1976-03-3 Presiden Soeharto Menerima Memperindag Kanada dan Berhentikan Dirut Pertamina

Presiden Soeharto Menerima Memperindag Kanada dan Berhentikan Dirut Pertamina

(Perdagangan Internasional Harus Persempit Jurang Pemisah Negara Kaya-Miskin )[1]

RABU, 3 MARET  1976, Menteri Perdagangan dan Industri Kanada, Donald C Jamieson, diterima oleh Presiden Soeharto selama satu jam di Cendana pagi ini. Pada kesempatan itu Kepala Negara mengatakan kepada tamunya bahwa pemerintah Indonesia menyambut baik adanya usaha untuk meningkatkan hubungan dagang antar kedua negara, sebab peluang untuk itu memang terbuka lebar. Dalam hubungan ini, Presiden mengharapkan agar para pengusaha Kanada dan Indonesia berusaha untuk mencapai dua sasaran. Kedua sasaran itu adalah, pertama, pengembangan perdagangan itu sendiri. Kedua, peningkatan keahlian pengusaha Indonesia dalam bidang perdagangan internasional.

Oleh karena Kanada merupakan Ketua Konferensi Paris mengenai Kerjasama ekonomi Internasional, pada kesempatan itu pula Kepala Negara mengemukakan harapannya agar konferensi tersebut dapat mempersempit jurang pemisah yang ada sekarang ini diantara negara kaya dan negara miskin. Diharapkannya agar negara-negara yang sedang membangun dan banyak menghasilkan bahan mentah tidak dirugikan didalam perdagangan  internasional, melainkan diberikan hak-hak secara adil.

Hari ini Kepala Negara memberhentikan dengan hormat Letjen.  Dr. Ibnu Sutowo dari  jabatannya sebagai Direktur Utama Pertamina. Bersama dengan Ibnu Sutowo yang juga turut diberhentikan Ir. Trisulo (Direktur Eksploitasi  dan Produksi), Ir. Sudarno Martosewoyo (Direktur Petrokimia), Drs. Judo Sumbogo (Direktur Pembekalan Dalam Negeri), Ir. Wijarso (Direktur Umum), Mayjen Piet Haryono (Direktur Admisistrasi dan Keuangan), Drs. Sukotjo (Direktur Perkapalan), dan Mayjen. Suhardiman (Direktur Pelabuhan dan Pemeliharaan Kapal).

Pemberhentian ini tercantum dalam Keputusan Presiden No. 29/M/1976 yang dikeluarkan hari ini. Untuk menggantikan Ibnu Sutowo, berdasarkan keputusan Presiden No. 30/M/1976 yang juga diterbitkan pada hari ini, telah diangkat Piet Haryono sebagai Direktur Utama.

Dalam rangka meluruskan sejarah, pagi ini bertempat di Jalan Irian, Presiden Soeharto memberikan penjelasan sekitar kelahiran Supersemar. Sebagaimana yang telah diketahui masyarakat, di bekas kediamannya itulah ia menerima Supersemar sepuluh tahun yang lalu. Menurut Kepala Negara, keterangan tersebut diberikannya agar tidak terjadi salah tafsir atau salah pengertian atas kejadian itu, terutama untuk generasi yang tidak mengalaminya sendiri.

Ikut hadir dan menyaksikan penjelasan Jenderal Soeharto hari ini adalah para pelaku yang terlibat langsung dalam proses kelahiran Supersemar yakni Jenderal Amirmachmud (kini Menteri Dalam Negeri), dan Jenderal M Jusuf (kini Menteri Perindustrian). Juga tampak hadir, Menteri Penerangan Boediarjo, Kepala Pusat Sejarah ABRI, Nugroho Notosusanto, dan Asisten Menteri /Sekretaris Negara, G Dwipayana. (AFR)



[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978, hal.343-344.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.