1977-10-03 Presiden Soeharto Bantu Transmigran Luwu, Universitas Syah Kuala dan Berlakukan Pasar Modal

Presiden Soeharto Bantu Transmigran Luwu, Universitas Syah Kuala dan Berlakukan Pasar Modal[1]

 

SENIN, 3 OKTOBER  1977 Bantuan Presiden Soeharto sebesar Rp 57 juta kepada para transmigran di kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, telah disalurkan dalam usaha pengadaan bibit unggul tanaman jangka pendek, tanaman perkebunan, petemakan, perikanan, termasuk biaya survei dan penelitian penanaman bibit. Bantuan tersebut disalurkan melalui Gubemur Sulawesi Selatan dan pelaksanaan kegiatannya diserahkan kepada instansi-instansi yang ada sangkut pautnya dalam pengadaan bibit unggul, sesuai pelaksanaan musim tanam dan kondisi daerah setempat. Demikian penjelasan Kakanwil Transmigrasi Sulawesi Selatan, Hartono Padmowiryono.

Menteri Pertanian Thojib Hadiwidjaja hari ini telah melaporkan hasil peninjauannya dari udara di daerah pertanian di Pulau Jawa dan Madura kepada Presiden Soeharto di Bina Graha. Dalam laporannya dikemukakan bahwa telah terlihat kekeringan di beberapa daerah di. Pulau Jawa dan Madura. Kekeringan yang paling hebat melanda bagian selatan Pulau Jawa, mulai dari daerah Cilacap, Kebumen sampai ke daerah Purwokerto. Oleh karena itu daerah yang mengalami kekeringan tersebut perlu mendapat perhatian khusus. Dalam rangka ini Pemerintah sudah mempersiapkan pengadaan proyek padat karya di daerah-daerah kekeringan tersebut. Dikatakannya pula bahwa masalah kekurangan pangan di beberapa kecamatan daerah Karawang juga telah dilaporkan kepada Presiden Soeharto.

Pemerintah Jepang telah menyetujui untuk membangun pusat-pusat “forging” (untuk pembuat krek-as) dan “foundry” (untuk pembuat blok mesin) guna mendukung pabrik mesin disel Boma Bisma Indra di Surabaya. Demikian antara lain dilaporkan Direktur Ienderal Industri Logam dan Mesin, Ir. Suhartoyo, kepada Presiden Soeharto hari ini di Bina Graha. Menurut rencana pusat forging dan foundry yang akan dibangun oleh pihak Jepang tahun depan itu adalah di daerah Cilegon, Jawa Barat.

Ketika melapor itu, Presiden Soeharto telah memerintahkan kepada Ir. Suhartoyo agar mempercepat pengiriman sepuluh bis untuk angkutan kampus bagi mahasiswa Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh. Suhartoyo mengatakan bahwa kesepuluh bis tersebut paling lambat akan diserahkan pada bulan November mendatang.

Hari ini telah diundangkan dan mulai berlaku Keputusan Presiden No. 52 Tahun 1976 tentang Pasar Modal, yang telah ditandatangani tanggal 27 Desember 1976 yang lalu. Pertimbangan yang mendasar dari dibentuknya Pasar Modal ini ialah untuk mempercepat proses perluasan pengikutsertaan masyarakat dalam pemilikan saham perusahaan-perusahaan swasta menuju pemerataan pendapatan masyarakat, serta untuk lebih menggairahkan partisipasi masyarakat dalam  pengerahan  dan penghimpunan dana untuk digunakan secara produktif dalam pembiayaan pembangunan nasional. Disamping itu juga, Pasar Modal dibentuk untuk efisiensi dan efektifitas usaha pemerintah di bidang pasar modal, baik kegiatan maupun tujuannya. (AFR).



[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978”, hal 545-546. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta, Tahun 2003.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.