“47 ORANG MISKIN TIAP MENIT”

“47 ORANG MISKIN TIAP MENIT”[1]

 

Jakarta, Bisnis Indonesia

Presiden Soeharto mengatakan tidak adanya pemerataan dapat menjadi benih kegelisahan sosial yang akan menjadi akar gejolak dan perpecahan sosial.

“Tanpa pertumbuhan, tidak pernah akan ada kesejahteraan yang meningkat.” ujar Presiden Soeharto ketika menerima Tanda Penghargaan dari UNDP yang langsung diserahkan oleh Administrator UNDP James Gustave Speth di Istana Negara, kemarin.

Menurut Presiden, pembangunan bangsa memerlukan stabilitas nasional yang mantap dan dinamis dalam segala segi kehidupan bangsa.

“Dengan stabilitas yang demikian, akan dapat diwujudkan pertumbuhan ekonomi yang memadai yang pada gilirannya dapat diwujudkan pemerataan pembangunan yang berkeadilan sosial, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan meninggikan martabat kemanusiaan.” tutur Kepala Negara.

Menurut dia, pilar penyangga utama pembangunan Indonesia ialah paduan serasi dan dinamis dari stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan yang disebut Trilogi Pembangunan.

“Tanda penghargaan ini memang diberikan kepada saya. Tetapi, saya menganggap penghargaan yang tinggi ini sebenarnya tertuju kepada seluruh bangsa Indonesia yang mulai berhasil mengangkat saudara-saudaranya dari lembah kemiskinan.” ujarnya.

Karena itu, Presiden juga atas nama rakyat Indonesia menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada UNDP. Pemberian tanda penghargaan ini, ujar Kepala Negara, mencerminkan berapa besarnya perhatian UNDP kepada bangsa Indonesia yang sedang giat membangun.

“Kehormatan dan penghargaan ini saya terima dengan segala rasa kebahagiaan dan keharuan yang dalam.”

Menurut Presiden, kemiskinan merupakan masalah besar yang dihadapi bangsa yang sedang membangun di berbagai belahan dunia.

Berdasarkan laporan PBB, dewasa ini terdapat lebih dari 1,3 miliar orang yang hidup miskin di muka bumi, katanya, barisan orang miskin ini terus bertambah besar dengan sekitar 25 juta setiap tahun.

“Hati kita bertambah pedih, karena jumlah tadi berarti jumlah sesama manusia yang miskin bertambah dengan 47 orang setiap menit.”

Rasa pedih itulah, katanya, yang membangkitkan tekad kita semua untuk memerangi kemiskinan.

“Jika jumlah penduduk miskin di dunia terus bertambah, di Indonesia mereka yang miskin malah terus berkurang dari waktu ke waktu.”

Sumber : BISNIS INDONESIA (09/09/1997)

_____________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 433-434.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.