PENJELASAN LENGKAP PRESIDEN REFORMASI NASIONAL AKAN DILAKSANAKAN SECEPAT MUNGKIN

PENJELASAN LENGKAP PRESIDEN

REFORMASI NASIONAL AKAN DILAKSANAKAN SECEPAT MUNGKIN[1]

 

Pengantar :

Presiden Soeharto kemarin bertemu para tokoh masyarakat antara lain Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, KH Cholil Badawi, dan Maaruf Amin di Istana Merdeka, Selasa. Presiden didampingi Mensesneg Saadillah Mursjid. Hadir juga dalam pertemuan itu antara lain, Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto, Kasad Jenderal TNI Subagyo HS, Pangkostrad Letjen TNI Prabowo Subianto dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Samsoedin. Berikut ini petikan keterangan Presiden :

Saudara-saudara dan hadirin dan saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Hari ini saya mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh ulama dan tokoh­tokoh masyarakat dan juga pimpinan ABRI. Ya, antara lain saya, minta beberapa pandangan dan nasihat untuk menghadapi situasi, keadaan negara yang sama-sama telah kita alami dan kita bersama telan mengetahui sekarang ini.

Tentu semua ini adalah memprihatinkan sekali bagi kita yang mempunyai rasa tanggungjawab terhadap keselamatan negara dan bangsa ini. Ya, antara lain adalah, ada keinginan-keinginan agar saya mundur dari kedudukan sebagai Presiden. Hanya, masalahnya bagi saya, sebetulnya mundur dan tidaknya itu tidak menjadi masalah. Yang perlu kita perhatikan itu, apakah dengan kemunduran saya itu, kemudian segera keadaan iniakan bisa diatasi.

Sebab, bagi saya soal kedudukan Presiden, adalah bukan hal yang mutlak bagi saya. Saudara-saudara tentu juga sudah tidak lupa lagi, jadi ingat akan proses pemilihan dan pelantikan Presiden pada waktu saya akan dicalonkan menjadi Presiden untuk 1998-2003 oleh kekuatan sosial politik dan disampaikan kepada fraksi-fraksinya dalam MPR, sebelumnya sudah mengatakan, apakah benar rakyat Indonesia itu masih percaya pada saya, karena saya sudah 77 tahun.

Agar supaya dicek benar-benar, dari pada, semuanya itu. Dan ternyata dari semua kekuatan sosial politik, ialah PPP, PDI, Golkar maupun juga ABRI mengatakan memang benar sebagian besar rakyat itu masih menghendaki agar saya menerima pencalonan kembali sebagai Presiden untuk pencalonan kembali sebagai Presiden untuk masa bakti 1998-2003.

Baiklah, kalau demikian tentu saya terima dengan rasa tanggungjawab. Jadi, saya terima bukan karena kedudukannya, tetapi karena tanggungjawab, lebih-lebih pada saat kita menghadapi kesulitan akibat berbagai krisis tersebut. Rasa-rasanya kalau saya meninggalkan begitu saja, lantas bisa dikatakan, tinggal gelanggang colong playu. Berarti meninggalkan keadaan yang sebenarnya saya masih harus turut bertanggungjawab.

Karena itu, pada waktu itu, sekali lagi saya terima dengan rasa tanggungjawab semata-mata terhadap negara dan bangsa Indonesia ini. Sekarang, ternyata baru saja timbul yang tidak seluruhnya mendukung, percaya, melakukan, artinya unjuk rasa bahwa mereka sudah tidak percaya lagi pada saya. Sehingga lantas mengajukan supaya saya mundur.

Bagi saya, mundurnya itu sekali lagi tidak masalah. Karena saya sudah punya pendirian, untuk tidak menjadi Presiden, saya bertekad ‘ngamandito’. Dalam arti, saya akan mendekatkan diri dengan Tuhan, kemudian mengasuh anak-anak dengan sebaik-baiknya supaya menjadi warga negara yang baik, kepada masyarakat saya akan mem berikan nasihat, kepada negara dengan sendirinya tut wuri handayani, menggunakan segala apa yang kita miliki untuk membantu negara tersebut.

