1984-05-28 Menerima PGRI, Presiden Soeharto Minta Para Guru Terus Tegakkan Pancasila

Menerima PGRI, Presiden Soeharto Minta Para Guru Terus Tegakkan Pancasila[1]

SENIN, 28 MEI 1984 Bertempat di Bina Graha, pada jam 10.30 pagi ini Presiden Soeharto menerima Pengurus Besar PGRI. Mereka menghadap Kepala Negara dalam rangka penyelenggaraan kongres PGRI pada tanggal 16-21 Juli yang akan datang. Kongres yang akan berlangsung di Jakarta itu mengambil tema “Meningkatkan peranan PGRI menyukseskan Repelita IV dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan melaksanakan wajib belajar dan pembinaan masyarakat belajar”.

Pada kesempatan itu Presiden mengemukakan bahwa pemerintah selama ini menaruh perhatian yang besar kepada guru guru, mengingat fungsi dan peranannya penting dalam rangka memenuhi kewajiban konstitusional mencerdaskan bangsa. Kehidupan keluarga guru-guru di desa-desa dan di daerah terpencil terus menerus mendapat perhatian, misalnya dengan pemberian beasiswa dari pemerintah atau dari Yayasan Supersemar bagi anak-anak guru di daerah terpencil.

Kepada pimpinan PGRI, Presiden meminta agar organisasi profesi para guru ini berjuang terus menegakkan dan mengamankan Pancasila sebagai ideologi, dasar negara, dan pandangan hidup bangsa secara mumi dan konsekuen. Juga dikatakan oleh Presiden bahwa martabat dan wibawa guru tergantung kepada pribadi guru, sekalipun dalam kebudayaan kita guru sangat dihormati. Diingatkannya bahwa guru adalah orang yang pertama dihormati setelah Tuhan Yang Maha Esa, dan orang tua masing-masing.

Dalam pertemuan itu, Ketua Umum Basuni Suryamihardja, didampingi para pengutus lainnya, Prof. Amran Halim, Dra M Wahyudi, Drs Sudarmadji, Drs WDF Rindorindo, dan AT Sianipar SH. Selain mereka, hadir pula Ketua Penyelenggara Kongres, Achmad Djunaedi. (AFR)

_______________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988”, hal 163. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.