PRESIDEN LANTIK DORODJATUN SEBAGAI DUBES RI DI AS

PRESIDEN LANTIK DORODJATUN SEBAGAI DUBES RI DI AS[1]

 

Jakarta, kompas

Presiden Soeharto, hari Selasa (10/2), di Istana Negara, secara resmi melantik Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro Jakti sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (AS), menggantikan Dr. Arifin Siregar.

“Saya menganggap ini sebagai suatu kesempatan yang luar biasa.” Komentar spontan Dorodjatun, dalam acara pelantikan yang juga dihadiri Wapres dan Ny. Tuti Try Sutrisno itu.

Dorodjatun menggambarkan tugas barunya sama seperti tugas seorang public re­lations.

“Untuk mendapatkan tempat pijak yang baik di masyarakat, saya yakin sekali bahwa kita harus mau berangkat lebih jauh dari hanya sekadar argumen resmi, dan, inilah tantangan bagi saya.” ujarnya.

Dorodjatun (58) mengatakan,

“Saya bukanlah orang pertama dari universitas yang menjadi dubes. Ada yang lewat saluran menteri dan akhirnya sampai ke sana, Pak Arifin atau Pak Billy Joedono.”

Dengan dasar pemikiran ini, tambahnya, pendekatan terpenting tetap pada kampus, hingga pada akhirnya ke pers. Hal itu penting, karena ada kedekatan dan hubungan erat antara akademi dengan pers.

“Di hampir setiap negara, saya lihat perbauran kedua ini, sangat mempengaruhi public opinion. Seperti juga di Indone­sia, reading public ini kalangan terdidik. Jadi mau tidak mau, bukan hanya ke kalangan akademisinya, tapi ke pers juga harus rajin.” ujarnya.

Menjawab pertanyaan peran Amerika dalam konteks krisis moneter yang terjadi di Asia Tenggara, khususnya peran AS di Indonesia, Dorodjatun mengatakan, pada saat ini ia mendapat kesan G-7 belum sampai pada pengamatan yang bisa dikatakan jitu. Ia memperkirakan pada musim panas pertengahan tahun 1998 ini, akan terlihat bagaimana G-7 atau kalangan bisnis Internasional akan berdiri dalam menghadapi persoalan-persoalan yang disebut penyakit Asia. Flu Asia ini.

Tentang adanya tekanan Kongres, Dorodjatun menganggap masalah itu sebagai hal biasa.

“Sejak saya menjadi mahasiswa di sana sekian lama, saya tidak akan kaget melihat semua itu, termasuk bahasa-bahasa yang keras sekalipun.” katanya.

Walau begitu, ia mengakui, masalah kongres tersebut perlu mendapat perhatian serius. Bahkan, Presiden pun memberi perhatian khusus, terutama pada dampak yang akan terjadi dari cara menghadapi Kongres. Karena itu, Kepala Negara, meminta perhatian akan cara menghadapi kolega politik Kongres.

“Saya rasa, tepat penglihatan itu, karena seperti kita ketahui, hanya satu tahun lagi kita melihat, di AS sudah dimulai pergelutan untuk Presiden tahun 2000, jadi boleh dikatakan 1998 inilah tahun yang tenang di Kongres.” ujar Dorodjatun.

Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, pria berkaca mata itu, dilahirkan di Rangkasbitung, Jabar, 25 November 1939. Tahun 1994 secara resmi diangkat sebagai Dekan FE-UI. Setahun kemudian, ia pun dikukuhkan sebagai Guru Besar FE-UI .

Sumber : KOMPAS (11/02/1998)

__________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 24-25.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.