1980-11-28 Presiden Soeharto Tiba di Lahore Dalam Rangka Kunjungan Kenegaraan

Presiden Soeharto Tiba di Lahore Dalam Rangka Kunjungan Kenegaraan

JUM’AT, 28 NOVEMBER 1980 Presiden dan Ibu Soeharto beserta rombongan hari ini meninggalkan tanah air untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke Pakistan dan India, dengan pesawat DC-10 Garuda. Di pelabuhan udara intemasional Halim Perdanakusuma, Presiden Soeharto dan rombongan dilepas oleh Wakil Presiden dan Ibu Adam Malik, para menteri serta korps diplomatik.
Setiba di pelabuhan udara Lahore, Presiden dan Ibu Soeharto disambut oleh Presiden Pakistan dan Begum Zia Ul Haq di tangga pesawat. Sesaat setelah upacara penyambutan kenegaraan, Presiden dan Ibu Soeharto diperkenalkan oleh Presiden dan Begum Zia Ul Haq kepada pejabat-pejabat tinggi Pakistan dan anggota-anggota korps diplomatik. Tampak pula menyambut kedatangan Presiden dan Ibu Soeharto, Duta Besar Indonesia untuk Pakistan, Supriardjo, dan masyarakat Indonesia setempat.
Untuk menghormati kunjungan kenegaraan Presiden dan Ibu Soeharto di negaranya, Presiden dan Nyonya Zia Ul Haq malam ini menyelenggarakan jamuan makan kenegaraan di Lahore. Dalam pidatonya pada acara makan malam tersebut, Presiden Soeharto mengatakan bahwa sebagai dua negara berdaulat yang bersahabat, Pakistan dan Indonesia mempunyai jawaban terhadap masalah-masalah, antara lain dalam hubungannya dengan pembangunan masing-masing negara, dalam hubungan dengan masalah regional di lingkungan masing-masing negara atau dalam hubungannya dengan masalah internasional. Dan mengenai berbagai masalah tersebut perlu adanya pertukaran pandangan dan saling tukar pengalaman, sehingga dapat dicari jawaban yang lebih dalam untuk mengatasi masalah-masalah yang sama-sama dihadapi.
Dalam hubungan ini Presiden Soeharto menekankan pentingya pembicaraan-pembicaraan yang akan dilakukannya selama kunjungan di Pakistan. Dalam hubungan ini, ia mengharapkan kunjungannya di Pakistan kali ini lebih meningkatkan lagi hubungan persahabatan, memperdalam saling pengertian dan memperluas kerjasama antara kedua negara.
Presiden Soeharto mengambil kesempatan itu untuk mengungkapkan keprihatinannya atas terjadinya permusuhan antara Irak dan Iran, dua negara yang merupakan sahabat Indonesia. Dikatakannya bahwa berkelanjutannya peperangan tersebut tidak hanya akan membawa penderitaan kepada rakyat kedua negara, tetapi juga akan mengganggu dan merusak perdamaian dunia. (AFR)

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.