Sekarang kalau tuntutan mengundurkan diri itu saya penuhi, secara konstitusional, maka harus saya serahkan kepada Wakil Presiden. Secara konstitusional. Kemudian timbul, apakah ini juga merupakan jalan penyelesaian masalah dan tidak akan timbul lagi. Nanti Wakil Presiden juga lantas harus mundur lagi. Kalau begitu terus-menerus dan itu menjadi preseden atau menjadi kejadian dalam kehidupan kita berbangsa, bernegara dan bermarsyarakat, dengan sendirinya, negara dan bangsa kita itu akan kacau, seolah-olah tidak mempunyai landasan dalam menjamin kehidupan kita dalam berbangsa dan bermasyarakat.

Sedangkan kita itu, memiliki dasar itu, ialah Pancas ila dan UUD 45. Berarti memiliki konstitusi. Kalau konstitusi itu tidak kita pegang teguh oleh setiap warga negara, tentu negara dan bangsa itu akhirnya akan menjadi apa artinya, tidak akan langgeng berdirinya, bahkan mungkin ganti-berganti yang kemungkinan juga berakibat ada yang setuju atau tidak, yang berarti pula akan berakibat pertentangan yang lebih tajam, mungkin sampai kepada pertumpahan darah, mungkin juga sampai pada perang saudara, dan lain sebagainya.

Kalau ini terjadi, siapa yang rugi, tentu juga bangsa, kita sendiri. Sedangkan negara RI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, kemudian dengan diiringi dengan lahirnya Pancasila dan UUD 45 sehari sesudahnya, itu merupakan warisan pendiri-pendiri Republik, bahkan warisan pejuang-pejuang kita yang telah gugur, agar menjadi landasan yang baik bangsa kita yang sangat majemuk itu, agar dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, benar-benar akan terus-menerus dapat dibenarkan dan kita bisa hidup sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat danjuga diakui oleh bangsa-bangsa yang baik.

Sekali lagi bahwa soal mundur bagi saya tidak masalah. Hanya masalahnya, rasa tanggungjawab saya perlu memikirkan bagaimana negara dan bangsa kita. Jadi, saya andai kata belum mengambil keputusan mundur, bukan karena tidak mau mundur, tidak, tapi bagaimana agar kemunduran saya ini, negara dan bangsa benar-benar tetap terjaga. Konstitusi kita tetap bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, berarti bahwa Pancasila dan UUD 45 pun juga akan tetap bisa dilaksanakan.

Karena itulah, harus diambil langkah-langkah yang tidak meninggalkan konstitusi, tapi yang bisa kita gunakan sebagai landasan untuk menyelesaikan persoalan. Ialah mengatasi berbagai krisis, akibat krisis moneter, maupun juga krisis kepercayaan, bahkan ditambah lagi dengan perusakan-perusakan yang terjadi akhir-akhir inidengan sendirinya menambah kemampuan bangsa dan negara menjadi lebih kecil. Sehingga untuk mengadakan rehabilitasi, apalagi kelanjutan pembangunan, membutuhkan ketenangan, membutuhkan apa namanya, kesiapan untuk perencanaan maupun juga pelaksanaannya.

Untuk itulah, saudara-saudara sekalian sebangsa dan setanah air, kita harus memikirkan betul-betul agar ada satu fase yang bisa menjamin kelangsungan negara dan bangsa, dimana tidak menimbulkan kerusuhan, tapi apa yang diinginkan, ialah reformasi dan sebagainya itu bisa berjalan dengan baik.

Sekali lagi, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, hendaknya supaya kita benar-benar meresapkan, pikirlah nasib negara dan bangsa Indonesia pikirlah keselamatan dari pada rakyat dan bangsa Indonesia.

Jangan sampai karena emosi tidak terkendali, kemudian bangsa kita itu akan menjadi lebih miskin dan lebih menderita. Sedangkan cita-cita perjuangan kita untuk memproklamasikan negara RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45 itu untuk mensejahterakan rakyat Indonesia. Kita berjuang untuk mengisi kemerdekaan dan membangun agar masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila itu, benar-benar akan bisa terwujud.

Sekali lagi dalam mengambil jalan yang saya kemukakan tadi, semata-mata untuk menyelamatkan negara dan bangsa dari segala sesuatu yang harus kita laksanakan berdasarkan konstitusi kita. Saya harapkan, semuanya itu dapat dimengerti dan tidak perlu apa namanya, khawatir, saya akan mempertahankan untuk menjadi Presiden, sama sekali tidak.

