PRESIDEN TINJAU PETERNAKAN BURUNG UNTA DI KUPANG[1]

 

Kupang, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto meninjau lokasi peternakan unggas, burung unta, milik PT Royal Timor Ostrindo (RTO) di kawasan Lili, Kecamatan Fatuleu, 45 kilometer arah timur Kodya Kupang, Senin (14/10) petang.

Berapa minggu atau berapa hari burung unta itu bertelur dalam setahun? tanya Presiden Soeharto kepada Sadikin, salah seorang direksi Kaesindo Group yang membawahi PT RTQ.

“Mulanya ada delapan bulan tiap ekor bertelur hingga mencapai jumlah 50 butir. Jadi selang 25 hari karena memerlukan masa istirahat. Sedangkan masa berahinya sekitar delapan bulan terus-menerus.” jelas Sadikin.

Sebelumnya, Sadikin menjelaskan sekilas sejarah peternakan burung unta yang awalnya hidup secara liar di belantara Afrika. Unggas raksasa ini dikembangbiakkan lantaran sangat bernilai ekonomis. Misalnya, daging burung unta terkenal karena kadar kolesterolnya sangat rendah sehingga harga di pasaran dunia sekitar 20 dolar AS per kilogram.

Sementara itu, kulit yang telah disamak nilainya antara 300-400 dolar AS per lembar yang lebarnya sekitar 1,4 meter. Kulit ini digunakan untuk bahan baku industri tas, sepatu, jaket, koper, jok mobil, dompet dan ikat pinggang. Selain itu, bulu burung juga sangat dibutuhkan sebagai pembersih komputer karena tidak berminyak dan kornea matanya dapat digunakan untuk transplantasi kornea mata manusia.

Dijelaskan, usaha peternakan burung unta di Indonesia baru dilakukan di dua lokasi, yakni di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan di NTT. Pertimbangannya, umur burung unta dapat mencapai 60-70 tahun dengan berproduksi mulai umur dua tahun hingga 40 tahun dengan rata-rata 50 butir telur per ekor setiap tahunnya.

Dalam peninjauan ke kandang bumng, Presiden sempat berdialog dengan beberapa karyawan penjaga kandang. Bahkan sempat meraba telur yang baru dipungut salah seorang penjaga kandang.

“Senang bekerja di sini?” tanya Presiden kepada karyawan tersebut.

“Senang sekali Bapak.” jawab karyawan tersebut dengan wajah berseri-seri.

Pameran

Setelah mengdilingi kandang burung unta sambil mendengarkan penjelasan rinci tentang proses pemeliharaan hingga proses produksi dari Asrul Sutana, Dirut PT Royal Timor Ostrindo, Presiden langsung mengunjungi pameran ternak sapi rakyat yang berada di pintu masuk arena.

Di lokasi pameran, Presiden berdialog dengan para pemilik ternak. Antara lain Z Tefbana dari Desa Ponaian, N Manane dari Camplong II, JD Manoe dan Th Kapitan dari Oesao serta P Kaseh dari Desa Kotabes. Dialog disaksikan ribuan warga.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (15/10/1996)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 450-451.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.