1972-02-14 Presiden Soeharto Pidato di Hadapan Kongres Filipina dan Temui Masyarakat Indonesia

Presiden Soeharto Pidato di Hadapan Kongres Filipina dan Temui Masyarakat Indonesia[1]

 SENIN, 14 FEBRUARI 1972, Pagi ini Presiden Soeharto bersama Presiden Marcos bermain golf di lapangan Istana Malacanang. Kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan tertutup di istana tersebut yang berlangsung selama 40 menit. Tidak ada pernyataan resmi dari kedua belah pihak mengenai pertemuan ini. Akan tetapi kalangan pers menduga bahwa pertemuan itu telah membicarakan persoalan netralisasi Asia Tenggara dan kepentingan bilateral kedua negara Seusai pembicaraan itu, Presiden Soeharto mengunjungi makam pahlawan nasional Filipina, Jose Rizal, dan dilanjutkan dengan peletakan karangan bunga di Taman Pahlawan Filipina.

Selanjutnya Presiden Soeharto menuju ke gedung Kongres Filipina untuk menyampaikan pidatonya. Pada kesempatan itu, Presiden antara lain mengatakan bahwa Indonesia memandang pembangunan tidak hanya semata-mata sebagai pembangunan ekonomi. Sebab, pembangunan ekonomi merupakan salah satu aspek dari suatu proses pembangunan bangsa (nation building). Akan tetapi memang benar, demikian Presiden, dewasa ini Indonesia menempatkan pembangunan ekonomi sebagai salah satu aspek saja dari keseluruhan skala prioritas nasionalnya. Prioritas ini kami pilih, karena bidang ini merupakan mata rantai yang terlemah daripada ketahanan nasional kami. Untuk itu kami berusaha mengerahkan seluruh kemampuan kami, dan kami terus membulatkan ketetapan hati untuk mencapai tujuan nasional dengan prioritas yang kami tetapkan sendiri. Demikian Presiden.

Selanjutnya Presiden menggambarkan tentang kerumitan di kawasan Asia Tenggara. Dikatakannya bahwa munculnya kekuatan-kekuatan besar baru dari bumi Asia sendiri dapat menambah rumitnya keadaan di wilayah ini. Bencana ataupun kebahagiaan yang akan mengisi masa depan Asia harus berada pada tangan rakyat Asia sendiri. Sehubungan dengan masalah itu Presiden menguraikan mengenai nilai-nilai yang melandasi politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Dalam hubungan ini, Presiden mengatakan bahwa “bebas” sebagai pencerminan tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya dan menentukan masa depan di tangannya sendiri, bukan oleh bangsa lain, sehingga dalam melaksanakan politik luar negeri, ia juga tidak mau diikat oleh kekuatan tertentu di dunia ini. “Aktif” sebagai perwujudan hasrat yang tulus untuk ikut memikul tanggungjawab dan melaksanakan kewajiban bersama semua bangsa dalam mewujudkan cita-cita umat manusia yang sama, yaitu perdamaian yang kekal dan kebahagiaan yang merata di bumi ini.

Setelah berpidato di Kongres Filipina, Presiden dan Ibu Tien Soeharto beserta rombongan menuju Nayong Filipino, yaitu suatu taman miniatur Filipina, yang menampilkan rumah-rumah Filipino yang dibangun dalam berbagai bentuk arsitektur. Kesemuanya dibangun dengan mengikuti perkembangan masa selama berabad-abad.

Malam ini Presiden dan Ibu Tien Soeharto mengadakan pertemuan dengan sekitar 200 orang masyarakat Indonesia di Filipina. Pertemuan ini dilakukan di gedung KBRI yang terletak di Forbes Mark, agak di luar kota Manila. Dalam kesempatan ini Presiden menjelaskan tentang persoalan-persoalan yang dihadapi Indonesia dewasa ini dan langkah-langkah yang diambil untuk menghadapinya. Dijelaskan juga mengenai rangsangan-rangsangan yang diberikan pemerintah di dalam rangka meningkatkan industri.

Seusai acara, atas nama masyarakat Indonesia di Filipina, Duta Besar Indonesia memberikan kenang-kenangan kepada Presiden dan lbu Soeharto. Selain itu kaum muslimin Filipina juga memberikan hadiah kepada Ibu Tien Soeharto, berupa payung bermanik-manik. Ibu Tien juga menerima seperangkat tempat penyimpanan perhiasan yang dihadiahkan oleh pramuka Filipina; tempat perhiasan itu terbuat dari kulit kerang. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973”, hal 416. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.