1988-12-06 Presiden Soeharto Menerima Persiden Gambia

Presiden Soeharto Menerima Persiden Gambia [1]

 

SELASA, 6 DESEMBER 1988 Pada jam 17.00 sore ini, Presiden dan Ibu Soeharto menyambut kedatangan Presiden Gambia dan Nyonya N’Jaimeh Jawara dalam suatu upacara kebesaran militer penuh di halaman Istana Merdeka. Kemudian, setelah diperkenalkan dengan para menteri dan pejabat tinggi negara lainnya serta korps diplomatik, Presiden Dawda Kairaba Jawara dan isterinya melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden dan Ibu Soeharto di Ruang Jepara Istana Merdeka. Selama berada di Indonesia sampai hari Minggu pagi, Presiden Gambia dan rombongan antara lain akan meninjau pabrik elektronik PT National Gobel di Jakarta, PT IPTN di Bandung, PT PAL di Surabaya, Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo, dan Bali. Dapat ditambahkan bahwa kunjungan ini merupakan lawatan pertama dari seorang Presiden Gambia di Indonesia.

Malam ini, bertempat di Istana Negara, Presiden dan Ibu Soeharto menyelenggarakan jamuan santap malam untuk menghormat kunjungan kenegaraan Presiden dan Nyonya N’Jaimeh Jawara di Indonesia. Dalam pidato selamat datangnya, Presiden Soeharto antara lain mengatakan bahwa kerjasama Selatan-Selatan yang sering dicanangkan itu perlu diberi makna yang lebih dalam. Betapapun kecil kemampuan yang dimiliki oleh suatu negara, apabila dihimpun secara lebih terpadu, pasti akan menjadi suatu kekuatan yang berguna bagi kebaikan bersama.

Dalam hubungan ini Presiden Soeharto mengajak Presiden Jawara untuk melanjutkan derap langkah yang seirama, dalam batas-batas kemampuan masing-masing, untuk memberi sumbangan bagi terwujudnya suatu Tata Ekonomi Dunia Baru yang benar-benar sesuai dengan tuntutan zaman. Dikatakannya bahwa kita tidak bisa mengharapkan terlalu banyak dari dialog Utara-Selatan yang nampaknya tidak ada kemajuan, bahkan boleh dikatakan telah macet sama sekali.

Kenyataan itu, demikian Kepala Negara, harus meyakinkan semua negara yang sedang membangun, dan Indonesia dan Gambia khususnya, untuk lebih meningkatkan, memperluas dan memperdalam segala bentuk kerjasama, baik bilateral maupun multilateral, serta membuka kesempatan bagi pengembangan selanjutnya. Tekad ini hendaknya dapat dipegang teguh agar kerjasama yang telah dipupuk selama ini benar-benar dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat masing-masing, dalam menyongsong hari esok yang lebih baik. (DTS)

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 21 Maret 1988 – 11 Maret 1993”, hal 99-100. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: Nazaruddin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.