Ada yang mengatakan, seperti tadi dikatakan, untuk tidak menjadi Presiden, kembali pada anggota masyarakat lain, masih bisa berguna bagi masyarakat dan bangsa dan masih banyak pengabdian yang bisa saya berikan. Jadi, demikianlah, ada yang juga mengatakan terus terang saja dalam bahasa Jawanya, tidak menjadi Presiden, tidak akan patheken. Itu kembali menjadi warga negara bisa tidak kurang terhormat dari Presiden asalkan bisa memberikan pengabdian kepada negara dan bangsa.

Jadi, jangan dinilai saya sebagai penghalang tidak sama sekali. Semata-mata karena tanggungjawab saya untuk membikin keselamatan bangsa dan negara inilah, kita harus mengambil langkah-langkah yang konstitusional, tetapi juga diridhoi oleh Tuhan YME, dengan jalan-jalan yang benar.

Saya mengharap, agar semuanya bisa dimengerti oleh rakyat seluruhnya, sehingga lantas berhentikanlah segala kegiatan yang akhirnya membawa akibat bagi penderitaan rakyat kita, dengan menghasut, lantas mendorong rakyat untuk berbuat salah. Yang sebenarnya, rakyat itu tidak mempunyai jiwa untuk berbuat salah, tapi karena kemudian dihasut, didorong sampai lantas lupa. Dan ini memang harus kita akhiri, karena bisa mempengaruhi nama dan martabat pada bangsa kita.

Sekali lagi, terima kasih atas perhatian para wartawan dan juga saudara-saudara ulama. Karena itu, saudara-saudara sekalian, setelah mendengar saran-saran dan pendapat dari para ulama, tokoh-tokoh masyarakat, berbagai organisasi kemasyarakatan, dan pendapat dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), maka untuk menyelamatkan negara dan bangsa, pembangunan nasional, Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, serta kesatuan dan persatuan bangsa, saya mengambil keputusan, sesuai dengan wewenang yang diberikan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), saya sebagai Presiden Mandataris MPR, saya akan melaksanakan dan memimpin reformasi nasional secepat mungkin.

Untuk itu, saya akan segera membentuk Komite Reformasi, yang anggota­ anggotanya terdiri atas tokoh masyarakat dan para pakar dari dunia perguruan tinggi.

Tugas komite ini, untuk segera menyelesaikan UU Pemilu, UU Kepartaian, susunan MPR, DPR dan DPRD, Undang-Undang Antimonopoli, Undang-Undang Antikorupsi dan lain-lainnya sesuai dengan keinginan masyarakat. Pemilihan Umum akan dilaksanakan secepatnya, berdasarkan Undang-Undang Pemilu yang baru.

Melaksanakan Sidang Umum MPR hasil pemilihan umum tersebut, antara lain untuk menetapkan GBHN, memilih Presiden dan Wakil Presiden dan ketetapan­ketetapan MPR lainnya.

Saya dengan ini menyatakan bahwa saya tidak akan bersedia lagi untuk dicalonkan sebagai Presiden. Untuk melaksanakan tugas-tugas yang sangat berat karena berbagai krisis, di bidang ekonomi, politik, dan hukum, maka saya segera melaksanakan reshuffle kabinet, sehingga Kabinet Pembangunan VII berubah menjadi kabinet baru yang dinamakan Kabinet Reformasi.

ABRI supaya menjaga kewaspadaan dan keselamatan nasional, menjaga keamanan dan ketertiban, bersama-sama dan bergandengan tangan dengan seluruh masyarakat.

Kesempatan ini saya gunakan untuk menyampaikan duka cita yang sedalam­ dalamnya kepada korban-korban peristiwa dan korban-korban kerusuhan yang terjadi. Semoga arwah para korban diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan sebaik-baiknya. Kepada sanak keluarga para korban kiranya diberikan kekuatan iman dan ketabahan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Akhirnya, saya menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya atas dukungan masyarakat dalam melaksanakan reformasi nasional yang sedang kita laksanakan. Semoga Allah SWT melindungi bangsa dan negara Republik Indonesia. (1-3)

Sumber : Media Indonesia (20/05/1998)

_______________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 414-419.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.