TINGKATKAN EFISIENSI DAN PRODUKTIVITAS AGAR MAMPU BERSAING

TINGKATKAN EFISIENSI DAN PRODUKTIVITAS AGAR MAMPU BERSAING[1]

 

Jakarta, Antara

Perdagangan Indonesia akan mampu bersaing di pasar dunia yang bebas hambatan jika efisiensi dan produktivitas di sektor tersebut terus ditingkatkan.

“Kita bisa berkiprah di dalam sistem perdagangan bebas dunia atau ‘bebas hambatan’, jika kita mampu bersaing meningkatkan efisiensi dan produktivitas,” kata Wakil Ketua Komisi APBN, Aberson Made Sihaloho kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Menanggapi pidato Kenegaraan Presiden Soeharto di depan Sidang Paripurna DPR masa sidang I tahun sidang 1994/95 yang dipimpin Ketua Dewan, H. Wahono, anggota Dewan ini berpendapat, Indonesia akan bisa berkiprah dalam sistem perdagangan bebas kalau tingkat efisiensi dan produktivitas mencapai standar internasional. Presiden Soeharto dalam pidatonya antara lain mengatakan, titik berat hubungan bangsa-bangsa sekarang telah beralih dari bidang politik ke ekonomi, yang tatanannya diupayakan lebih baik dan lebih adil, antara lain melalui perdagangan dunia yang bebas hambatan. Dengan berhasilnya perundingan-perundingan dalam rangka Putaran Uruguay, dunia memasuki babak baru yaitu babak perdagangan bebas, kata Presiden.

Dalam kaitan ini, Aberson mengharapkan, kemajuan- kemajuan yang telah dicapai sekarang hendaknya tidak hanya dibandingkan dengan tingkat kemajuan yang telah lalu, tapi juga dibandingkan dengan kemajuan yang dicapai luar negeri terutama negara-negara tetangga.

Dia menilai, sarnpai saat ini belurn ada keunggulan di bidang industri termasuk industri barang-barang manufaktur yang bisa diproduksi secara mandiri. “Karena, industri kita pada umumnya bisa dikatakan industri ‘sekedar menjahitkan’, sebab komponen impornya masih cukup dominan”.

Sehubungan dengan itu, dia mengingatkan, dalam rangka rneningkatkan efesiensi dan produktivitas hendaknya tidak mengandalkan tenaga kerja murah, karena hal ini akan menjadi sorotan. Dia juga menyatakan keprihatinannya, jika sektor industri nasional berkembang karena proteksi, misalnya dengan pengenaan pungutan tarif (bea) tertentu.

“Selagi komponen impor kita masih besar, dominan, selama itu kita sulit berkiprah di pasaran internasional,” demikian Aberson.(U.Jkt-001/ 13:30/EU06/RB1/16/08/9413:57).

Sumber: ANTARA (16/08/1994)

______________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 342-343.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.