bisa berpihak, begitu juga dokumen resmi. Ada beberapa kebiasaan yang membantu menjaga ketepatan:

  1. Cari minimal dua sumber berbeda untuk satu klaim penting.
  2. Catat nama sumber, tanggal, dan lokasi penyimpanan setiap dokumen.
  3. Pisahkan fakta yang tercatat dari tafsiranmu sendiri.
  4. Periksa ejaan nama orang dan tempat, banyak yang berubah setelah 1998.

Kalau kamu menemukan klaim yang hanya muncul di satu sumber dan tidak bisa dicek, tulis dengan hati-hati. Gunakan kalimat seperti “menurut laporan surat kabar X” supaya pembaca tahu dari mana informasi itu berasal. Menyebut sumber bukan berarti melemahkan tulisan, justru sebaliknya.

Susun catatan dengan format tetap

Riset akan berantakan tanpa sistem. Buat satu berkas untuk setiap sumber, isinya judul, tanggal, jenis, lokasi, dan ringkasan singkat. Untuk dokumen, cantumkan nomor arsip. Untuk wawancara, cantumkan nama narasumber dan tanggal percakapan.

Sistem sederhana ini berguna saat kamu menulis. Kamu tidak perlu membuka ulang semua arsip hanya untuk mengecek satu nama. Beberapa peneliti menelusuri peninggalan fisik di lapangan seperti monumen dan bangunan tua sebagai pelengkap sumber tertulis, dan cara itu juga bisa kamu pakai untuk memeriksa jejak yang masih berdiri, seperti yang dibahas dalam artikel jejak Orde Baru peninggalan sejarah yang masih ada.

Kelola bias dan batasan riset sendiri

Setiap orang membawa sudut pandang, termasuk kamu. Kalau kamu tumbuh setelah 1998, banyak anggapan tentang masa itu datang dari buku pelajaran atau percakapan keluarga. Sebaiknya tuliskan dulu apa yang kamu yakini sebelum mulai riset, lalu lihat apakah sumber mengubah pandangan itu.

Ada beberapa jebakan umum yang perlu dihindari pemula:

  • Menganggap satu buku sebagai kebenaran tunggal.
  • Memakai istilah masa kini untuk menjelaskan peristiwa puluhan tahun lalu tanpa menjelaskan perbedaannya.
  • Mengabaikan sumber dari pihak yang berseberangan.
  • Menyalin kutipan tanpa mencatat halaman asalnya.

Tuliskan juga keterbatasan risetmu. Kalau arsip daerah tidak bisa diakses, sebutkan hal itu di catatan. Kejujuran soal apa yang belum ditemukan membuat tulisan lebih dipercaya.

Mulai dari yang paling dekat

Kamu tidak perlu izin khusus untuk memulai. Cek dulu koleksi keluarga: ijazah, kartu tanda penduduk lama, surat tanah, atau foto upacara sekolah. Barang-barang ini sering menyimpan tahun dan nama tempat yang bisa jadi pintu masuk ke arsip yang lebih besar.

Setelah itu, hubungi perpustakaan daerah atau komunitas sejarah setempat. Banyak pegiat sejarah amatir bersedia berbagi daftar arsip yang sudah mereka telusuri. Bergabung dengan kelompok diskusi sejarah juga membantu menemukan sumber yang tidak muncul di mesin pencari. Untuk topik yang menyangkut kebijakan publik atau sengketa hukum, sebaiknya konsultasikan temuanmu dengan sejarawan atau arsiparis agar tidak salah tafsir.

Ringkasan

Menelusuri sejarah Orde Baru dimulai dari topik yang sempit, lalu bergerak ke pengumpulan empat jenis sumber: arsip resmi, surat kabar sezaman, foto atau benda, dan wawancara. Bandingkan setiap klaim penting dengan minimal dua sumber, simpan catatan dengan format tetap, dan tuliskan dengan jelas apa yang masih belum terverifikasi. Dengan urutan ini, riset pemula tetap bisa rapi dan berguna.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah saya perlu datang langsung ke Arsip Nasional?

Tidak selalu. Sebagian koleksi sudah tersedia secara digital dan bisa diakses lewat layanan daring. Namun untuk berkas tertentu, terutama yang belum dialihmediakan, kunjungan langsung lebih cepat. Hubungi petugas arsip dulu untuk memastikan ketersediaan berkas dan syarat layanan.

Bagaimana kalau narasumber masih hidup tetapi enggan diwawancara?

Hormati keputusannya dan jangan memaksa. Kamu masih bisa memakai sumber tertulis atau mencari narasumber lain yang punya pengalaman serupa. Kalau di kemudian hari ia bersedia, pastikan ia mengerti tujuan riset dan cara temuannya akan dipakai.

Apakah tulisan riset amatir bisa dipublikasikan?

Bisa, asalkan sumber disebutkan dengan jelas dan klaim yang belum pasti ditandai. Sebutkan metode yang kamu pakai dan keterbatasannya. Untuk tulisan yang menyangkut nama orang atau peristiwa sensitif, mintalah pendapat sejarawan atau editor yang berpengalaman sebelum diterbitkan.